Selamat dan sukses atas terpilihnya teman kita, Joko Priyanto, Sastra Arab 2010, sebagai Ketua Umum SKI periode 2011-2012. Untuk SKI FSSR yang lebih Baik
Tuesday, December 20, 2011
Mengenal Komunitas Muslim Aborigin
SAAT menyaksikan ANZAC parade pada tanggal 25 April 2011 di depan War Memorial, Canberra, saya mendapati demonstrasi yang dilakukan oleh puluhan kaum Aborigin. Mengusung tema “healing spirit” mereka memprotes penindasan oleh bangsa Eropa yang terjadi dimasa lampau, dengan membentangkan tulisan-tulisan protes serta membagi-bagikan stiker bergambar benua Australia bercorak bendera Aborigin. Di antara puluhan demonstran, baik Aborigin maupun orang Eropa pendukungnya, tiba-tiba seorang demonstran seperti blasteran Aborigin-Eropa tersenyum dan menunjukkan kafiyeh di lehernya kepada istri saya (berjilbab), seolah ingin memberikan sebuah isyarat.
Dengan kalung kafiyeh itu ia cukup menonjol di antara para pemrotes tersebut. Saya tidak bisa memastikan apakah ia seorang Muslim atau bukan. Yang pasti senyumannya itu ingin menunjukkan rasa kesedihan yang dialami oleh orang-orang Palestina.
Sebagai seorang Aborigin, ia seperti mengidentikkan dirinya dengan orang-orang yang diusir dari tanah airnya dan tercerabut dari sumber-sumber kehidupannya oleh rezim apartheid, Zionis Israel.
Di tengah cemoohan beberapa penonton parade yang khidmad memperingati kekalahan tentara Australia di Gallipoli Turki, ia mencoba menyampaikan perasaannya ketertindasan yang dirasakan.
Tentang berbagai insiden pembunuhan serta stolen generation (upaya memberadabkan suku-suku Aborigin dengan mengambil paksa anak-anak mereka untuk dididik secara Eropa) yang sempat dirasakan oleh orangtua mereka. Melihat kami Muslim, demonstran Aborigin itu melempar senyum getirnya yang bisa kami terjemahkan; solidaritas!.
Di Australia, Aborigin Muslim adalah komunitas yang berkembang dengan pesat. Jumlahnya sulit diketahui secara pasti, namun perkiraan konservatif berjumlah lebih dari 1000 orang (hasil sensus tahun 2006), meningkat sebesar 60% dari hasil sensus 1996 yang berjumlah sekitar 600 orang. Jumlah Muslim Aborigin di tahun 2011 ini diperkirakan terus meningkat, dari keseluruhan suku Aborigin yang berjumlah 517 ribu orang pada tahun 2006 yang tersebar di seluruh Australia.
Mengenal Islam
Kontak pertama mereka dengan Muslim adalah saat mereka bertemu dengan para pencari teripang orang-orang Makassar dan Bugis yang singgah di Australia Utara setiap bulan Desember dari periode 1700-an sampai 1907. Sejarah selanjutnya terkait dengan para Muslim penunggang unta Afhanistan (dari Rajastan dan Baluchistan) antara 1860 sampai 1890 yang didatangkan oleh kolonial Eropa untuk membantu menembus isolasi gurun pasir Australia mengirimkan bahan makanan serta pembangunan rel kereta api waktu itu.
Kaum Muslim Afghanistan tersebut sempat membangun masjidnya, disamping ada pula yang menikah dengan penduduk asli Aborigin seperti kakek buyut Muslim keturunan Aborigin bernama Shahzad dalam sebuah program televisi multikultural SBS.
Sepeniggal buyutnya kakek Shahzad sempat kembali ke Baluchistan dengan keluarganya, hal yang diakuinya menjaga keIslaman mereka sampai kembali lagi ke Australia. Selain itu, orang-orang Aborigin dari berbagai suku mengenal Islam dari komunitas-komunitas Muslim imigran yang datang ke Australia dalam tahun-tahun terakhir.
Perasaan ketertindasan sejarah adalah salah satu alasan mengapa aborigin dengan nama Muslim Khaled memasuki Islam yang ia kenal saat di dalam penjara. Sementara Justin yang masuk Islam saat menempuh kuliah di jurusan ilmu Hukum merasa dalam Islam ia mendapatkan perasaan merdeka dan terputus dari beban sejarah kelam komunitasnya. Ia sekarang merasakan lebih kuat dan mampu meredam kemarahan serta menjadi manusia seutuhnya, sama seperti manusia lainnya.
Berbondong-bondongnya Aborigin menjadi mualaf setelah mengenal ajaran Islam ibarat sebuah protes karena menurut mereka mengikuti agama orang Eropa seperti menyetujui penindasan di masa lampau. Namun, kemusliman mereka itu juga bukanlah sebuah pelarian semata, karena kadang-kadang mereka lebih mempraktekkan Islam daripada para Muslim imigran yang datang ke Australia karena alasan ekonomi. Setelah memeluk Islam, mereka bisa melepaskan diri dari alkoholisme dan obat-obatan terlarang, penyakit yang parah melanda suku asli Australia itu.
Lebih lanjut, seperti disampaikan Solomon yang mengenal Islam dari rekan kerjanya, nilai-nilai Islam ia rasakan lebih kompatibel dengan adat-istiadat mereka yang cenderung menghargai komunalitas dan saling menjaga. Penghormatan kepada orang yang lebih tua juga mereka rasakan sama dengan nilai-nilai tradisional mereka. Hal tersebut berbeda dengan nilai-nilai bangsa Eropa yang cenderung individualistis, egaliter namun kurang menghargai orang tua dan kebiasaan mandiri sejak dianggap telah dewasa.
Perkembangan Islam yang cepat diantara kaum Aborigin Australia adalah sebuah kenyataan yang mengejutkan, dimana agama Kristen adalah mayoritas meski prosentasenya terus menurun dari tahun ke-tahun ditengah semakin banyaknya orang atheis dan agnostic. Hal serupa juga terjadi pada Muslim Indian Amerika Latin yang masuk Islam sebagai “protes” atas sejarah kelam mereka yang pada abad ke-16 dipaksa masuk agama Katolik oleh penjajah Spanyol. Mereka bertemu kelompok-kelompok kecil Muslim Spanyol (Murabitun) yang melarikan diri ke Benua Latin itu dari sisa-sisa kekhalifahan Spanyol karena menghindari inquisisi kaum Katholik.
Mirip pula yang dirasakan orang-orang Negro Muslim Afrika yang ratusan tahun didatangkan sebagai budak di Amerika Serikat sampai awal abad ke-20. Beberapa keturunan mereka berupaya mencari akar kemusliman nenek moyang mereka yang telah terkikis, seperti termanifestasi dalam gerakan Nation of Islam. Hal yang juga dirasakan seorang Aborigin juara tinju yang menjadi mualaf bernama Antony Mundane yang mengenal Islam dari tulisan-tulisan Malcom X.
Muslim Aborigin yang terus berkembang jumlahnya adalah sebentuk protes atas penindasan bernuansa rasis di masa lampau, meskipun pemerintah Australia terus melakukan banyak upaya untuk mendorong integrasi, multikulturalisme dan pemberdayaan kepada mereka. Di sisi lain, semakin berkembangnya pula mualaf bangsa Eropa di Australia dimana Islam yang terus tumbuh mungkin akan menjadi healing spirit bagi Australia dimasa depan.*/Abu Alfath,tinggal di Canberra. sumber
Friday, December 16, 2011
Allah Beserta Kitakah?
Kisah sukses perebutan benteng oleh pasukan Khalid bin Walid merupakan pertolongan Allah kepada pasukan Islam karena mawas diri. Kegagalan pasukan Islam selama tiga bulan karena ''ada yang kurang'' dalam beribadah, sehingga Allah tidak kunjung beserta mereka dalam peperangan itu. Untuk itu, mereka memutuskan untuk berpuasa. Maka datanglah pertolongan Alah melalui anjing-anjing yang mencuri makanan sahur mereka. Subhanallah.
Kisah nyata berikut ini menunjukkan bahwa betapa Allah memberi pertolongan dari arah yang tidaak disangka-sangka kepada mereka yang berjuang di jalan-Nya dengan kepatuhan mutlak. Kisah terjadi saat perebutan Konstantinopel (Romawi Timur) oleh pasukan Turki. Hal ini terungkap berkat penelitian terhadap dua buah pulau di Samudra Pasifik. Dua pulau itu menurut penelitian berasal dari satu pulau saja, yang terbelah akibat letusan gunung berapi di tahun 1452. Letusan itu hebat sekali.
Selain membelah pulau, cahaya letusannya melesat tinggi ke angkasa. Kala itu, tentara Islam sedang mengepung Konstantinopel. Cahaya letusan gunung yang jauhnya puluhan ribu kilometer itu menerangi kota itu, yang terletak di lambung benua Eropa. Tentara Romawi, begitu melihat cahaya api menerangi kota mereka, mengira kota mereka terbakar. Maka menyerahlah mereka kepada pasukan Islam. Hingga kini kota itu menjadi bagian wilayah Turki dengan nama Istambul. Allahu Akbar.
Kisah lain, lebih ''kontemporer''. Seorang pemimpin gabungan koperasi ditanya oleh seseorang, apa yang dilakukannya manakala badan usaha yang dipimpinnya dicekam kesulitan besar. Jawabnya, ia perintahkan anak buahnya mengumpulkan seluruh surat permintaan sumbangan, dari mana pun. ''Penuhi semua permohonan itu,'' katanya. Anak buahnya tentu saja protes karena perusahaan sedang sulit sekali, tidak cukup dana untuk itu.
Tetapi, pemimpin itu tetap tegar, ''pokoknya penuhi!'' Si anak buah terpaksa menurut. Apa yang terjadi? Dalam waktu tidak lama terbukalah jalan-jalan kemudahan bagi gabungan koperasi itu. Allah Akbar, Allahu Akbar.
''... bagi mereka yang bertakwa Allah akan memberi jalan keluar; dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka ....'' Itulah janji Allah dalam Surat Atthalaq ayat 2 dan 3. Sudah bertakwakah kita? Marilah kita mawas diri, seperti Khalid bin Walid; seperti pemimpin gabungan koperasi itu.
Rasanya, bangsa ini serta seluruh unit bagiannya yang mengaku Islam perlu melakukannya agar Allah bersedia ''beserta kita'' dan melepas kita dari kesulitan. Tanpa itu, jangan-jangan kita dicap munafik oleh Allah. Nauzubillahi min zalik. (Mustoffa Kamil Ridwan)
republika
Thursday, December 15, 2011
Bahasa yang Baik
Bahasa atau perkataan yang baik diibaratkan oleh Allah dalam QS Ibrahim 24-25 laksana sebuah pohon yang baik. Akarnya kuat, sehingga mampu menyimpan air dan menahan tanah dari erosi.
Cabang-cabangnya menjulang ke langit, sehingga bisa menjadi tempat berteduh dan memberikan kesejukan dan kenyamanan kepada orang yang berada di sekitarnya. Dan pada setiap musim mengeluarkan buahnya untuk dikonsumsi oleh manusia.
Belajar dari ibarat itu, seorang muslim harus senantiasa memperhatikan kualitas pemakaian bahasaya, baik isi maupun cara menyampaikannya. Kepada siapa ia berbicara, apakah kepada orang tua, guru, teman, bahkan orang yang belum dikenal sekalipun, ia harus bisa menjaga ucapannya.
Bahkan dalam melakukan dakwah, Islam sangat menekankan penggunaan bahasa yang baik, yaitu berupa sikap bijaksana, nasihat dan argumen yang baik (QS An-Nahl: 125). Rasulullah tidak pernah mencerca kaum musyrik yang dengan kasar dan angkuh menolak dakwahnya. Sebaliknya beliau justru memohonkan ampunan dan kebaikan bagi mereka karena mereka tidak tahu.
Selain itu, tingkat keimanan kita ditentukan salah satunya oleh pemakaian bahasa dalam segala aspek kehidupan. Kalau kita tidak mampu berbahasa secara baik, kalau ucapan kita akan membuat orang lain sakit hati, marah, merasa kecil hati, dipojokkan ataupun dipermalukan, misalnya, maka kita dianjurkan lebih baik diam.
Betapa banyak persahabatan menjadi permusuhan dan betapa banyak kawan menjadi lawan hanya gara-gara pemakaian bahasa yang tidak sepatutnya.
Maka sungguh tepat sabda Rasulullah, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam". (HR Bukhari dan Muslim). Atau dalam sabdanya yang lain, "Semoga Allah memberi rahmat orang yang baik bicaranya dan dengannya ia memperoleh keuntungan atau diam dan dengannya ia selamat."
Abu al-Hasan Ali al-Nashri al-Mawardi mengemukakan empat syarat dalam berbicara, yaitu (1) ada perlunya berbicara, (2) pada waktu dan tempatnya, (3) berbicara secukupnya, dan (4) diungkapkan dengan bahasa yang baik.
sumber : Republika
--> Mari kita budayakan untuk saling mengingatkan karena manusia tempat khilaf dan lupa. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beriman.
Wednesday, December 14, 2011
Islam Anti Diskriminasi
Ketika pasukan muslimin mendekati Mesir untuk menguasainya, mereka tiba di perbentengan Babilon. Raja Mesir al-Muqauqis meminta bertemu dengan juru runding dari kaum muslimin. Panglima pasukan Amru bin Ash mengutus regu perunding dibawah pimpinan Ubadah bin Shamith, seorang yang warna kulitnya hitam dengan tinggi badan lebih dari 2 meter.
Ketika melihat Ubadah, al-Muqauqis ketakutan dan berkata, "Jauhkan orang hitam itu dari hadapanku dan tunjuk orang lain sebagai pengganti."
Anggota rombongan menjawab, "Orang hitam ini paling tinggi akal dan ilmunya, dan dialah pemimpin kami."
Muqauqis berkata, "Bagaimanakah kalian bisa menerima orang hitam itu sebagai yang termulia? Bukankah seharusnya dia yang paling rendah?"
Mereka menjawab, "Dia yang paling sempurna akalnya dan lebih dahulu beriman diantara kami."
Muqauqis berkata, "Suruh orang hitam ini berbicara dengan lembut. Saya sungguh takut melihatnya."
Ubadah berkata, "Dalam pasukan kami terdapat 1.000 orang yang warna kulitnya lebih hitam daripada saya.
sumber : alsofwa.or.id
Tuesday, December 13, 2011
Hidup Menyenangkan dengan Syukur
“Joy is a heart full and a mind purified by gratitude. – Kebahagiaan dalam hati dan pikirandimurnikan oleh rasa syukur.” [Marietta McCarty, penulis warga negara Amerika Serikat]
Kesibukan dan tekanan hidup seringkali membuat kita lupa bersyukur, yaitu berterima kasih atas segala karunia Tuhan YME. Sesunguhnya ada banyak hal berupa kemudahan dan anugrah luar biasa dari Sang Maha Pencipta yang kita terima setiap hari. Bila kita banyak bersyukur atas semua anugrah tersebut ini akan memberi berjuta manfaat dan menjadikan hidup ini sangat menyenangkan.
Manfaat syukur akan kembali kepada orang yang bersyukur, dan salah satunya adalah menjadikan hati ini lebih tentram. Sebab bersyukur sama dengan mengingat kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh Tuhan. Orang yang paling bahagia adalah orang yang pandai bersyukur.
Dalam hal ini saya mengutip rilis dari sebuah media mengenai Michael Inzlicht, dari University of Toronto, yang telah melakukan beberapa penelitian bahwa mengingat Tuhan itu akan memberikan rasa tentram. “Memikirkan tentang hal yang religius akan membuat kita lebih tenang ketika kita dihadapkan dengan hal yang membuat stres seperti melakukan kesalahan,” katanya.
Orang yang selalu bersyukur adalah orang yang merasa dalam curahan karunia dan kasih sayang-Nya. Karenanya, orang yang selalu bersyukur itu selalu dapat berpikir bahwa segala sesuatu pasti memiliki manfaat positif di kemudian hari. Kalaupun ditimpa cobaan atau memiliki kekurangan, rasa syukur itu akan membantu dirinya kembali memperoleh semangat untuk menghasilkan karya yang inspiratif, mengalahkan tantangan, sukses, berprestasi, dan mencapai segala impian.
Bersyukur atas apapun realita hidup yang kita terima ini dapat mengatasi perasaan putus asa. Ketidaksempurnaan, kehilangan atau kerugian apapun memang dapat mengecilkan hati, kecewa, dan putus asa. Namun dengan senantiasa mensyukuri karunia apapun yang kita terima, ini akan membantu kita lepas dari perasaan putus asa.
“The seeds of discouragement cannot take root in a grateful heart. – Benih-benih keputusasaan tak akan dapat berakar di hati yang penuh rasa syukur,” kata Oel Olsteen, penulis buku Living Your Best Life Now.
Dalam hidup ini kita menerima banyak sekali karunia, berupa sehat, sukses, pintar, anggota tubuh, dan lain sebagainya. Rasa syukur itu akan membantu kita untuk menghargai apapun yang kita miliki. Dengan syukur, segala sesuatu menjadi penuh berkah dan manfaat.
Bersyukur atau berterima kasih kepada Tuhan atas segala karunia-Nya merupakan komponen kunci untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan. Kemampuan tiap orang untuk bersyukur dapat dikembangkan dari waktu ke waktu. Seperti kemampuan lainnya, kemampuan untuk selalu bersyukur berkembang jika dilatih dan dibiasakan terus menerus.
Sebuah cara yang dapat Anda gunakan untuk meningkatkan rasa syukur adalah menuliskan atau mengingat beberapa hal yang Anda syukuri setiap hari. Jurnal rasa syukur ini merupakan cara yang baik untuk memulai rasa syukur yang lebih besar dalam hidup Anda. Contoh hal kecil namun patut disyukuri adalah menikmati cuaca yang baik sehingga bisa jalan-jalan atau beraktifitas dengan lancar, tidak kesulitan mendapatkan makanan dan minuman, tidak kesulitan bernafas dan lain sebagainya. Jika terus dikumpulkan, suatu saat kita akan takjub karena demikian besar karunia Sang Pencipta yang telah kita terima dan nikmati.
Keyakinan dan bekerja sebaik mungkin merupakan bentuk rasa syukur atas karunia Tuhan YME. Selain itu, wujudkan rasa syukur dengan berdoa dan beribadah. Rasa syukur juga dapat dilakukan dengan berbagi kepada orang lain, berupa ilmu, harta, kemampuan dan lain sebagainya.
Upayakan untuk menghiasi pikiran dan sikap dengan rasa syukur kapanpun dan dimanapun. Hal itu dapat mempengaruhi sikap mental menjadi lebih positif. Dengan begitu Anda perlahan-lahan mulai menarik hal-hal positif ke dalam kehidupan Anda.
Di balik segala sesuatu yang kita keluhkan pasti ada satu hal yang dapat kita syukuri. Bersyukurlah karena pada akhirnya Anda akan dapat melihat lebih banyak hal positif di dalam diri Anda. Beberapa kalimat inspiratif yang saya kutip dari sebuah media online berikut ini mudah-mudahan dapat senantiasa mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur.
•Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar – Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
•Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu – Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
•Sebelum engkau mengeluh tentang pacar, suami atau isterimu – Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
•Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat dipanggil Tuhan.
•Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
•Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai – Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
•Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh – Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
•Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu – Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
•Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain – Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
•Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu – Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini. Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah dengan baik dan penuh rasa syukur
Monday, December 12, 2011
Proses Tumbuhnya Benih
Oleh Dr. Mohamad Daudah
Proses penumbuhan termasuk proses kehidupan yang terjadi di muka bumi ini, dan ia merupakan sebagian dari bukti akan kekuasaan Ilahi di alam semesta. Seandainya tidak ada proses penumbuhan, maka tidak ada tumbuh-tumbuhan di dunia. Seandainya tidak ada tumbuh-tumbuhan di bumi, maka tidak ada klorofil. Dan seandainya tidak ada klorofil, maka tidak ada kehidupan di bumi.
Allah berfirman, ‘Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).’ (an-Naml: 60)
Ayat ini termasuk ayat mukjizat tentang tumbuh-tumbuhan di dalam al-Qur’an.
Ayat ini mengaitkan antara air dan proses penumbuhan, karena air merupakan syarat utama dan pokok dari proses penumbuhan. Terkadang benih atau biji berdiam di tanah selama bertahun-tahun tanpa tumbuh dan tidak bergerak, sampai air turun padanya, lalu mulailah proses yang mengagumkan dan sarat mukjizat, yaitu proses penumbuhan. Anak-anak kita sering meletakkan biji atau benih di atas kapas basah, tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka sedang melakukan salah satu proses kehidupan paling rumit di dunia tumbuhan dan kimia kehidupan. Proses ini digunakan Allah untuk menantang orang yang menyekutukan-Nya, agar mereka melakukan hal serupa tanpa melalui sarana-sarana Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup, seperti janin dan air.
Ketika air menetesi benih atau biji, maka ia menyerap air dengan daya serap dan tekanan osmotik. Rumus-rumus air pada tumbuhan itu memiliki hukum matematika tersendiri yang rumit dan meletihkan kita untuk memahaminya melalui berbagai kajian, dan yang masih meletihkan para mahasiswa saat diberi penjelasan mengenainya.

Perhatikan kekuatan yang diletakkan Allah pada selaput biji atau kulit benih. Seandainya selaput itu tidak tembus air, maka air tidak sampai kepada janin di dalam biji atau benih, sehingga gagal-lah proses penumbuhan.
Sebagian benih memang memiliki kulit (sepatut benih) yang keras dan tidak tembus air secara sempurna (yaitu benih pohon jarak). Tetapi, Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan baik itu membekali benih ini dengan lobang di bagian atas benih. Lobang ini dikelilingi dengan unsur spon yang menyerap air, yang disebut Caruncle, sehingga air dapat tembus melalui lobang tersebut dan sampai ke janin.
Apakah unsur spon ini tercipta secara kebetulan, bukan ciptaan Khaliq yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal? Ataukah ia diciptakan tanpa kekuatan dan kesadaran seperti klaim para pengatur teori Darwin dan orang-orang muslim Artikelalis yang tidak menyembah Allah dengan sebenar-benarnya penyembahan: ‘Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.’ (al-Hajj: 74)
Ketika air masuk ke benih atau biji, maka terjadilah perubahan-perubahan fisika dimana biji mengembang dan bertambah ukurannya akibat daya serap tersebut, sehingga ia merobek selaputnya. Dan pada waktu yang sama terjadi proses-proses kimiawi yang besar, dimana janin mulai mengeluarkan enzim-enzim pengurai Artikel-Artikel nutrisi yang tersimpan di dalam benih dan biji tersebut. Lalu ia mengubahnya—dari Artikel-Artikel yang kompleks susunannya, besar volumenya, tidak bisa menembus sel-sel janin, dan janin tidak bisa mendayagunakannya—menjadi Artikel yang sederhana susunannya, kecil partikel-partikelnya, bisa menembus melalui selaput dan dinding sel, sehingga janin bisa menyerap makanannya.

Gambar di atas adalah irisan benih, tampak lobang pada benih atau yang disebut Caruncle.
Yang mengagumkan adalah jenis enzim itu sesuai dengan jenis nutrisi yang tersimpan di dalamnya. Enzim-enzim ini mengurai sebagian Artikel yang sangat keras, seperti yang ada pada buah pohon doum yang sebagian dari kita mengolahnya menjadi pakaian yang keras. Enzim-enzim itu mengubahnya menjadi Artikel-Artikel yang lunak dan lembut seperti susu, manis rasanya, mudah dicerna dan diserap.
Proses-proses tersebut berlangsung dalam suhu 25-35 derajat celcius. Apabila kita ingin melakukan proses yang sama di laboratorium, maka kita membutuhkan beberapa bak air panas, asam pembakar dan pengurai. Kita juga membutuhkan beberapa alat pendingin, alat konsentrat, dan alat pengukur suhu yang tepat, serta para arsitek, ilmuwan, dan seniman yang jumlahnya lebih dari ratusan orang. Kita juga membutuhkan pabrik-pabrik yang sangat bising, mengeluarkan asap yang tinggi, dan mengakibatkan pencemaran lingkungan, serta membutuhkan modal yang sangat besar.
Proses ini terjadi dengan sangat tenang, di dalam benih yang diletakkan anak kecil di atas sepotong kapas yang dibasahi. Proses-proses yang rumit ini berlangsung di kebun yang sederhana, yang tidak mengenal equasi kimia, laboratorium, dan penelitian.
Siapakah yang berbuat demikian? Adakah tuhan selain Allah? Apakah itu alam, seperti pernyataan kaum Artikelalis sekuler. Sesungguhnya orang yang meyakini dan menyatakan hal demikian itu tidak berbeda pemikirannya dari mereka yang naif dan bodoh.
Mereka tidak berbeda dari orang yang mengatakan saat terjadi gempa, ‘Kerbau yang memikul bumi di atas salah satu tanduknya memindahkan beban ke tanduk yang satu karena capek.’
Proses kehidupan yang mengagumkan itu memulai pembelahan sel dan kromosom, menganyam jaringan dan membangun dinding. Keluar suhu panas, kehidupan berdenyut, hormon terbentuk, vitamin bekerja, organ tumbuh keluar, akar menghujam ke tanah, batang tumbuh ke atas, tangkai, daun, bunga, dan buah bermunculan, serta jutaan proses kehidupan lain yang sarat mukjizat.

Gambar menjelaskan proses pembelahan sel pada tumbuhan dengan kuasa Allah.
Proses kehidupan yang mengagumkan itu memulai pembelahan sel dan kromosom, menganyam jaringan dan membangun dinding. Suhu panas terpancar, kehidupan berdenyut, hormon terbentuk, vitamin bekerja, organ tumbuh keluar, akar menghujam ke tanah, batang tumbuh ke atas, tangkai, daun, bunga, dan buah bermunculan, serta jutaan proses kehidupan lain yang sarat mukjizat.
Siapakah yang membimbing benih-benih kepada perjalanan yang menakjubkan ini? Adakah tuhan selain Allah? Apakah alam yang tidak berkesadaran dan bisa berpikir itu mampu menciptakannya? Maha Benar Allah dalam firman-Nya, ‘Yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?’ (an-Naml: 60)
Sumber : http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/proses-tumbuhnya-benih.htm
Proses penumbuhan termasuk proses kehidupan yang terjadi di muka bumi ini, dan ia merupakan sebagian dari bukti akan kekuasaan Ilahi di alam semesta. Seandainya tidak ada proses penumbuhan, maka tidak ada tumbuh-tumbuhan di dunia. Seandainya tidak ada tumbuh-tumbuhan di bumi, maka tidak ada klorofil. Dan seandainya tidak ada klorofil, maka tidak ada kehidupan di bumi.
Allah berfirman, ‘Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).’ (an-Naml: 60)
Ayat ini termasuk ayat mukjizat tentang tumbuh-tumbuhan di dalam al-Qur’an.
Ayat ini mengaitkan antara air dan proses penumbuhan, karena air merupakan syarat utama dan pokok dari proses penumbuhan. Terkadang benih atau biji berdiam di tanah selama bertahun-tahun tanpa tumbuh dan tidak bergerak, sampai air turun padanya, lalu mulailah proses yang mengagumkan dan sarat mukjizat, yaitu proses penumbuhan. Anak-anak kita sering meletakkan biji atau benih di atas kapas basah, tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka sedang melakukan salah satu proses kehidupan paling rumit di dunia tumbuhan dan kimia kehidupan. Proses ini digunakan Allah untuk menantang orang yang menyekutukan-Nya, agar mereka melakukan hal serupa tanpa melalui sarana-sarana Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup, seperti janin dan air.
Ketika air menetesi benih atau biji, maka ia menyerap air dengan daya serap dan tekanan osmotik. Rumus-rumus air pada tumbuhan itu memiliki hukum matematika tersendiri yang rumit dan meletihkan kita untuk memahaminya melalui berbagai kajian, dan yang masih meletihkan para mahasiswa saat diberi penjelasan mengenainya.
Perhatikan kekuatan yang diletakkan Allah pada selaput biji atau kulit benih. Seandainya selaput itu tidak tembus air, maka air tidak sampai kepada janin di dalam biji atau benih, sehingga gagal-lah proses penumbuhan.
Sebagian benih memang memiliki kulit (sepatut benih) yang keras dan tidak tembus air secara sempurna (yaitu benih pohon jarak). Tetapi, Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan baik itu membekali benih ini dengan lobang di bagian atas benih. Lobang ini dikelilingi dengan unsur spon yang menyerap air, yang disebut Caruncle, sehingga air dapat tembus melalui lobang tersebut dan sampai ke janin.
Apakah unsur spon ini tercipta secara kebetulan, bukan ciptaan Khaliq yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal? Ataukah ia diciptakan tanpa kekuatan dan kesadaran seperti klaim para pengatur teori Darwin dan orang-orang muslim Artikelalis yang tidak menyembah Allah dengan sebenar-benarnya penyembahan: ‘Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.’ (al-Hajj: 74)
Ketika air masuk ke benih atau biji, maka terjadilah perubahan-perubahan fisika dimana biji mengembang dan bertambah ukurannya akibat daya serap tersebut, sehingga ia merobek selaputnya. Dan pada waktu yang sama terjadi proses-proses kimiawi yang besar, dimana janin mulai mengeluarkan enzim-enzim pengurai Artikel-Artikel nutrisi yang tersimpan di dalam benih dan biji tersebut. Lalu ia mengubahnya—dari Artikel-Artikel yang kompleks susunannya, besar volumenya, tidak bisa menembus sel-sel janin, dan janin tidak bisa mendayagunakannya—menjadi Artikel yang sederhana susunannya, kecil partikel-partikelnya, bisa menembus melalui selaput dan dinding sel, sehingga janin bisa menyerap makanannya.
Gambar di atas adalah irisan benih, tampak lobang pada benih atau yang disebut Caruncle.
Yang mengagumkan adalah jenis enzim itu sesuai dengan jenis nutrisi yang tersimpan di dalamnya. Enzim-enzim ini mengurai sebagian Artikel yang sangat keras, seperti yang ada pada buah pohon doum yang sebagian dari kita mengolahnya menjadi pakaian yang keras. Enzim-enzim itu mengubahnya menjadi Artikel-Artikel yang lunak dan lembut seperti susu, manis rasanya, mudah dicerna dan diserap.
Proses-proses tersebut berlangsung dalam suhu 25-35 derajat celcius. Apabila kita ingin melakukan proses yang sama di laboratorium, maka kita membutuhkan beberapa bak air panas, asam pembakar dan pengurai. Kita juga membutuhkan beberapa alat pendingin, alat konsentrat, dan alat pengukur suhu yang tepat, serta para arsitek, ilmuwan, dan seniman yang jumlahnya lebih dari ratusan orang. Kita juga membutuhkan pabrik-pabrik yang sangat bising, mengeluarkan asap yang tinggi, dan mengakibatkan pencemaran lingkungan, serta membutuhkan modal yang sangat besar.
Proses ini terjadi dengan sangat tenang, di dalam benih yang diletakkan anak kecil di atas sepotong kapas yang dibasahi. Proses-proses yang rumit ini berlangsung di kebun yang sederhana, yang tidak mengenal equasi kimia, laboratorium, dan penelitian.
Siapakah yang berbuat demikian? Adakah tuhan selain Allah? Apakah itu alam, seperti pernyataan kaum Artikelalis sekuler. Sesungguhnya orang yang meyakini dan menyatakan hal demikian itu tidak berbeda pemikirannya dari mereka yang naif dan bodoh.
Mereka tidak berbeda dari orang yang mengatakan saat terjadi gempa, ‘Kerbau yang memikul bumi di atas salah satu tanduknya memindahkan beban ke tanduk yang satu karena capek.’
Proses kehidupan yang mengagumkan itu memulai pembelahan sel dan kromosom, menganyam jaringan dan membangun dinding. Keluar suhu panas, kehidupan berdenyut, hormon terbentuk, vitamin bekerja, organ tumbuh keluar, akar menghujam ke tanah, batang tumbuh ke atas, tangkai, daun, bunga, dan buah bermunculan, serta jutaan proses kehidupan lain yang sarat mukjizat.
Gambar menjelaskan proses pembelahan sel pada tumbuhan dengan kuasa Allah.
Proses kehidupan yang mengagumkan itu memulai pembelahan sel dan kromosom, menganyam jaringan dan membangun dinding. Suhu panas terpancar, kehidupan berdenyut, hormon terbentuk, vitamin bekerja, organ tumbuh keluar, akar menghujam ke tanah, batang tumbuh ke atas, tangkai, daun, bunga, dan buah bermunculan, serta jutaan proses kehidupan lain yang sarat mukjizat.
Siapakah yang membimbing benih-benih kepada perjalanan yang menakjubkan ini? Adakah tuhan selain Allah? Apakah alam yang tidak berkesadaran dan bisa berpikir itu mampu menciptakannya? Maha Benar Allah dalam firman-Nya, ‘Yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?’ (an-Naml: 60)
Sumber : http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/proses-tumbuhnya-benih.htm