Wednesday, July 24, 2013

Aku Pilih Nama Hari Ahad, kalau Kamu?

1 comments



Oleh : Abdul Wahid
Dalam menentukan nama-nama hari, bangsa Indonesia mengikuti penamaan hari menurut bahasa Arab selain nama hari ahad, sehingga menjadi Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Dalam artikel singkat ini penulis ingin mengupas tentang perbedaan penamaan pada hari pertama dalam satu pekan. Berikut ulasan singkat mengenai hal tersebut.
Sejarah penamaan hari Minggu,
Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, (Dominggo) yang berarti hari Tuhan. Dalam bahasa Melayu kata Domingo dieja menjadi Dominggu. Lalu sekitar abad 19-20, kata ini dieja lagi menjadi Minggu. Berdasarkan kepercayaan umat Kristen bahwa pada hari Minggu Yesus bangkit. Maka, umat kristiani menyebut hari Ahad sebagai hari Minggu. Akan tetapi, umat Islam tidak memercayai hal tersebut. Sehingga umat Islam lebih memilih pemakaian  nama “Ahad” ketimbang “Minggu.”
Sejarah Penamaan hari Ahad,
Ahad dalam bahasa Arab (Islam) yang berarti satu.  Nama-nama hari dalam bahasa Arab (Islam) disebut berdasarkan urutan angka yaitu : ahad (satu), itsnain (dua), tsalatsah (tiga), arba ‘ah (empat), khamsah (lima), sittah (enam), dan sab’ah (tujuh). Khusus untuk hari yang keenam bukan disebut sebagai hari Sittah melainkan disebut secara khusus sebagai hari Jumat. Karena penamaan tentang hari itu sudah diberikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jumat secara berjamaah di masjid.
Mengapa tiap akhir pekan harus libur?
Begini sejarahnya, tradisi libur di hari Ahad itu berasal dari tradisi Romawi Kuno di Italia. Pada saat itu orang Romawi Kuno beribadah di hari Ahad. Oleh karena itu, orang Romawi libur di hari Ahad. Selain itu, orang Romawi selalu menandai hari libur dan hari penting lainnya dengan warna merah. Ketika Kekuasaan Romawi sampai Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan lain- lain. Maka, tradisi libur di hari Ahad kemudian diterapkan di Negara-negara jajahan Romawi. Termasuk Belanda yang kemudian menjajah bangsa Indonesia selama 350 tahun.
Setiap bangsa mempunyai tradisi libur yang berbeda. Bangsa Arab menganggap hari Jumat adalah hari untuk Ibadah sehingga bangsa Arab libur. Lain lagi bangsa Yahudi yang menganggap hari Sabtu adalah hari ibadah, sehingga mereka libur pada hari Sabtu.
Alasan lain mengapa tiap hari ahad libur adalah ketika orang sudah bekerja keras selama 6 hari maka butuh waktu untuk bersantai bersama keluarga. Pemerintah Indonesia menetapkan hari Ahad sebagai libur Nasional. Kalender Negara Kesatuan Republik Indonesia juga mewarnai hari libur nasional lainnya dengan warna merah. Tradisi libur di hari Ahad tetap dipakai di banyak negara sampai sekarang. Termasuk juga menandai tanggal- tanggal penting dengan warna merah.
Namun, mengapa orang Islam di Indonesia lebih cenderung menyebut hari pertama dalam satu pekan ini sebagai hari Minggu ketimbang hari Ahad. Mengapa demikian?
Jawabannya hanya satu. Yaitu umat Islam belum mengetahui tentang arti kata Minggu itu sendiri. Maka, setelah membaca tulisan ini dan berawal dari diri kita sendiri. Marilah kita memulai untuk menggunakan kata hari Ahad ketimbang kata hari Minggu.

Wednesday, July 17, 2013

Ramadhan dan Qur’an

0 comments
Oleh: Novitasari Mustaqimatul Haliyah

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak, puasa berkata, “Rabbku! Aku menahannya dari makanan dan minuman pada siang hari, “ dan Al-Qur’an berkata, “Aku menahannya dari tidur pada malam hari maka izinkanlah kami jadi syafaat untuknya.” (HR. Ahmad:2/174)
Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi setiap muslim, bulan yang selalu di nanti-nanti. Namun, jangan hanya sekedar di nanti-nanti kedatangannya lantas disia-siakan begitu saja tanpa ada aktivitas bermakna di dalamnya. Ramadhan tidak sekedar agenda puasa menahan dahaga dan lapar saja, tetapi di dalamnya harus diisi dengan ibadah-ibadah yang lainnya, seperti tilawatil Qur’an.
Puasa itu membawa pelaksananya pada ketakwaan seperti yang telah difirmankan-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 183, yang artinya, “ Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Orang yang takwa pastilah memahami makna surga dan neraka maka dapat mengejar kebaikan dan meninggalkan keburukan. Alangkah baiknya di bulan Ramadhan nan berkah ini, kita mempunyai target dalam membaca Al-Qur’an.
Sahabat  Nabi dan Salafus salih ketika ramadhan mereka selalu bercumbu mesra dengan Al-Qur’an. Imam Malik contohnya, pada saat Ramadhan, keinginannya hanya satu, yaitu Al-Qur’an. Imam Syafi’i, tiap dua hari sekali mengkhatamkan Al-Qur’an. Tidak hanya sekedar membaca Al-Qur’an tetapi mereka pun memahami arti dan maknanya juga menghafalkannya. Subhanallah, itulah teladan yang harus kita contoh.

Di negeri para nabi sana, di bulan ramadhan orang-orang selalu berada dekat dengan Al-Qur’an. Tangannya selalu menggenggam Al-Qur’an di manapun mereka berada, di dalam bus, di halte, di rumah, di masjid, kantor. Mereka membaca Al-Qur’an dengan khidmat dan khusyuk meski di dalam keramaian. Masya’allah, lagi-lagi kita mendapat tauladan yang baik yang harus kita contoh. Semoga kita diistiqomahkan dalam beribadah kepada-Nya, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi di bulan-bulan selanjutnya.

Menghidupkan Semangat Rabbani bukan Ramadhani

0 comments
Beni Dahlan
(Swastamandiri accounting School -- Al Es’af Special Program/Peserta Lomba Mading ESR)



“ciiiiit, duuarr!!”  sebuah kecelekaan terjadi di Jalan Solo-Wonogiri tepat satu hari sebelum ramadhan tahun lalu. Setengah badan jalan tertutup bis yang mengalami lepas kendali setelah salah satu ban depan pecah. Malangnya seorang pengendara motor yang melintasi jalan itu terjepit di bawah, meninggal seketika.
innalillahi wa inna ilaihi roji’un” gumamku dalam hati. Hati ini tersentak, membayangkan jika sosok yang bersimbah darah itu adalah diri ini, diri yang masih merasakan compang-camping keimanan. Menghela nafas panjang, “Aah, sungguh beruntungnya diri seseorang yang ditakdirkan mampu berjumpa kembali dengan Ramadhan.”

Mati, itu suatu hal yang pasti terjadi. Tak soal apakah ia masih belia ataupun tua. Karena sakit menahun maupun kemarin masih sehat bugar terbangun. Sungguh tak ada yang menduga kedatangannya. Boleh jadi beberapa tahun lagi atau bahkan dalam hitungan detik dari sekarang.

Sebuah pesan disabdakan oleh Rasullah SAW yang diabadikan oleh Imam Tirmidzi dalam Jami’ at Tirmidzi.  “Tidak ada yang dapat menolak ketentuan Allah Ta’ala selain do’a dan tidak ada yang dapat memperpanjang umur seseorang kecuali perbuatan baik (yang mengenangkan)”. Do’a adalah senjata orang beriman, sehingga do’a mampu ‘merubah’ dari suatu ‘takdir’ tidak baik menuju takdir yang lebih baik. Oleh sebab itulah Rasulullah SAW mengajarkan do’a untuk kita “Allohumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighnaa romadhon” “Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (usia) kami untuk berjumpa pada Romadhon.” Karena tidak ada jaminan kita masih dapat menjumpai Ramadhan.

Hingga banyak kita jumpai potret adat kebiasaan generasi salaf, setiap setengah tahun pasca romadhon mereka tak pernah melupakan do’a agar amalan mereka diterima oleh Alloh SWT, dan setengah tahun berikutnya, mereka berdo’a agar dapat menjumpai kembali bulan penuh keutamaan. “duhh begitulah potret Generasi luar biasa, terasa jauh dari jangkauan kita.”

Jika tabir kematian itu masih dirahasiakan, lantas apakah kita yakin bahwa kita masih memiliki kesempatan kembali berjumpa dengan Ramadhan? Lalu jika kita telah dikaruniakan oleh Alloh SWT untuk dapat bersua, lantas, apakah yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya?

Mungkin sebuah kesempatan di hari ini mampu kita syukuri dan renungi bahwasanya kematian itu selalu mengintai di setiap saat, selalu membayang di setiap langkah kaki. Oleh sebab itu, jadikan hari ini menjadi sebaik-baik persiapan dalam menyongsong lembaran-lembaran di bulan penuh berkah.

Tidak hanya itu rahmat Alloh SWT, ampunan Alloh SWT dan do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Alloh SWT senantiasa didengar di setiap lembaran hari hidup kita di luar bulan Ramadhan. Karena setiap hari pintu taubat terbentang luas. Kasih sayang mengucur tiada batas. Jadi tidak ada alasan untuk ‘menyimpan’ amunisi semangat hanya di bulan Ramadhan, sehingga menjadikan sisa hari menjelang ramadhan sebagai ajang istirahat ‘menimbun’ semangat, karena setiap harinya reward Alloh SWT masih menggunung tinggi, pintu Jannah menganga.

Maka optimalkan hari-hari menjelang Ramadhan ini dengan tetap memacu dan melaju dalam kebaikan. Karena keinginan kita adalah menjadi Hamba Rabbani bukan Hamba ramadhani.
Wallohu a’lam bish showab




Beni Dahlan
09010031/Swastamandiri accounting School -- Al Es’af Special Program


Tuesday, July 16, 2013

AGENDA BESAR SKI FSSR RAMADHAN

0 comments

KISAH PUASA SEORANG AWAM

0 comments
Oleh: Andika Wahyu Nugroho
(Peserta Lomba Mading Edisi Spesial Ramadhan)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu oleh umat muslim karena pada bulan itu begitu banyak rahmat Allah, umat muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah. Pada bulan ramadhan kita umat muslim diwajibkan berpuasa, serta kita harus memperbanyak ibadah, tetapi bagaimana  dengan orang awam yang tidak terlalu mengerti tentang Islam walaupun dia beragama Islam? Ini adalah sebuah kisah dimana seorang yang tidak pernah mendalami Islam berpuasa.
Sebut saja dia Wahyu, dia bersal dari keluarga muallaf yang masih cukup awam dengan pengetahuan Islam. Setiap bulan ramadhan tiba rasa bahagia yang muncul adalah rasa bahagia karena banyak makanan enak yang di buat oleh ibunya. Dalam sholat pun si Wahyu masih suka bolong-bolong, sering dia ketika terasa lapar diam-diam mengambil makanan dirumah. Ketika mau sahur dia bangun dengan malas, bahkan terkadang dia tidak bangun dan bahkan tidak sholat subuh. Diajak mengaji selalu beralasan, begitulah bagaimana dia menjalani bulan ramadhan sehari-hari
Bulan Maret 2012 wahyu berkenalan dengan seorang muslim yang taat yang mulai mengubah dirinya, dia mengajari Wahyu bagaimana islam itu. Dari situ wahyu mulai tahu bagaimana Islam seharusnya. Wahyu mulai berubah, dia mulai mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Bulan Ramadhan 2012, Wahyu mulai merubah kehidupanya, dia mulai menjalankan ibadah dengan istiqomah. Semoga pada bulan ramadhan ini Wahyu semakin semangat di jalan Allah.


Untuk berubah memang sulit, terkadang kesadaran diri pun belum cukup untuk membuat seseorang bergerak menuju perubahan. Tetapi bantuan Allah selalu datang dari arah yang tidak terduga. Percayalah jika Allah selalu menyayangi umat-Nya.

SKI On The Road 2013

0 comments
Oleh: Novitasari Mustaqimatul Haliyah

Sabtu (13/7), SKI FSSR mengadakan buka bersama di Panti Wreda Aisyah yang bertempat di Sumber, Surakarta. Agenda ini merupakan agenda rutin tahunan SKI FSSR pada bulan ramadhan. Tidak seperti namanya "SKI On The Road", agenda buka bersama ini pada ramadhan kali ini memang tidak diadakan di jalanan tetapi di sebuah panti jompo. 
Pukul 14.00 WIB, para squad SKI FSSR sudah bersiap-siap juga mengadakan brifing pelaksanaan agenda di TKP nanti. Ba'da asar mereka langsung menuju ke TKP. Alhamdulillah, sesampainya di Panti tersebut kami disambut dengan hangat oleh seluruh penghuni panti. Wajah-wajah senja yang tampa seperti mentari di pagi hari yang menghangatkan hari yang terlampau dingin. Subhanallah, kami takjub.
Acara dibuka, dilanjutkan sambutan oleh ketua SKI FSSR dan Pengurus Panti. Setelah itu, tiba saatnya acara kajian yang disampaikan oleh ustadz Sukarno. Kajian berlangsung sangat khidmat. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara nenek-nenek yang menyeletuk ingin bertanya. Masya'allah, rasa ingin tahunya masih menggebu walau usia sudah tidak lagi muda.
Adzan pun berkumandang, artinya adalah waktu berbuka puasa. Tibalah acara inti agenda "SKI On The Road". Kami membagikan takjil dan makan besar kepada seluruh penghuni panti tersebut. Mereka menerimanya dengan wajah berseri-seri. Masya'allah, hanya seperti itu saja sudah membuat hati mereka bahagia, semoga kami bisa memberi lebih di kemudian hari. Aamiin.
Acara pun dilanjut dengan sholat berjamaah, nenek-nenek itu berebut wudhu. Lagi-lagi ya Allah, izinkan kami berdzikir menyebut asma-Mu. Subhanallah, semangat mereka untuk beribadah pada-Nya masih saja membara.

Selalu ada hikmah di balik semua. Harusnya kita, generasi muda tidak boleh kalah dibandingkan dengan nenek-nenek itu dalam apapun. Semangat mereka saja masih membara dalam mendekatkan diri pada Allah SWT, kita???



Saturday, July 13, 2013

Doa Harian Bulan Ramadan

0 comments
Oleh: Ustadzah Dwisusi Wardani

doa hari ke- 1
Ya Allah jadikanlah puasa dan ibadahku di bulan ini seperti puasa orang2 sejati, bangunkanlah aku dari kelalaian dan ampunilah segala kesalahanku, wahai Robbul'alamiin..Maha Pengampun orang2 yg berdosa

doa hari ke -2
Ya Allah dekatkanlah aku di bulan ini dengan keridhoanMU.
Hindarkanlah aku di bulan ini dari kemurkaanMU.
Dan anugerahkanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk dapat mentadaburri ayat2 kitabMU dengan curahan rahmat dan hidayahMU, wahai Dzat Yang Maha pengasih dari para pengasih

Doa hari ke- 3
Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini kecerdasan dan kesadaran diri, jauhkanlah aku di bulan ini dari ketololan dan kesesatan, dan limpahkanlah kepadaku sebagian dari setiap kebajikan yang Engkau turunkan di bulan ini dengan kedermawananMu, wahai Dzat Yang Maha Dermawan dari para dermawan.

doa hari ke-4
Ya Allah, kuatkanlah diriku di bulan ini untuk melaksanakan perintah2MU, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini kemanisan dalaem mengingatMu.
Dengan KemurahanMU, berikanlah kepadaku di bulan ini kesempatan untuk bersyukur kepadaMU.
Ya Allah, jagalah aku denga penjagaanMU dan tiraiMU, wahai Dzat Yang Maha Melihat dari orang2 yg melihat

doa hari ke -5
Ya Allah, jadikanlah aku di bulan yang mulia ini termasuk golongan orang2 yang memohon pengampunanMU.
Jadikanlah kami di bulan ini termasuk golongan orang2 yg sholih dan berserah diri kepadaMU.
Dan jadikanlah aku di bulan initrmasuk kedalam golongan kekasihMu yang selalu merasa dekat denganMU, dengan anugerah kasihsayangMu wahai Dzat yang lebih pengasih dari
para pengasih.

Friday, July 05, 2013

Aku Dalam Penantianmu

0 comments
  Oleh: Hanifah Hikmawati
Fajar menyingsing, burung-burung menatap tajam pada tikungan jalan. Ya, mereka menanti buih sejuk dari Ramadlan nan tenteram. Bertengger di atas daun kemuning kala dhuha menggema. Sayap-sayapnya mengelu-elukan kehadiran bulan suci itu. Matanya seolah menyala. Berbinar memenuhi relung sangkarnya. Entah waktu yang mana mereka menyenandungkan kerinduannya kepada sang Esa. Terbang tinggi menggelantung di awan. Menggapai ridla Illahi.
Lalu ketika adzan menggelegar saat matahari menyulutkan teriknya, pepohonan itu memberi keteduhan terhadap burung-burung yang selalu berkicau. Pepohonan itu merindukan senandung firman-Nya. Menanti kabar gembira kapankah ramadlan kembali tiba. Yang selalu membuat mereka hijau. Pepohonan itu memang rindu, sangat rindu akan bulan suci.
Syams memberikan sinarnya di balik bumi yang menatap matanya. Kemudian Qamr memberikan sorot sinar kepda bumi yang membelakanginya. Keduanya ialah ciptaan Malik. Keduanya selalu menantikan ramadlan.
Rerumputan yang bergoyang diseduh angin itu melambangkan ketajaman pilu yang 11 bulan menanti kehadiran bulan suci kembali. Bebatuan pun demikian. Menantikan diri mereka menjelma warna putih untuk mereka berganti pakaian di bulan ramadlan. Meneguhkan jiwa kepada ketentuan-Nya.
Sementara aku, selalu membuka jendela pagi hari, menikmati hilir mentari yang pelan tenggelam dalam mata. Aku selalu merasakannya dan akan selalu merindukannya.
Kusayangi selalu hari-hari pagi yang baik yang menyapa setelah sebelumnya gelap. Firman-firman-Nya selalu kujadikan mahkota untukku menerima segala cinta. Mungkin aku telah haus. Lalu, aku berdo’a kepada-Nya agar aku bertemu kepada bulan suci. Rasa haus ini hanya terobati dengan panjatan-panjatan kepada-Nya yang Maha Kuasa. Cinta-Nya takkan mungkin luruh, takkan lumpuh. Dialah yang menghidupkan kita, dan semoga kita berjumpa pada bulan suci di tahun 2013 ini.