Showing posts with label Artikel Lomba Mading Edisi Spesial Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Lomba Mading Edisi Spesial Ramadhan. Show all posts

Tuesday, August 06, 2013

Komik "Puasa Itu..."

1 comments

Romadhon Tanpa Bidadari

0 comments
Oleh : Nisa Asy-Syifa
(Pemenang Lomba Mading ESR)

Bakda sholat Isya malam ini terasa lebih indah. Langit begitu anggun dengan hiasan bintang. Seolah ingin menyampaikan isyarat lafadz tasbih, takbir dan tahmid atas segala keagungan sang pencipta semesta yang bertahta dalam singgasana arsy. Ayah sedang menata dagangan sisa jualan di pasar tadi pagi. Kedua adikku yang tengah duduk di  TK dan kelas 3 SD tengah bermain di ruang tamu. Sedang aku sendiri masih termenung memandang kalender mini yang bersandar di dinding kamarku. Malam ini adalah malam pertama bulan romadhon di tahun ini. Esok hari semua umat muslim wajib menunaikan puasa. Malam ini juga tepat empat bulan yang lalu Ibu memenuhi panggilan sang Khaliq. Allah lebih menyayangi beliau melalui penyakit radang paru-paru. Inilah bulan romadhon pertama yang dilalui oleh keluargaku tanpa kehadiran Ibu. Rumah ini pun terasa begitu dingin tanpa kehangatan senyum dan teh manis nan hangat yang selalu tersaji di meja menemani belajarku, adik-adik serta Ayah. Saat malam hari di bulan romadhon seperti ini, setelah sholat Isya, Ibu sibuk didapur menyiapkan bahan makanan yang akan di masak esok hari untuk makan sahur keluarga. Namun, malam ini dapur pun terasa hampa, tiada lagi harumnya adonan tepung ketan yang di pan, karena Ibu tahu adik-adiku sangat susah jika makan sahur langsung makan nasi, maka dengan segala kelihaiannya beliau membuatkan kue-kue yang bisa mengawali makan sahur keluarga. Allah, betapa kerinduan mengelayuti hati ini akan kehadiran sosok wanita itu. Jadikan ia bidadari surga-Mu dan pertemukan keluarga kami kembali di jannah-Mu kelak. Lambat laun ingataku tentang Ibu mulai terasa samar. Kepalaku mulai terkulai di meja belajar. Rasa kantuk yang begitu nyaman mulai membawaku ke alam bawah sadar.
            Saat aku  mulai kembali sadar, kukejap-kejapkan mataku. Pendengaranku mulai mengawali aliran respon ke seluruh saraf otak. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari masjid yang jaraknya 100 meter dari rumah. Segera kulihat jam. Allahu Akbar! Pukul empat lebih lima menit. Dengan segera kubangunkan Ayah dan adik-adik. Syukur nasi kemarin sore ternyata masih sisa, cukup untuk makan sahur. Telur ceplok dengan bumbu garam dapur cukuplah untuk menemani nasi putih yang dingin. Ayah membuat teh hangat. Meski airnya dari termos dan tidak begitu panas karena tidak ada waktu lagi untuk merebus air, tapi bisalah untuk melarutkan gula sehingga airnya terasa manis. Nasi, telur ceplok, dan teh hangat telah siap di meja. Namun, adikku yang paling bungsu hanya diam memandangi meja makan tanpa sepatah katapun.
“Dik, ayo segera makan sahur, apa perlu mas Hamdan ambilkan. Nanti kalau tidak segera makan keburu adzan subuh loh.”
“Mas, kok sahur kita tidak seperti dulu lagi ya. Andai Ibu masih menemani kita, belum menjadi bidadarinya Allah, pasti sahur kita tidak seperti ini. Mas, Allah pasti sangat senang ya, saat ini ditemani oleh Ibu.

Air mata yang siap mengalir di pelupuk mataku tidak dapat terbendung lagi. Meski selama ini aku selalu ingin terlihat tegar dan berusaha untuk tidak menangis di hadapan Ayah dan adik-adik saat Ibu telah tiada, namun kata-kata polos dari adik bungsuku telah membuncahkan kerinduanku kepada Ibu. Aku selalu mengatakan bahwa Ibu sekarang telah menjadi bidadari Allah kepada adik bungsuku, saat ia mulai merenggek ingin bertemu Ibu. Ia masih kecil, begitu polos, dan belum mengerti apa hakikat kematian. Aku peluk adik bungsuku erat-erat. Ayah, kulihat tampak tertunduk mencoba menyembunyikan air matanya meski bagiku itu sia-sia. Inilah romadhon pertamaku tanpa Ibu. Allah, di bulan mulia ini kukirimkan doa terindah untuknya. Di bulan romadhon pertama tanpa kehadirannya ini pula, jadikan aku dan adik-adik sebagai simpanan amalan sholeh untuknya. 

Wednesday, July 17, 2013

Menghidupkan Semangat Rabbani bukan Ramadhani

0 comments
Beni Dahlan
(Swastamandiri accounting School -- Al Es’af Special Program/Peserta Lomba Mading ESR)



“ciiiiit, duuarr!!”  sebuah kecelekaan terjadi di Jalan Solo-Wonogiri tepat satu hari sebelum ramadhan tahun lalu. Setengah badan jalan tertutup bis yang mengalami lepas kendali setelah salah satu ban depan pecah. Malangnya seorang pengendara motor yang melintasi jalan itu terjepit di bawah, meninggal seketika.
innalillahi wa inna ilaihi roji’un” gumamku dalam hati. Hati ini tersentak, membayangkan jika sosok yang bersimbah darah itu adalah diri ini, diri yang masih merasakan compang-camping keimanan. Menghela nafas panjang, “Aah, sungguh beruntungnya diri seseorang yang ditakdirkan mampu berjumpa kembali dengan Ramadhan.”

Mati, itu suatu hal yang pasti terjadi. Tak soal apakah ia masih belia ataupun tua. Karena sakit menahun maupun kemarin masih sehat bugar terbangun. Sungguh tak ada yang menduga kedatangannya. Boleh jadi beberapa tahun lagi atau bahkan dalam hitungan detik dari sekarang.

Sebuah pesan disabdakan oleh Rasullah SAW yang diabadikan oleh Imam Tirmidzi dalam Jami’ at Tirmidzi.  “Tidak ada yang dapat menolak ketentuan Allah Ta’ala selain do’a dan tidak ada yang dapat memperpanjang umur seseorang kecuali perbuatan baik (yang mengenangkan)”. Do’a adalah senjata orang beriman, sehingga do’a mampu ‘merubah’ dari suatu ‘takdir’ tidak baik menuju takdir yang lebih baik. Oleh sebab itulah Rasulullah SAW mengajarkan do’a untuk kita “Allohumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighnaa romadhon” “Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (usia) kami untuk berjumpa pada Romadhon.” Karena tidak ada jaminan kita masih dapat menjumpai Ramadhan.

Hingga banyak kita jumpai potret adat kebiasaan generasi salaf, setiap setengah tahun pasca romadhon mereka tak pernah melupakan do’a agar amalan mereka diterima oleh Alloh SWT, dan setengah tahun berikutnya, mereka berdo’a agar dapat menjumpai kembali bulan penuh keutamaan. “duhh begitulah potret Generasi luar biasa, terasa jauh dari jangkauan kita.”

Jika tabir kematian itu masih dirahasiakan, lantas apakah kita yakin bahwa kita masih memiliki kesempatan kembali berjumpa dengan Ramadhan? Lalu jika kita telah dikaruniakan oleh Alloh SWT untuk dapat bersua, lantas, apakah yang telah kita persiapkan untuk menyambutnya?

Mungkin sebuah kesempatan di hari ini mampu kita syukuri dan renungi bahwasanya kematian itu selalu mengintai di setiap saat, selalu membayang di setiap langkah kaki. Oleh sebab itu, jadikan hari ini menjadi sebaik-baik persiapan dalam menyongsong lembaran-lembaran di bulan penuh berkah.

Tidak hanya itu rahmat Alloh SWT, ampunan Alloh SWT dan do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Alloh SWT senantiasa didengar di setiap lembaran hari hidup kita di luar bulan Ramadhan. Karena setiap hari pintu taubat terbentang luas. Kasih sayang mengucur tiada batas. Jadi tidak ada alasan untuk ‘menyimpan’ amunisi semangat hanya di bulan Ramadhan, sehingga menjadikan sisa hari menjelang ramadhan sebagai ajang istirahat ‘menimbun’ semangat, karena setiap harinya reward Alloh SWT masih menggunung tinggi, pintu Jannah menganga.

Maka optimalkan hari-hari menjelang Ramadhan ini dengan tetap memacu dan melaju dalam kebaikan. Karena keinginan kita adalah menjadi Hamba Rabbani bukan Hamba ramadhani.
Wallohu a’lam bish showab




Beni Dahlan
09010031/Swastamandiri accounting School -- Al Es’af Special Program


Tuesday, July 16, 2013

KISAH PUASA SEORANG AWAM

0 comments
Oleh: Andika Wahyu Nugroho
(Peserta Lomba Mading Edisi Spesial Ramadhan)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu oleh umat muslim karena pada bulan itu begitu banyak rahmat Allah, umat muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah. Pada bulan ramadhan kita umat muslim diwajibkan berpuasa, serta kita harus memperbanyak ibadah, tetapi bagaimana  dengan orang awam yang tidak terlalu mengerti tentang Islam walaupun dia beragama Islam? Ini adalah sebuah kisah dimana seorang yang tidak pernah mendalami Islam berpuasa.
Sebut saja dia Wahyu, dia bersal dari keluarga muallaf yang masih cukup awam dengan pengetahuan Islam. Setiap bulan ramadhan tiba rasa bahagia yang muncul adalah rasa bahagia karena banyak makanan enak yang di buat oleh ibunya. Dalam sholat pun si Wahyu masih suka bolong-bolong, sering dia ketika terasa lapar diam-diam mengambil makanan dirumah. Ketika mau sahur dia bangun dengan malas, bahkan terkadang dia tidak bangun dan bahkan tidak sholat subuh. Diajak mengaji selalu beralasan, begitulah bagaimana dia menjalani bulan ramadhan sehari-hari
Bulan Maret 2012 wahyu berkenalan dengan seorang muslim yang taat yang mulai mengubah dirinya, dia mengajari Wahyu bagaimana islam itu. Dari situ wahyu mulai tahu bagaimana Islam seharusnya. Wahyu mulai berubah, dia mulai mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Bulan Ramadhan 2012, Wahyu mulai merubah kehidupanya, dia mulai menjalankan ibadah dengan istiqomah. Semoga pada bulan ramadhan ini Wahyu semakin semangat di jalan Allah.


Untuk berubah memang sulit, terkadang kesadaran diri pun belum cukup untuk membuat seseorang bergerak menuju perubahan. Tetapi bantuan Allah selalu datang dari arah yang tidak terduga. Percayalah jika Allah selalu menyayangi umat-Nya.