Tuesday, October 08, 2013

Seni dalam Pandangan Islam

0 comments


Oleh : Muhammad Reza Santirta

Berbicara tentang seni tentu tidak lepas dari keindahan. Keindahan adalah apa yang lihat menimbulkan rasa senang. Kesan yang timbul adalah kepuasan batin akibat mengindera apa yang tampak itu adalah sesuatu yang estetik. Misal: bila kita melihat pemandangan di daerah pegunungan dengan bukit-bukitnya dan lembah-lembahnya yang bewarna hijau. Hal ini tentunya membuat diri kita merasakan kesenangan dan kepuasan batin.
Berbeda bila kita melihat hal-hal yang menimbulkan dosa. Meskipun hal ini adalah keindahan namun adakalanya hal ini menjerumuskan kita kepada kemaksiatan. Misalnya bila kita melihat wanita yang buka muhrim apalagi istri. Jika tidak diikat dengan ikatan resmi dalam lembaga pernikahan maka hukumnya haram.Tentunya menikah itu membuat kita mampu menjaga pandangan kecuali kepada istri kita.
Kalau kita mengamati dunia seni tentu saja kita mengamati sesuatu yang estetik. Keindahan ini tampak juga melalui respon indera kita. Kita tentunya memiliki beberapa indera yang berfungsi merespon hal-hal yang ada di luar. Seperti mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit. Mata akan melihat sesuatu yang bersifat visual seperti patung. Lidah akan menunjukkan keindahannya berupa seni sastra dan musik. Kemudian gerak akan menimbulkan efek estetik berupa seni tari dan teater.
Kalau kita mengamatinya dalam kaca mata Islam tentu ada beberapa hal yang sangat penting berkaitan dengan syariat dalam berkesenian. Islam dengan segala aturannya berfungsi menata urusan umat manusia baik muslim maupun non-muslim. Islam dengan segala ajarannya mengajak umat manusia kepada tauhid yaitu mengimani dan takut pada Allah Swt.
"kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah syariat itu, dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. 45/211-Jatsiyah: 18).
Hal ini juga tampak dalam syariat menyangkut seni. Kesenian dalam Islam memiliki beberapa hal yang sangat penting. Menurut Al-Farabi, seni sebagai ciptaan yang berbentuk keindahan. Menurtunya dapat dijelaskan bahwa seni berkaitan dengan aktivitas yang menimbulkan efek keindahan. Al-Ghazali pula menjelaskan seni dengan maksud kerja yang berkaitan dengan rasa jiwa manusia yang sesuai dengan fitrahnya. Fitrah disini adalah sifat khas yang ada pada manusia yang tidak mungkin berbeda karena diberikan oleh Allah SWT. Hal ini tampak pada sifat manusia yang ingin mengekspresikan diri melalui kesenian.
Menurut Islam, daya kreatif dalam seni adalah dorongan yang diberikan oleh sebagai bantuan untuk ‘memeriahkan’ kebesaran Allah. Berseni haruslah bermatlamatkan kepada perkara-perkara makruf (kebaikan), halal, dan berakhlak. Jiwa seni harus ditundukkan kepada fitrah asal kejadian manusia kerana kebebasan jiwa dalam membentuk seni adalah menurut kesucian fitrahnya yang dikaruniai Allah Swt. Fungsi seni hampir sama dengan akal yaitu agar manusia menyadari kaitan antara alam, ketuhanan, dan fisik. Hal ini tentunya jelas karena seni merupakan refleksi kita dengan lingkungan sekitar. Termasuk juga dengan seni sastra yang dalam tulisannya juga merespon keadaan sosial di sekitar.

Kuas Pena SKI FSSR

0 comments

Kuas Pena SKI FSSR UNS Solo
Nglurah, Tawangmangu, Sabtu-Ahad, 28 - 29 September 2013

Wednesday, September 25, 2013

AGENDA-AGENDA SKI FSSR UNS

0 comments
DUSUN BINAAN SONO, SRAGEN
Asyiknya berpetualang bersama anak kecil.
Belajar dan mengajarkan Al-Qur'an.

FORKAT 2012
Alhamdulillah, akhirnya forum angkatan 2012 terbentuk atas kerja keras kita semua, terutama bidang Kaderisasi.
SEMANGAT! ^_^

KUNJUNGAN KMIB UGM
Semoga nambah ukhuwah dan saudara.

KUNJUNGAN PANTI JOMPO
Bersama embah-embah akhwat yang energik


RHL

Masa Tak Tergantikan!

0 comments
Novitasari Mustaqimatul Haliyah

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Marilah sejenak merenungi ayat demi ayat yang tersaji indah dalam untaian kata surat cinta-Nya, Al-‘Asr.
Ketika kita tidak mampu mengatur waktu dengan baik, maka akan sangat dekat dengan kebinasaan. Waktu ibarat samurai, yang dapat menjadi senjata namun terkadang juga ia bisa melukai diri kita sendiri. Tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Manusia telah dikaruniai Allah SWT waktu 24 jam per hari. Akan tetapi betapa sia-sianya ketika waktu itu tidak digunakan untuk hal-hal yang positif. Justru kita terlena ketika memiliki waktu luang, kita seenaknya berleha-leha, berpangku tangan. Waktu luang merupakan sebuah kenikmatan, namun sering dilupakan. Benar yang dikatakan Rasulullah ratusan tahun yang lalu, “Dua macam kenikmatan dari nikmat-nikmat Allah, kebanyakan umat manusia merugi padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Waktu luang harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, jangan sampai kosong selamanya. Barangsiapa tidak menyibukkan dirinya dalam kebenaran, tentulah ia akan disibukkan dalam kebatilan.
Kata Imam Al-Ghozali'
Yang Singkat Itu "WAKTU". Yang Menipu Itu "DUNIA". Yang Dekat Itu "KEMATIAN". Yang Besar Itu "HAWA NAFSU". Yang Berat Itu "AMANAH"Yang Sulit Itu "IKHLAS". Yang Mudah Itu "BERBUAT DOSA". Yang Susah Itu "SABAR". Yang Sering Lupa Itu "BERSYUKUR".Yang Membakar Amal Itu "GHIBAH". Yang Mendorong Ke Neraka Itu "LIDAH".  Yang Berharga Itu "IMAN". Yang Menenteramkan Hati Itu "TEMAN SEJATI". Yang Ditunggu Allah SWT. Itu "TAUBAT".

Renungan:
Berapa waktu yang kita gunakan untuk mengingat Allah? Semenit, dua menit, sejam dua jam? Atau tidak sama sekali? Atau mengingat Allah hanya ketika ada panggilan untuk sholat? Sedangkan berapa lama waktu untuk mengingat yang lain, berangan-angan yang tidak menentu? Lebih banyakkah? Padahal ketika kita mengingat Allah di waktu luang, maka Allah akan mengingat kita di waktu sempit.
Seberapa banyak intensitas kita dalam membaca atau menghafalkan Al-Qur’an dibanding membuka dan membaca situs jejaring sosial? Seberapa sering kita mengadu pada Allah atas apa yang menimpa diri kita? Lebih suka mencurahkan semuanya pada Allah ataukah curhat di status jejaring sosial? Update status galau, dan menebarkan virus-virus negatif kepada para muslim yang lain. Niatnya berdakwah aktif, namun tak disangka yang tercetus dan tertulis hanyalah status melankolis. Harusnya kita jadi muslim inspiratif yang memanfaatkan waktu dan segala anugerah Allah dengan lebih positif, kreatif dan inovatif, bukan malah menginspirasi dalam hal negatif-provokatif.
Waktu begitu cepat berlalu, berputar bak roda yang melaju kencang, menerjang segala halang-rintang. Waktu adalah anugerah Allah yang Mahakuasa, yang akan sia-sia jika tak dipergunakan dengan hal-hal yang penuh manfaat. Waktu kencang melaju, tak kan pernah kembali ke masa lalu. Waktu melenakan qalbu, mampu membuat semuanya tersipu malu, enggan memutar semua memori kelabu masa dulu. Ia terus melaju, melaju, dan melaju tanpa mau menengok ke belakang dahulu. Jika saatnya ia berada pada garis finis, maka pemiliknya akan merasakan manis atau pahitnya perbuatan dulu ketika waktu masih berada pada peraduannya.

“Ya Allah, jadikanlah akhir umurku sebaik-baik umur, akhir amal perbuatanku sebaik-baik amal dan sebaik-baik hariku hari pertemuanku kepada-Mu.”

Akhwat Keren VS Akhwat Keren

0 comments
(Novitasari Mustaqimatul Haliyah)
Sebelum membahas mengenai akhwat keren dan akhwat keren (baca: tertinggal), mari kita menilik sejenak perkembangan wanita di zaman globalisasi ini. Tentunya kalian pernah lihat televisi atau mungkin bahkan sering. Di Indonesia televisi merupakan sumber hiburan utama bagi masyarakat Indonesia. Namun, apa yang ditampilkan dalam televisi-televisi tersebut? Kebanyakan media televisi tersebut mengeksploitasi wanita, seolah wanita merupakan barang dagangan dan umpan sebagai pelaris produk barang yang akan dipromosikan.
Wanita merupakan sebuah kunci. Ada pepatah yang mengatakan bahwa di samping lelaki yang perkasa, ada wanita yang perkasa pula. Adapun di sampang laki-laki yang keji, ada wanita yang keji. Hal seperti ini telah dikabarkan dalam surat cinta-Nya QS. An-Nuur: 26, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”
Mungkin ini yang menyebabkan mengapa wanita bisa disebut sebagai sebuah kunci. Ya, sebuah kunci. Kunci keberhasilan atau pun sebagai kunci perusak.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Imraan: 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Dalam firman Allah tersebut, wanita disebutkan pada urutan pertama. Ini membuktikan bahwa wanita adalah perhiasan dan pengendali. Ayat tersebut juga diperjelas dengan sebuah hadits riwayat Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun setelahku yang lebih membahayakan kaum lelaki daripada kaum wanita (Imam Muslim).
Saatnya kita merenung bahwa sejatinya kita adalah seorang wanita atau seorang akhwat yang mempunyai peranan yang sangat besar untuk mengubah segalanya. Maka, ketika kita telah ditakdirkan menjadi seorang akhwat di zaman globalisasi ini tantangan dan ujian pun menjadi lebih besar. Pengaruh feminisme bertebaran di mana-mana, hanya akhwat-akhwat yang keren saja yang mampu memegang teguh syariat Islam yang dibawa oleh Rasul kita tercinta.
Akhwat keren tidak terpengaruh oleh zaman yang mengikis moral, ia selalu berupaya menjaga izzah atau kehormatan dirinya, akhwat keren adalah akhwat yang berkontribusi aktif untuk dakwah Islamiyah, akhwat keren adalah akhwat yang istiqomah menuntut ilmu agama dan mengamalkannya, serta akhwat keren akan senantiasa menjadi sumber perubahan ke arah yang lebih cerah. Sebaliknya, akhwat keren (baca: tertinggal) adalah akhwat yang terombang-ambing oleh zaman, yang rela menggadaikan izzahnya demi terpenuhi hawa nafsunya, akhwat yang hanya diam dalam menegakkan syariat Islam, rajin menuntut ilmu tetapi malas untuk mengamalkan.
Sebagaimana mestinya, kita adalah makhluk yang diciptakan oleh-Nya dan mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi. Maka semestinya kita harus menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya, menjadi akhwat yang keren dan bukan menjadi akhwat yang keren (baca: tertinggal), menjadi partner sejati ikhwan keren pula dalam mengemban dakwah ini.
Ad-dunya mata’, khoirul mata’ al mar’atus sholihah. Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah wanita sholihah. Akhwat keren, akan selalu mengingat hadits ini dan berusaha menjadi wanita shalihah. Tidak terpedaya oleh dunia tetapi hatinya senantiasa mencintai-Nya. Bibirnya basah dengan dzikir, wajahnya cerah dengan basuhan air wudhu, matanya berkilau karena airmata yang mengalir di setiap sujudnya, tangannya ia gunakan untuk sedekah, kakinya ia gunakan untuk melangkah dalam dakwah, jiwa dan raganya ia serahkan hanya pada-Nya semata. Itulah akhwat keren yang senantiasa dicari sampai ke ujung dunia sekalipun.

http://himmaaliyahsk.blogspot.com/2013/09/akhwat-keren-vs-akhwat-keren.html

Tuesday, August 06, 2013

Komik "Puasa Itu..."

1 comments

Romadhon Tanpa Bidadari

0 comments
Oleh : Nisa Asy-Syifa
(Pemenang Lomba Mading ESR)

Bakda sholat Isya malam ini terasa lebih indah. Langit begitu anggun dengan hiasan bintang. Seolah ingin menyampaikan isyarat lafadz tasbih, takbir dan tahmid atas segala keagungan sang pencipta semesta yang bertahta dalam singgasana arsy. Ayah sedang menata dagangan sisa jualan di pasar tadi pagi. Kedua adikku yang tengah duduk di  TK dan kelas 3 SD tengah bermain di ruang tamu. Sedang aku sendiri masih termenung memandang kalender mini yang bersandar di dinding kamarku. Malam ini adalah malam pertama bulan romadhon di tahun ini. Esok hari semua umat muslim wajib menunaikan puasa. Malam ini juga tepat empat bulan yang lalu Ibu memenuhi panggilan sang Khaliq. Allah lebih menyayangi beliau melalui penyakit radang paru-paru. Inilah bulan romadhon pertama yang dilalui oleh keluargaku tanpa kehadiran Ibu. Rumah ini pun terasa begitu dingin tanpa kehangatan senyum dan teh manis nan hangat yang selalu tersaji di meja menemani belajarku, adik-adik serta Ayah. Saat malam hari di bulan romadhon seperti ini, setelah sholat Isya, Ibu sibuk didapur menyiapkan bahan makanan yang akan di masak esok hari untuk makan sahur keluarga. Namun, malam ini dapur pun terasa hampa, tiada lagi harumnya adonan tepung ketan yang di pan, karena Ibu tahu adik-adiku sangat susah jika makan sahur langsung makan nasi, maka dengan segala kelihaiannya beliau membuatkan kue-kue yang bisa mengawali makan sahur keluarga. Allah, betapa kerinduan mengelayuti hati ini akan kehadiran sosok wanita itu. Jadikan ia bidadari surga-Mu dan pertemukan keluarga kami kembali di jannah-Mu kelak. Lambat laun ingataku tentang Ibu mulai terasa samar. Kepalaku mulai terkulai di meja belajar. Rasa kantuk yang begitu nyaman mulai membawaku ke alam bawah sadar.
            Saat aku  mulai kembali sadar, kukejap-kejapkan mataku. Pendengaranku mulai mengawali aliran respon ke seluruh saraf otak. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari masjid yang jaraknya 100 meter dari rumah. Segera kulihat jam. Allahu Akbar! Pukul empat lebih lima menit. Dengan segera kubangunkan Ayah dan adik-adik. Syukur nasi kemarin sore ternyata masih sisa, cukup untuk makan sahur. Telur ceplok dengan bumbu garam dapur cukuplah untuk menemani nasi putih yang dingin. Ayah membuat teh hangat. Meski airnya dari termos dan tidak begitu panas karena tidak ada waktu lagi untuk merebus air, tapi bisalah untuk melarutkan gula sehingga airnya terasa manis. Nasi, telur ceplok, dan teh hangat telah siap di meja. Namun, adikku yang paling bungsu hanya diam memandangi meja makan tanpa sepatah katapun.
“Dik, ayo segera makan sahur, apa perlu mas Hamdan ambilkan. Nanti kalau tidak segera makan keburu adzan subuh loh.”
“Mas, kok sahur kita tidak seperti dulu lagi ya. Andai Ibu masih menemani kita, belum menjadi bidadarinya Allah, pasti sahur kita tidak seperti ini. Mas, Allah pasti sangat senang ya, saat ini ditemani oleh Ibu.

Air mata yang siap mengalir di pelupuk mataku tidak dapat terbendung lagi. Meski selama ini aku selalu ingin terlihat tegar dan berusaha untuk tidak menangis di hadapan Ayah dan adik-adik saat Ibu telah tiada, namun kata-kata polos dari adik bungsuku telah membuncahkan kerinduanku kepada Ibu. Aku selalu mengatakan bahwa Ibu sekarang telah menjadi bidadari Allah kepada adik bungsuku, saat ia mulai merenggek ingin bertemu Ibu. Ia masih kecil, begitu polos, dan belum mengerti apa hakikat kematian. Aku peluk adik bungsuku erat-erat. Ayah, kulihat tampak tertunduk mencoba menyembunyikan air matanya meski bagiku itu sia-sia. Inilah romadhon pertamaku tanpa Ibu. Allah, di bulan mulia ini kukirimkan doa terindah untuknya. Di bulan romadhon pertama tanpa kehadirannya ini pula, jadikan aku dan adik-adik sebagai simpanan amalan sholeh untuknya. 

Wednesday, July 24, 2013

Aku Pilih Nama Hari Ahad, kalau Kamu?

1 comments



Oleh : Abdul Wahid
Dalam menentukan nama-nama hari, bangsa Indonesia mengikuti penamaan hari menurut bahasa Arab selain nama hari ahad, sehingga menjadi Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Dalam artikel singkat ini penulis ingin mengupas tentang perbedaan penamaan pada hari pertama dalam satu pekan. Berikut ulasan singkat mengenai hal tersebut.
Sejarah penamaan hari Minggu,
Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, (Dominggo) yang berarti hari Tuhan. Dalam bahasa Melayu kata Domingo dieja menjadi Dominggu. Lalu sekitar abad 19-20, kata ini dieja lagi menjadi Minggu. Berdasarkan kepercayaan umat Kristen bahwa pada hari Minggu Yesus bangkit. Maka, umat kristiani menyebut hari Ahad sebagai hari Minggu. Akan tetapi, umat Islam tidak memercayai hal tersebut. Sehingga umat Islam lebih memilih pemakaian  nama “Ahad” ketimbang “Minggu.”
Sejarah Penamaan hari Ahad,
Ahad dalam bahasa Arab (Islam) yang berarti satu.  Nama-nama hari dalam bahasa Arab (Islam) disebut berdasarkan urutan angka yaitu : ahad (satu), itsnain (dua), tsalatsah (tiga), arba ‘ah (empat), khamsah (lima), sittah (enam), dan sab’ah (tujuh). Khusus untuk hari yang keenam bukan disebut sebagai hari Sittah melainkan disebut secara khusus sebagai hari Jumat. Karena penamaan tentang hari itu sudah diberikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jumat secara berjamaah di masjid.
Mengapa tiap akhir pekan harus libur?
Begini sejarahnya, tradisi libur di hari Ahad itu berasal dari tradisi Romawi Kuno di Italia. Pada saat itu orang Romawi Kuno beribadah di hari Ahad. Oleh karena itu, orang Romawi libur di hari Ahad. Selain itu, orang Romawi selalu menandai hari libur dan hari penting lainnya dengan warna merah. Ketika Kekuasaan Romawi sampai Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan lain- lain. Maka, tradisi libur di hari Ahad kemudian diterapkan di Negara-negara jajahan Romawi. Termasuk Belanda yang kemudian menjajah bangsa Indonesia selama 350 tahun.
Setiap bangsa mempunyai tradisi libur yang berbeda. Bangsa Arab menganggap hari Jumat adalah hari untuk Ibadah sehingga bangsa Arab libur. Lain lagi bangsa Yahudi yang menganggap hari Sabtu adalah hari ibadah, sehingga mereka libur pada hari Sabtu.
Alasan lain mengapa tiap hari ahad libur adalah ketika orang sudah bekerja keras selama 6 hari maka butuh waktu untuk bersantai bersama keluarga. Pemerintah Indonesia menetapkan hari Ahad sebagai libur Nasional. Kalender Negara Kesatuan Republik Indonesia juga mewarnai hari libur nasional lainnya dengan warna merah. Tradisi libur di hari Ahad tetap dipakai di banyak negara sampai sekarang. Termasuk juga menandai tanggal- tanggal penting dengan warna merah.
Namun, mengapa orang Islam di Indonesia lebih cenderung menyebut hari pertama dalam satu pekan ini sebagai hari Minggu ketimbang hari Ahad. Mengapa demikian?
Jawabannya hanya satu. Yaitu umat Islam belum mengetahui tentang arti kata Minggu itu sendiri. Maka, setelah membaca tulisan ini dan berawal dari diri kita sendiri. Marilah kita memulai untuk menggunakan kata hari Ahad ketimbang kata hari Minggu.

Wednesday, July 17, 2013

Ramadhan dan Qur’an

0 comments
Oleh: Novitasari Mustaqimatul Haliyah

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak, puasa berkata, “Rabbku! Aku menahannya dari makanan dan minuman pada siang hari, “ dan Al-Qur’an berkata, “Aku menahannya dari tidur pada malam hari maka izinkanlah kami jadi syafaat untuknya.” (HR. Ahmad:2/174)
Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi setiap muslim, bulan yang selalu di nanti-nanti. Namun, jangan hanya sekedar di nanti-nanti kedatangannya lantas disia-siakan begitu saja tanpa ada aktivitas bermakna di dalamnya. Ramadhan tidak sekedar agenda puasa menahan dahaga dan lapar saja, tetapi di dalamnya harus diisi dengan ibadah-ibadah yang lainnya, seperti tilawatil Qur’an.
Puasa itu membawa pelaksananya pada ketakwaan seperti yang telah difirmankan-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 183, yang artinya, “ Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Orang yang takwa pastilah memahami makna surga dan neraka maka dapat mengejar kebaikan dan meninggalkan keburukan. Alangkah baiknya di bulan Ramadhan nan berkah ini, kita mempunyai target dalam membaca Al-Qur’an.
Sahabat  Nabi dan Salafus salih ketika ramadhan mereka selalu bercumbu mesra dengan Al-Qur’an. Imam Malik contohnya, pada saat Ramadhan, keinginannya hanya satu, yaitu Al-Qur’an. Imam Syafi’i, tiap dua hari sekali mengkhatamkan Al-Qur’an. Tidak hanya sekedar membaca Al-Qur’an tetapi mereka pun memahami arti dan maknanya juga menghafalkannya. Subhanallah, itulah teladan yang harus kita contoh.

Di negeri para nabi sana, di bulan ramadhan orang-orang selalu berada dekat dengan Al-Qur’an. Tangannya selalu menggenggam Al-Qur’an di manapun mereka berada, di dalam bus, di halte, di rumah, di masjid, kantor. Mereka membaca Al-Qur’an dengan khidmat dan khusyuk meski di dalam keramaian. Masya’allah, lagi-lagi kita mendapat tauladan yang baik yang harus kita contoh. Semoga kita diistiqomahkan dalam beribadah kepada-Nya, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi di bulan-bulan selanjutnya.

Menghidupkan Semangat Rabbani bukan Ramadhani

0 comments
Beni Dahlan
(Swastamandiri accounting School -- Al Es’af Special Program/Peserta Lomba Mading ESR)



“ciiiiit, duuarr!!”  sebuah kecelekaan terjadi di Jalan Solo-Wonogiri tepat satu hari sebelum ramadhan tahun lalu. Setengah badan jalan tertutup bis yang mengalami lepas kendali setelah salah satu ban depan pecah. Malangnya seorang pengendara motor yang melintasi jalan itu terjepit di bawah, meninggal seketika.
innalillahi wa inna ilaihi roji’un” gumamku dalam hati. Hati ini tersentak, membayangkan jika sosok yang bersimbah darah itu adalah diri ini, diri yang masih merasakan compang-camping keimanan. Menghela nafas panjang, “Aah, sungguh beruntungnya diri seseorang yang ditakdirkan mampu berjumpa kembali dengan Ramadhan.”

Mati, itu suatu hal yang pasti terjadi. Tak soal apakah ia masih belia ataupun tua. Karena sakit menahun maupun kemarin masih sehat bugar terbangun. Sungguh tak ada yang menduga kedatangannya. Boleh jadi beberapa tahun lagi atau bahkan dalam hitungan detik dari sekarang.

Sebuah pesan disabdakan oleh Rasullah SAW yang diabadikan oleh Imam Tirmidzi dalam Jami’ at Tirmidzi.  “Tidak ada yang dapat menolak ketentuan Allah Ta’ala selain do’a dan tidak ada yang dapat memperpanjang umur seseorang kecuali perbuatan baik (yang mengenangkan)”. Do’a adalah senjata orang beriman, sehingga do’a mampu ‘merubah’ dari suatu ‘takdir’ tidak baik menuju takdir yang lebih baik. Oleh sebab itulah Rasulullah SAW mengajarkan do’a untuk kita “Allohumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighnaa romadhon” “Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (usia) kami untuk berjumpa pada Romadhon.” Karena tidak ada jaminan kita masih dapat menjumpai Ramadhan.

Hingga banyak kita jumpai potret adat kebiasaan generasi salaf, setiap setengah tahun pasca romadhon mereka tak pernah melupakan do’a agar amalan mereka diterima oleh Alloh SWT, dan setengah tahun berikutnya, mereka berdo’a agar dapat menjumpai kembali bulan penuh keutamaan. “duhh begitulah potret Generasi luar biasa, terasa jauh dari jangkauan kita.”

Jika tabir kematian itu masih dirahasiakan, lantas apakah kita yakin bahwa kita masih memiliki kesempatan kembali berjumpa dengan Ramadhan? Lalu jika kita telah dikaruniakan oleh Alloh SWT untuk dapat bersua, lantas, apakah yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya?

Mungkin sebuah kesempatan di hari ini mampu kita syukuri dan renungi bahwasanya kematian itu selalu mengintai di setiap saat, selalu membayang di setiap langkah kaki. Oleh sebab itu, jadikan hari ini menjadi sebaik-baik persiapan dalam menyongsong lembaran-lembaran di bulan penuh berkah.

Tidak hanya itu rahmat Alloh SWT, ampunan Alloh SWT dan do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Alloh SWT senantiasa didengar di setiap lembaran hari hidup kita di luar bulan Ramadhan. Karena setiap hari pintu taubat terbentang luas. Kasih sayang mengucur tiada batas. Jadi tidak ada alasan untuk ‘menyimpan’ amunisi semangat hanya di bulan Ramadhan, sehingga menjadikan sisa hari menjelang ramadhan sebagai ajang istirahat ‘menimbun’ semangat, karena setiap harinya reward Alloh SWT masih menggunung tinggi, pintu Jannah menganga.

Maka optimalkan hari-hari menjelang Ramadhan ini dengan tetap memacu dan melaju dalam kebaikan. Karena keinginan kita adalah menjadi Hamba Rabbani bukan Hamba ramadhani.
Wallohu a’lam bish showab




Beni Dahlan
09010031/Swastamandiri accounting School -- Al Es’af Special Program