Showing posts with label Kristologi. Show all posts
Showing posts with label Kristologi. Show all posts

Sunday, January 01, 2012

Akhirnya Pemuka Gereja Ortodoks Rusia Memilih Jadi Muslim

0 comments
Dr. Viacheslav Polosin adalah lulusan Universitas Moskow, Fakultas Filsafat, jurusan sosiologi, tahun 1978.
seorang pater yang masuk dalam jajaran pejabat tinggi di Gereja Ortodoks Rusia. Pria kelahiran Moskow, 26 Juni 1956 mulai bekerja untuk Gereja Ortodoks pada tahun 1980 sebaga seorang “Reader” (orang yang bertanggung jawab untuk membacakan kutipan-kutipan kitab suci dalam peribadatan).
Ia kemudian belajar teologi di sebuah seminari di Moskow. Setelah lulus dari seminari tahun 1983, Polosin ditunjuk sebagai diaken (mengerjakan tugas-tugas pelayananan gereja), lalu diangkat menjadi pater.
Polosin bertugas menjadi pater di sejumlah paroki di kawasan Asia Tengah sampai tahun 1985. Ia pernah menjadi kepala gereja di kota Dushanbe, tapi kemudian dideportasi dari wilayah itu oleh otorita pemerintahan Soviet atas tuduhan membangkang pemerintahan komunis Soviet. Polosin lalu bekerja sebagai penerjemah paruh waktu di departemen penerbitan Kantor Keuskupan di Moskow.
Juni 1988, ketika penindasan terhadap agama oleh pemerintah Soviet mulai reda, Polosin kembali menjadi pendeta di sebuah gereja baru yang nyaris roboh di kota Obninsk, wilayah Kaluzhsky, hingga ia dipromosikan menjadi imam agung pada tahun 1990.
Perjalanan karir Polosin sebagai pemuka agama semakin mulus. Pada bulan Maret 1990, Polosin terpilih sebagai deputi dan anggota Mahkamah Soviet Federasi Rusia, mewakili wilayah Kaluzhsky. Di Mahkamah itu, Polosin menjadi ketua bidang kebebasan beragama hingga tahun 1993. Semasa jabatannya, Polosin berperan dalam pembuatan undang-undang “Kebebasan Beragama”.
Sejak tahun 1990, Polosin ikut serta dalam pendirian gerakan Kristen Demokratik di Rusia. Ia sendiri duduk sebagai salah satu pengurus di gerakan tersebut sampai tahun 1993. Pada saat yang sama, Polosin menyelesaikan studinya di Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri Rusia dan mendapat gelar MA untuk bidang ilmu politik.
Aktif berpolitik, Polosin sudah meninggalkan kegiatan gereja sejak tahun 1991 dengan alasan sulit baginya untuk membagi waktu antara aktivitasnya di bidang politik dan agama. Setelah Mahkamah Soviet dibubarkan tahun 1993, Polosin menolak tawaran untuk kembali berkegiatan di gereja sebagai pendeta. Ia lebih memilih menjadi konsultan paruh waktu bagi Departemen Hubungan Internal Gereja, menjadi penasehat untuk pemerintahan negara bagian Duma yang tergabung dalam Komite Asosiasi Publik dan Organisasi Keagamaan.
Tahun 1999, Polosin meraih gelar setara dengan PhD setelah berhasil memperhankan thesisnya berjudul “Dialectics of a Myth and Political Myth Creation”. Setelah itu, Polosin banyak menulis artikel bertema keagamaan dan isu-isu agama-politik.
Salah satu buku karyanya adalah “Myth. Religion. State” yang mengupas tentang pengaruh mitos penciptaan pada perkembangan politik di masyarakat, serta keuntungan-keuntungan ideologi monoteistik untuk membangun sebuah negara.
Masih di tahun 1999, Polosin membuat pengumuman yang mengejutkan bahwa ia dan istrinya kembali ke monoteisme, kembali pada agama nenek moyangnya, dan memeluk Islam. Ia menggunakan nama islami “Ali” di depan namanya.
Setelah masuk Islam, Polosin terpilih sebagai salah satu ketua “Refakh” sebuah gerakan sosial dan politik komunitas Muslim di Rusia. Ia juga menjadi pemimpin redaksi “Muslim Newspaper” yang diterbitkan pada tahun 1999.
Tahun 2003, Polosin terpilih sebagai presiden Persatuan Wartawan Muslim di Rusia, serta menjadi penasehat di Dewan Mufti Rusia.

source: http://answering.wordpress.com/2011/12/28/akhirnya-pemuka-gereja-ortodoks-rusia-inimemilih-jadi-muslim/

Thursday, December 22, 2011

Mengucapkan “Selamat Natal” Merupakan Sebuah Toleransi atau Ejekan??

2 comments
Ketika perayaan hari natal yang dirayakan oleh orang-orang Kristen pada setiap tanggal 25 Desember, beberapa teman yang mengaku muslim dengan alasan toleransi mengucapkan “selamat natal” kepada orang-orang Kristen. Bila melihat status mereka sebagai Muslim, maka apakah ucapan “selamat natal” tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk toleransi??
Natal adalah perayaan kelahiran seorang Tuhan yang bernama Yesus yang dipercaya oleh orang-orang Kristen turun kedunia untuk menebus dosa-dosa mereka. Orang-orang kristen mempercayai bahwa ada Tuhan yang mempunyai awal melalui proses kelahiran, dan bahkan mempunyai proses akhir yaitu melalui kematian dikayu salib. Tuhan yang mempunyai awal dan atau akhir tentu saja tidak bisa disebut sebagai Tuhan melainkan berhala.
Islam sebagai monotheism yang jelas-jelas mengajarkan kepada penyembahan Tuhan yang benar yaitu Tuhan yang tidak mempunyai awal dan akhir tentu saja tidak akan mengakui dan mempercayai adanya Tuhan yang mempunyai awal dan akhir. Nah bila ada orang yang mengucapkan “selamat” kepada sesuatu yang tidak dia percayai, maka apakah itu bisa dikatakan sebagai sebuah toleransi?? Atau sebenarnya itu bisa dikatakan sebagai sebuah ejekan?? Mari kita ambil analogi, bila ada seorang ibu mandul yang benar-benar sudah tidak bisa mempunyai anak, lalu karena keinginannya yang begitu besar membuatnya menjadi gila sehingga dia akhirnya menganggap boneka yang dia milikinya sebagai anak. Boneka tersebut diperlakukan layaknya seorang anak manusia, seperti dimandikan, diberi makan dan bahkan membuat sendiri tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran boneka yang dianggapnya sebagai anak dari rahimnya. Sang ibu benar-benar menganggap boneka tersebut sebagai seorang anak dan marah bila ada orang lain yang tidak percaya dan menganggap anaknya adalah boneka. Ketika sang ibu sedang merayakan kelahiran sang boneka dan melakukan “open house” bagi siapa saja yang ingin mengucapkan “selamat ulang-tahun” kepada bonekanya, maka sebagai orang yang waras tentu saja kita tidak akan ikut-ikutan merayakan acara ulang tahun tersebut dan bahkan mengucapkan selamat ulang tahun kepada boneka tersebut, karena kalau kita melakukan itu maka sebenarnya yang kita lakukan hanyalah sebagai bentuk rasa “kasihan” atau bisa dikatakan bentuk “ejekan” atas kegilaan ibu tersebut. Sebagai orang yang bertoleransi, maka kita tidak perlu ikut-ikutan dalam “kegilaan” yang dilakukan oleh ibu tersebut. Kita cukup membiarkan apa yang dilakukan sang ibu, atau bahkan sebagai manusia yang baik maka kita harus menyadarkan sang ibu bahwa yang disangkanya anak adalah sebuah boneka yang tidak pernah dilahirkan oleh rahimnya.
Nah bila ada seseorang yang tidak mempercayai bahwa ada Tuhan yang dilahirkan, namun tiba-tiba dia mengucapkan “selamat hari kelahiran Tuhan” kepada orang- yang percaya bahwa ada Tuhan yang bisa dilahirkan, maka bisa dikatakan orang tersebut sedang mengejek kepercayaan orang yang sedang merayakan hari kelahiran Tuhannya. Islam sebagai agama yang mengajarkan pada akhlak yang mulia dengan tegas melarang umatnya untuk mengejek kepercayaan orang lain dengan melarang umatnya untuk mengucapkan sesuatu yang tidak dipercayai oleh ajaran Islam. Islam dengan tegas mengatakan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” dengan membiarkan orang-orang kristen untuk merayakan hari kelahiran Tuhannya tanpa harus mengejek dengan mengucapkan “Selamat Natal