Thursday, January 22, 2009

Budaya Saling Memberi Nasehat

0 comments

Sering kita dengar dari keterangan dan penjelasan para ulama, para kiayi, ustazd, dan muballigh bahwa tugas paling penting dari para Rasul adalah menyampaikan risalah Allah swt. kepada ummat manusia. Urgensi isi risalah para rasul itu sama, yaitu “agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan mengingkari semua bentuk sesembahan selain Allah (thaghut).”

Ternyata selain tugas mulia dan suci ini, para nabi banyak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pemberi nasehat. Hal ini disebabkan karena manusia tidak cukup hanya menerima risalah dakwah Islam saja. Akan tetapi juga membutuhkan pemberi nasehat dan peringatan dalam hidupnya, karena manusia adalah mahluk pelupa dan pelalai, bahkan makhluk yang banyak berbuat kesalahan. Oleh karena itu, Allah swt. menyatakan:

Wal ashri, innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish-shabri.

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr)

Semangat surat Al-Asr ini menjelaskan keharusan setiap orang untuk beriman dan beramal sholeh, jika ingin selamat baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan iman dan amal sholeh saja ternyata masih merugi, sebelum menyempurnakannnya dengan semangat saling memberi nasehat dan bersabar dalam mempertahankan iman, meningkatkan amal shaleh, menegakkan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Sedemikian pentingnya prinsip “saling memberi nasehat” dalam ajaran Islam, maka setiap manusia pasti membutuhkannya, siapapun, kapanpun, dan di manapun dia hidup. Layaklah kalau dikatakan bahwa “saling memberi menasihat “ adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harus ada pada setiap muslim.
Namun sangatlah disayangkan jika ada di antara kita yang menganggap sepele soal nasehat ini. Atau merasa dirinya sudah cukup, sudah pintar, sudah berpengalaman sehingga tidak lagi butuh yang namanya nasehat dari orang lain. Padahal dengan menerima nasehat dari orang lain pertanda adanya kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan dan menunjukkan kelebihan pada orang tersebut.

Kalimat “nasaha” yang artinya nasehat, makna dasarnya adalah menjahit atau menambal dari pakaian yang sobek atau berlubang. Maka orang yang menerima nasehat artinya orang tersebut siap untuk ditutupi kekeruangan, kesalahan, dan aib yang ada pada dirinya. Sedangkan orang yang tidak mau menerima nasehat menunjukkan adanya sifat kesombongan, keangkuhan, dan ketertutupan pada orang tersebut.

Saking sedemikian pentingnya nasehat ini, Nabi saw. bersabda:

عن أَبي رُقَيَّةَ تَمِيم بن أوس الداريِّ - رضي الله عنه - : أنَّ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ((2)) )) رواه مسلم

Dari Abi Amer atau Abi Amrah Abdullah, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan orang-orang biasa.” (HR. Muslim)

Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa memberi dan menerima nasehat adalah berlaku untuk manusia, siapapun dia, apapun kedudukan dan jabatannya, tanpa kecuali.

Hadist di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa agama akan tegak manakala tegak pula sendi-sendinya. Sendi-sendi itu adalah saling menasehati dan saling mengingatkan antara sesama muslim dalam keimanan kepada Allah, keimanan kepada Rasul, dan keimanan kepada Kitab-Nya. Artinya, agar kita selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dari Allah dan Kitab-Nya dan mentauladani sunah-sunah Rasul-Nya.

Sedangkan bentuk nasehat kepada para pemimpin adalah ketaatan dan dukungan kita sebagai rakyat kepada para pemimpin Islam dalam menegakkan kebenaran, mengingatkan mereka jika lalai dan menyimpang dengan cara yang bijak dan kelembutan, meluruskan mereka jika menyimpang dan salah. Sedangkan nasehat untuk orang-orang biasa adalah dengan memberi kasih sayang kepada mereka, memperhatikan kepentingan hajat mereka, menjauhkan hal yang merugikan mereka dan sebagainya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Di dalam Al-Qur’an, Allah swt. mengisahkan tentang bagainama Nabi Musa a.s., seorang nabi dan rasul yang ternyata dapat menerima nasehat dari salah seorang kaumnya.

wa jaa-a rajulun min aqshal madinati yas’aa, qaala yaa muusaa innal mala-a ya’tamiruuna bika liyaqtuluuka, fakhruj innii laka minan nashihiin. Fakharaja minhaa khaa-ifan yataraqqabu, qaala rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin.

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim itu.” (QS. Al-Qashash: 20-21)

Lalu bagaimana dengan kita yang orang biasa yang bukan Nabi dan Rasul? Sudah barang tentu sangatlah membutuhkan nasehat. Kita senantiasa membutuhkan nasehat dari orang lain. Demikian juga harus bersedia memberi nasehat kepada orang lain yang memohon nasehat kepada kita.

وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - : أنَّ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : وفي رواية لمسلم : (( حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ )) .

“Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam: jika berjumpa hendaklah memberi salam; jika mengundang dalam sebuah acara, maka datangilah undangannya; bila dimintai nasehat, maka nasehatilah ia; jika memuji Allah dalam bersin, maka doakanlah; jika sakit, jenguklah ia; dan jika meninggal dunia, maka iringilah ke kuburnya.” (HR. Muslim)

Dengan saling menasehati antara kita, maka akan banyak kita peroleh hikmah dan manfaat dalam kehidupan kita. Akan banyak kita temukan solusi dari berbagai persoalan, baik dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat bangsa bahkan Negara.

Karenanya nasehat itu sangatlah diperlukan untuk menutupi kekurangan dan aib yang ada di antara kita. Karena nasehat itu dapat memberi keuntungan dan keselamatan bagi yang ikhlas menerima dan menjalankannya. Karena saling menasehati itu dapat melunakkan hati dan mendekatkan hubungan antara kita. Karena satu sama lain di antara kita saling membutuhkannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Saling menasehati antara sesama muslim terasa semakin kita perlukan, terutama ketika tersebar upaya menfitnah adu domba antara sesama muslim yang datang dari orang-orang kafir, munafik, dan orang-orang fasik yang ingin melemahkan umat Islam sebagai penduduk terbesar negeri ini. Mereka tidak senang terhadap kesatuan dan persatuan umat Islam.

Demikian pula ketika mendekati hari-hari menjelang pesta demokasi seperti pilkada, pilgub, pemilihan umum, dan sebagainya. Terkadang panasnya suhu politik menyulut sikap orang in-rasional (tidak rasional) dan emosi di tengah masa, bahkan dapat mengarah ke sikap anarkhis dan merusak.

Dalam situasi seperti itu, kita sering lupa akan makna ukhuwah Islam. Lupa tugas amar ma’ruf nahi mungkar dan lupa tugas dan kewajiban untuk saling menasehati dengan cara saling kasih sayang antara kita.

Semoga Allah swt. senantiasa memberikan pemahaman kepada kita akan arti pentingnya saling memberi nasehat antara kita. Semoga kita mampu memberi nasehat dan senang menerima nasehat dari siapapun, selama tidak bertentangan dengan nilai kebenaran dan kabaikan, sehingga kita dapat terhindarkan dari bahaya adu domba dan fitnah yang dapat memecah belah umat Islam, masyarakat, bangsa, dan Negara. Barakallu lii walakum….




dakwatuna.com

Monday, December 01, 2008

iwakz Menerima dan Menyalurkan Qurban Anda :: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah & Qurban ::

0 comments


Imam Abdul Wahid Pedersen, salah seorang tokoh Islam di DENMARK menyebut karikatur pelecehan terbaru terhadap Nabi Muhammad SAW yang direncanakan seorang pengarang DENMARK untuk dilauching dalam waktu dekat itu sebagai tindakan dungu. Ia memperingatkan akan adanya reaksi serupa sebagaimana yang terjadi terhadap penayangan karikatur pelecehan oleh surat kabar Jyllands Posten tiga tahun lalu.

Seorang pengarang asal DENMARK berniat menerbitkan buku baru di awal bulan Desember mendatang yang berisi sejumlah karikatur pelecehan terhadap Rasulullah SAW, sejumlah tokoh politik, tokoh agama dan para penguasa buatan kartunis Geertz Estrjard, pembuat karikatur pelecehan terhadap Nabi SAW yang dimuat surat kabar Jyllands Posten DENMARK pada bulan September tahun 2005 lalu di mana ketika itu menimbulkan berbagai bentuk protes dan unjuk rasa di seantero dunia Islam.

Buku yang mengeritik sebagian tokoh sejarah itu berisi komentar-komentar dan artikel-artikel pengarang dan sejarawan Lars Hivkord, di samping 26 karikatur penjelas lainnya karya kartunis Estrjard. Demikian seperti dimuat situs info Denmark.

Pedersen mengatakan, “Karikatur-karikatur baru itu merupakan bagian dari ‘badai’ lainnya yang tengah dihadapi umat Islam di DENMARK sejak beberapa tahun. Ini adalah tindakan dungu. Saya tidak menyangka Geertz kembali membuatnya setelah polemik yang telah ditimbulkan karikaturnya tiga tahun lalu.”

Pedersen menambahkan dengan nada kesal, “Saya tidak melihat ada tujuan atau makna yang jelas dalam pembuatan karikatur-karikatur tersebut, ataupun momentum pemuatannya sekarang. Karikatur-karikatur itu telah menghilangkan optimisme saya untuk melakukan dialog antar agama di DENMARK.”

Pedersen bahkan memperingatkan, bahwa karikatur-karikatur baru itu bisa jadi menimbulkan ancaman bagi keselamatan masyarakat DENMARK. Namun ia tidak langsung menyiratkan bagaimana bentuk ancaman tersebut tepatnya. Ia mengatakan, “Karikatur-karikatur itu merupakan bukti bahwa si kartunis, Geertz belum mau belajar apa pun sepanjang tiga tahun lalu. Saya tidak mengerti, bagaimana cara ia berpikir? Apakah ia memikirkan keselamatan DENMARK dan rakyatnya.?”

Tokoh dan pemimpin Islam DENMARK itu menuduh si pengarang itu telah melakukan provokasi terhadap umat Islam dan menyeret mereka ke kancah konfrontasi di tengah masyarakat DENMARK. Ia mengatakan, “Kita tahun bahwa Istrjart dan Hivkord memiliki agenda khusus yang bertujuan memprovokasi umat Islam. Saya tidak yakin bahwa dapat diterima oleh akal tindakan mereka dan orang-orang seperti mereka yang terus menerus menjadikan masyarakat DENMAR sebagai tawanan bagi pemikiran dan perbuatan meereka.”

Pedersen menolak untuk membicarakna lebih dalam tentang apa reaksi yang paling baik terhadap provokasi-provokasi tersebut. Ia melihat terlalu dini membicarakan hal itu.

Namun ia mengatakan, “Kami tidak akan tinggal diam. Kami akan mengatakan pendapat kami mengenai karikatur-karikatur ini sebagaimana penolakan kami terhadap karikatur-karikatur terdahulu. Bila ada celah untuk menggugat ke pengadilan, maka kami tidak akan membuang-buang waktu untuk memanfaatkannya.”

ISLAM Berkembang Sangat Pesat Di PAPUA NEU GUINEA!

0 comments




Sejumlah sumber media mengungkap adanya peningkatan yang mencengangkan dalam jumlah penduduk yang berpindah dari agama kristen ke agama Islam di negara Papua Neu Guinea.

Menanggapi sebab animo yang demikian besar tersebut, salah seorang imam setempat, yang saat ini mengikuti pelatihan di Malaysia bernama Syaikh Khalid mengatakan, “Sejumlah besar penduduk Papua Neu Guinea memeluk Islam, bukan karena tidak suka terhadap agama lain melainkan karena kepuasan hati yang mereka dapatkan dalam Islam.”

Seperti yang dilansir jaringan ABC, sebuah stasiun TV Amerika, Syaikh Khalid menambahkan, “Penerapan syiar-syiar Islam jauh lebih mudah ketimbang syiar-syiar agama dan kepercayaan lainnya. Demikian pula, anda di dalam Islam adalah pensehat bagi diri anda sendiri. Anda tidak hanya menyembah Rabbmu di masjid saja, tetapi Dia selalu bersama anda di mana pun anda berada. Oleh karena itu, bila anda tidak bisa pergi ke masjid, maka anda dapat melaksanakan shalat di bawah pohon, di rumah atau di tempat mana saja (selain yang dilarang dan najis-red). Ditambah lagi, perasaan kaum Muslimin yang demikian bersemangat dalam mempererat hati.”

Surat kabar itu juga menyebutkan, sejumlah penduduk Papua Neu Guinea mulai beralih ke agama Islam sejak era 80-an, di abad ke-19. Surat kabar itu menyiratkan adanya beberapa perkampungan yang seluruh penduduknya memeluk Islam. Syaikh Khalid memprediksi, dalam jangka 20 hingga 30 tahun dari sekarang, seluruh penduduk Papua Neu Guinea akan memeluk Islam.

Sekalipun terjadi fenomena lari dari gereja menuju ke pangkuan Islam ini di negara yang dikatakan pendeta Joseph Walterz sebagai ‘negara yang memiliki akar kristen yang kuat,’ namun para pemimpin gereja tetap mengatakan, mereka merasa tidak terancam dengan pertumbuhan Islam yang demikian pesat di negara tersebut.

Surat kabar itu juga menyiratkan adanya sebagian rintangan yang harus dilewati Islam seperti sikap rasis dan islamphobia yang berkembang beberapa hari terakhir. Selain itu, juga ada sebagian aksi kekerasan yang dilakukan terhadap umat Islam dan tempat-tempat ibadah seperti kasus bom yang meledak di salah satu masjid di ibukota, Port Morresby. Hingga saat ini, lobang-lobang bekas tembakan masih tersisa di salah satu jendela masjid.

Sekalipun umat Islam yang sebenarnya justeru menjadi sasaran serangan, Perdana Menteri negara itu malah berkampanye dengan memperingatkan apa yang disebutnya ‘bahaya latin Islam.’ Ia mengatakan, Islam merupakan ancaman serius terhadap keamanan dan persatuan negeri itu. Hal ini membuat Syaikh Khalid melihatnya sebagai buah dari ketidakpahaman terhadap Islam dan tercorengnya wajah Islam yang sebenarnya.

Sekalipun begitu, ia tetap mengatakan, “Kondisi ini akan berubah setelah semakin bertambahnya jumlah penduduk yang memeluk Islam setiap harinya. Allahu Akbar!!

Monday, November 10, 2008

Sa’ad bin Abi Waqqash Pahlawan Umat Islam

0 comments
Sa’ad bin Abi Waqqash adalah sebuah nama yang sering kali disebut oleh umat islam, baik masa lalu maupun masa kini. Dialah orang yang pertama kali disiksa karena keislamannya, muslim pertama yang melemparkan panahnya demi berjuang di jalan Allah, pahlawan Islam yang menghancurkan kerajaan persia, dan dialah salah seorang dari sepuluh orang yang langsung masuk syurga.

Pada masa Jahiliah, Sa’ad bekerja sebagai pembuat panah dan menjualnya. Pekerjaannya ini membuat ia pandai memainkan panah dan menunggang kuda. Terdengarlah sebuah kabar mengenai dakwah Rasulullah untuk masuk Islam olehnya. Dengan sopan, ia menemui Rasulullah di sebuah jalanan pengunungan, kemudian segera mengumumkan keislamannya dan berpegang teguh dengan agama barunya itu. Ketika kaum Quraisy menindas umat Islam di Mekah, dan Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habsyi, ia tetap tinggal bersama Rasulullah, mengalami penindasan dan pemaksaan dari para kafir Quraisy, seperti umat Islam lainnya. Ia juga merasakan kelaparan dan kehausan seperti Rasulullah ketika mereka dikepung di daerah pegunungan Mekah oleh Quraisy.

Sa’ad menyaksikan semua pemandangan itu bersama Rasulullah. Ia pun bergabubg dengan tentara dan ikut berperang, bahkan ia menjadi komandan dalam beberapa perang itu. Ia berjuang dengan sangat gigih dalam perang Badar, dan bertempur dengan penuh kepahitan dalam perang Uhud. Setiap kali ia melemparkan panahnya, ia berseru, “Ya Allah, Goncangkanlah kaki mereka, dan gentarkanlah hati mereka!” sementara itu, Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, kabulkanlah apa yang dikatakan oleh Sa’ad!” Sa’ad pun berperang dengan penuh semangat pada perang Uhud yang merupakan ujian yang berat itu, karena setiap satu hari, ia melemparkan lebih dari seribu panah. Sa’ad adalah salah seorang sahabat yang menjaga dan membela Rasulullah. Ia selalu berdiri di depan Rasulullah, menghujani kafir Quraisy dengan panahnya, sedangkan Rasulullahlah yang memberinya panah. Rasulullah pun berseru kepadanya, “Lemparkan panahmu demi membebaskan ayah dan ibumu, sahabat!"

Sa’ad berperilaku baik seperti perilaku Rasulullah. Ia selalu berbicara dengan Rasulullah karena mereka sangat dekat. Sa’ad pun melatih dirinya untuk dapat mengikuti jejak Rasulullah sampai ketika Rsulullah wafat, ia telah menjadi sahabat Rasulullah yang paling taat. Anas bin Malik menceritakan tentang dia, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba beliau berkata, ‘Sekarang ini, telah datang seorang dari penghuni syurga,’ kemudian Sa’ad bin Abi Waqqash muncul di hadapan kami.”

Abu Bakar RA. telah memilihnya sebagai ‘amil di Hawazan. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, kabar yang menggelisahkan mengenai persiapan perang Persia datang kepadanya. Orang-orang Persia itu ingin mengusir umat Islam dari Iraq. Umar pun segera mengutus tentaranya untuk menyerukan jihad. Mereka membawa seluruh rakyat yang mampu berperang ke Madinah, maka berkumpullah suatu pasukan yang besar di kota itu. Jumlah mereka sekitar 6000-7000 tentara. Kemudian, Khalifah menyatakan bahwa dirinya sendiri yang akan memimpin pasukan itu. Tetapi umat Islam berunding dengannya untuk memilih salah seorang sahabat sebagai pemimpin pasukan itu. setelah itu, Umar mengundang Sa’ad. Ketika ia telah sampai di hadapannya, Umar menyerahkan kepemimpinan pasukan itu kepadanya.

Sa’ad, sang komandan, keluar bersama pasukannya ke Rubu’, Iraq, untuk menghancurkan kekaisaran Persia. Meskipun tentaranya sedikit, tetapi mereka beriman kuat dan mereka seperti gunung yang tinggi. Mereka memenuhi hati mereka dengan iman kepada Allah, karena hanya Allahlah yang mampu memberikan kemenangan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Pada saat itu, Allah tidak menghendaki Sa’ad turut serta dalam perang dan dapat melemparkan panahnya. Hal itu sikarenakan ia sakit dan tidak mampu menunggang kudanya. Tetapi ia tetap memimpin perang yang dahsyat itu meskipun ia duduk di atas punggung kuda dan wajahnya ada di atas pelananya. Ia menjadikan salah seorang prajurit sebagai penghubung antara ia dan pasukannya.

Umat Islam berperang dengan dahsyat sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan. Meskipun medan perang telah penuh dengan para tentara Persia dan para mujahid muslim yang telah gugur, Sa’ad tetap tidak merasa puas, bahkan ia segera mengusir orang-orang Persia yang masih tersisa, dan menduduki daerah Babilonia dan beberapa kotanya, serta menyatukan Iraq dan beberapa negara bagian Persia dengan negara Islam. Ia pun menguasai harta rampasan perang yang tak terhitung nilainya.

Khalifah Umar selalu keluar ke kota setiap hari. Hal ini ia lakukan pada sore hari, dan bertujuan untuk mengetahui segala cerita dan pandangan umat Islam. Sementara itu, ia selalu berdo’a memohon kemenangan bagi pasukan Sa’ad. Dari hal ini, ada sebuah cerita yang unik. Pada suatu hari, Umar sedang duduk seperti biasa. Tiba-tiba, seorang laki-laki lewat dengan tergesa-gesa. Pada saat itu, Umar hanay ingin menemui laki-laki itu dan menanyakan tentang Sa’ad, tetapi laki-laki itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju madinah. Umar pun mengikutinya sampai masuk ke Madinah. Kemudian, orang-orang berdiri dan memberi salam kepada khalifah. Ketika laki-laki itu melihat keadaan tesebut, ia lalu menoleh kepada khalifah dan bertanya dengan lirih, “Kenapa Anda tidak memberitahuku, Tuan?” Umar menjawab, “Tidak apa-apa, saudaraku.” Kemudian kahalifah menerima buku Sa’ad dan membacanya di depan mimbar masjid, yang berbunyi, “… Allah telah memenangkan kita atas orang-orang Persia setelah melalui perang yang pahit dan goncangan yang dahsyat…” uamt Islam pun bertahlil dan bertakbir dengan gembira karena berita kemenangan itu.

Sa’ad sangat menyayangi pasukannya, seperti seorang ibu menyayangi anak-anaknya, maka meraka juga membalas kasih sayangnya itu. Mereka pun selalu patuh padanya. Peperangannya di Iraq berpengaruh terhadap ketakjuban para teman seusianya dan umat Islam pada waktu itu. Mereka pun menjulukinya dengan ‘pahlawan Islam’. Ia telah masuk Islam pada usia 19 tahun. Menurut umat Islam perjalanan hidupnya adalah sebagai seorang panglima yang adil dan setia. Ketika maut menjemputnya, ia meminta kepada nak-anaknya untuk membawakan jubah bulu dari domba yang ia buru ketika perang Badar. Mereka pun segera membawakannya jubah itu. Setelah itu, ia meminta anak-anaknya untuk mengkafaninya dengan jubah tersebut. Kemudian, ia berpulang ke hadapan-Nya pada tahun 55 H, pada usia 72 tahun.

Inilah wafatnya sahabat terakhir yang merupakan salah seorang dari sepuluh sahabat yang masuk syurga.

nilai-nilai Al -Qurâan Untuk Persaudaraan Antar umat Beragama

0 comments

Pelbagai upaya dunia untuk memojokkan Islam terus bergulir. Isu terorisme internasional misalnya, kini terarah pada kaum muslimin dan dampaknya sangat terasa oleh umat Islam seluruh dunia. Islam dalam perspektif media massa Barat kini telah dijadikan simbol terorisme. Memang banyak media massa Barat yang berpikir jernih menolak stigmatisasi Islam terorisme itu. Tapi, media massa yang jujur di Barat saat ini kalah pengaruhnya dibanding media massa yang bias dan manipulatif.

Untuk itulah, kita sebagai umat Islam perlu berpikir jauh ke depan, khususnya mengcounter stigmatisasi terorisme itu dengan mengemukakan dalih-dalih yang naqli sekaligus aqli. Benarkah Al-Qurâan seperti dikatakan sejumlah pengamat Barat – ikut memprovokasi terorisme? Jika tidak, kenapa umat Islam – lagi-lagi menurut sejumlah pengamat Barat – banyak mendalangi terorisme? Barangkali, masalah ini perlu mendapat klarifikasi umat Islam sendiri – khususnya yang berkaitan dengan sumber ajaran pokok Islam, yaitu Al-Qur’an.

Tentu saja, semua orang tahu bahwa pandangan Barat terhadap Islam yang dituduh memprovokasi terorisme sangat menyimpang. Pandangan tersebut sebetulnya stereotip Barat yang disetir kalangan-kalangan tertentu yang anti-Islam. Faktanya, terorisme tidak identik sama sekali dengan Islam. Bahkan aksi terorisme terbanyak justru terjadi di daratan benua Amerika – baik Utara maupun Selatan. Sejumlah pengamat Barat yang kritis seperti Prof. Noam Chomsky dari MIT menyatakan, istilah terorisme itu sendiri muncul di Barat. Dan kenapa muncul di Barat. Karena perilaku terorisme memang berasal dari Barat – bukan dari Timur, apalagi Islam.

Namun demikian, karena politik internasional milenium ketiga sudah teragendakan untuk mengutuk terorisme yang kebetulan, konon – pelaku utama terorisme dunia yang diawali peristiwa sangat fantastis, penghancuran gedung WTC New York, 11 September 2001 dengan menabrakkan dua pesawat penumpang Boeing 747 – adalah orang Islam, maka tertuduh utama terorisme adalah umat Islam. Tuduhan terhadap umat Islam sebagai teroris itu makin kuat lagi setelah peledakan bom di Legian, Bali, 12 Oktober 2002 dengan tertuduh Amrozi, Imam Samudra, dan kawan-kawan, yang lagi-lagi, berasal dari kaum muslimin. Kedua fakta tak terbantah tersebut – disamping fakta-fakta lain – menjadikan Islam di mata internasional, khususnya media massa Barat akrab dan mendukung terorisme. Barangkali, inilah bias terbesar sepanjang zaman yang kini tertimpakan pada umat Islam.
Melihat fakta inilah, banyak kalangan mulai mempertanyakan, kenapa "Islam" akrab dengan terorisme. Jika demikian, "keakraban" itu niscaya erat kaitannya dengan sumber pedoman umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Dari sinilah kita perlu mengambil pijakan untuk menunjukkan bahwa terorisme sangat jauh dengan Islam, bahkan bertentangan secara diametral dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an.
Pertama-tama, untuk mengetahui apa itu agama Islam, orang seharusnya mengetahui dulu akar kata Islam dan turunannya (salam, muslim, salim, dan lain-lain) yang semuanya mengandung makna: kedamaian, keselamatan, ketundukan, kepasrahan, keharmonisan, dan kesesuaian dengan hukum-hukum alam. Dilihat dari kata Islam dan turunannya itulah, tak pelak lagi Islam sebetulnya merupakan "kata generik" untuk menunjukkan sifat-sifat mulia manusia yang suka damai, hidup sejalan dengan hukum alam, harmoni, dan tunduk pada peraturan Tuhan. Lawan dari kata Islam adalah kafir, yang menunjukkan sifat-sifat manusia yang sombong, iri hati, merasa paling benar, dan tidak taat kepada Allah. Dengan melihat kata Islam yang generik itu, rasanya sulit sekali orang menemukan terminologi kekerasan dalam Islam, apalagi terorisme.
Apa yang menarik dari kata Islam dan Al-Islam dalam Qur’an? Kalau kita telusuri lebih jauh, kata Islam dalam Qur’an sifatnya sangat umum, tidak hanya dipakai untuk menyebut nama "umat Muhammad" – tapi juga umat Musa (Yahudi) dan umat Kristen (Nashrani). Nabi Ya’kub, misalnya, sebelum meninggal bertanya kepada anak-anaknya, apa yang akan kamu sembah sepeninggalku (QS2:133)?. Anak-anaknya menjawab: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami semua adalah muslimun (tunduk dan patuh pada Tuhan). Dalam ayat-ayat lain juga disebutkan, kaum hawariyyun (murid-murid dan sahabat Isa) adalah muslim (QS3:52). Begitu pula Musa – Rasul orang Yahudi -- menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Dalam surah Yunus ayat 84 dikisahkan tentang Musa yang sedang berkata-kata dengan umatnya. ‘’Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang muslim". Bahkan lebih jauh lagi, dalam ayat lain, disebutkan sesungguhnya seluruh alam ini "berislam" kepada Tuhan. Membaca ayat-ayat tersebut, bisa disimpulkan kata Islam sebetulnya sangat general – mencakup seluruh agama yang Berketuhanan Yang Maha Esa (tauhid).
Dari sinilah sebetulnya, kalau umat beragama dunia mau berlapang hati dan mau memahami Islam dalam konteks yang esensial, tak akan ditemukan setitik pandangan eksklusivisme dalam Islam yang bisa menimbulkan kecurigaan pada umat-umat lain. Dari verikasi kata Islam dalam Alqur’an inilah, kita perlu membedah kembali makna ayat yang sering dijadikan propaganda kalangan tertentu demi kepentingan politiknya dengan mengatasnamakan Islam. Dari perspektif inilah, kita mereinterpretasi kalimat dalam Al-Qur’an: "Innaddina ‘indallahi’il Islam. Sesungguhnya agama di sisi Tuhan adalah Islam. Kalimat seperti ini, lazimnya diterjemahkan seperti ini: sesungguhnya agama di sisi Tuhan adalah ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan (al-Islam) Bila demikian halnya, maka ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan adalah pedoman ajaran untuk semua agama. Ini artinya, ayat tersebut sangat unversal dan bisa menjamin toleransi yang amat luas bagi umat beragama. Itu pula sebabnya, mengapa Allah menyatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta. Kenapa rahmat? Karena Islam mampu mengayomi dan mengakomodasi semua ajaran agama, asal secara prinsip beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara gamblang dalam surah Al-Baqarah ayat 62, Allah menyatakan: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, baik orang Yahudi, Nashrani, dan orang Syabi’in (agama selain Islam, Kristen, dan Yahudi) -- siapa saja yang benar-benar beriman kepada Allah dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.
Ayat inilah yang di zaman Nabi Muhammad dan awal keislaman menjadi pedoman kaum salaf. Dengan dasar ayat-ayat Qur’an tersebut, kemudian Islam menyebar dengan cepat ke seantero dunia – termasuk Eropa yang saat itu masih dikuasai orang-orang Romawi. Sejarawan George Bernard Shaw misalnya mencatat: banyak orang di Eropa saat itu menyambut kedatangan Islam dan mendukung tentara Islam ketimbang tentara Romawi yang notabene merupakan tentara negaranya. Kenapa? Tulis Shaw: Islam datang untuk menegakkan perdamaian dan keadilan. Itulah yang ditunggu umat Nashrani saat itu yang berada dalam cengkerman fasis dan totaliter Kerajaan Romawi.
Sikap Islam yang sangat peduli dengan penegakan kemanusiaan dan keadilan berdasarkan prinsip-prinsip persamaan di hadapan Tuhan inilah yang telah membesarkan Islam di masa kejayaannya. Islam dan Qur’an saat itu benar-benar menjadi petunjuk umat manusia yang ingin membina persaudaraan antarumat beragama. Dan Al-Qur’an menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, beretnis dan berbangsa-bangsa, semata-mata untuk menguji kualitas siapa yang paling bertakwa. Dan yang paling mulia di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa diantara mereka (QS 49:13). Ini artinya, kata taqwa – sebuah ketundukan pada Allah yang terefleksikan dalam penegakan keadilan, kemanusian, persamaan hak, dan persaudaraan – menjadi ukuran keberimanan seseorang di sisi Tuhan. Dari perspekif tersebut, Islam sebetulnya jauh dengan makna terorisme, anarkisme, dan perbuatan keras lain. Islam adalah kedamaian, keselamatan, dan persaudaraan. Dan harap dicatat: kata yang menjadi pusat – titik tengah dalam Al-Qur’an yang tertera pada surah Al-Kahfi adalah kata " Walyatalattaf" yang artinya kelembutan. Allah itu Maha Lembut (Latif). Oleh Syaefudin Simon

(Penulis adalah pengamat sosial keagamaan)

diposting dari berbagai sumber

Friday, October 10, 2008

Malu itu Penting

0 comments
Budaya Malu, oleh Prof. Dr. Achmad Satori Ismail (IKADI)

Ketika Abu Qilabah keluar untuk sholat berjamaah, bertemu dengan Umar bin Abd Al Aziz yang juga sedang menuju masjid untuk jama’ah sholat ashar. Beliau kelihatan membawa secarik kertas, maka Abu Qilabah bertanya: Wahai Amirul mukminin, geranga kertas apakah ini ? Beliau menjawab ini adalah secarik kertas berisi sebuah hadits yang aku riwayatkan dari Aun bin Abdillah. Aku tertarik sekali dengan hadits ini maka aku tulis dalam secarik kertas ini dan sering aku bawa. Abu Qulabah berkata; ternyata di dalamnya tertera sebuah hadits sbb. “Diriwayatkan dari Aun bin Abdillah, ia berkata: Aku berkata kepada Umar bin Abdil Aziz bahwa aku telah meriwayatkan hadits dari seorang sahabat nabi saw yang kemudian diketahuinya oleh Umar. Aku berkata, ia telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Sesungguhnya rasa malu, iffah ( menjauhi yang syubhat) , dan diamnya lisan bukanlah diamnya hati, serta pemahaman (agama) adalah termasuk dalam keimanan. Semuanya itu termasuk yang menambah dekat kepada akhirat dan mengurangi keduniaan, dan termasuk apa-apa yang lebih banyak menambah keakhiratan.Tapi Sebaliknya, Sesungguhnya ucapan jorok, perangai kasar dan kekikiran termasuk dalam kenifakan (prilaku kemunafikan) dan semuanya itu menambah dekat dengan dunia dan mengurangi keakhiratan serta lebih banyak merugikan akhirat.
(Sunan Ad Darami)

Kejadian di atas menunjukkan betapa besar perhatian Umar bin Abdil Aziz terhadap masalah yang mendorongnya untuk meningkatkan masalah keakhiratannya. Hadits tentang rasa malu ini mendapat perhatian khusus sehingga ditulis dalam secarik kertas yang sering dibawa kemana-mana. sampai waktu berangkat sholat jamaahpun dibawa pula. Di antara isi dari inti hadits ini bahwa rasa malu adalah sebagian dari iman dan bisa menambah urusan keakhiratannya..

Definisi rasa malu

Ketika seorang mau melanggar aturan agama misalnya, maka ia merasakan dalam dirinya sesuatu yang tidak enak, merasa malu ataupun rasa takut. Karena pelanggaran agama atau menentang disiplin bertentangan dengan fitrahnya sehingga menimbulkan rasa malu. Seorang yang ingin mencuri kemudian tidak jadi mencuri, karena dalam dirinya masih ada rasa malu. Namun bila rasa malu ini dikikis terus dengan pelanggaran maka hilanglah rasa malunya dan akhirnya menjadi orang yang memalukan, contohnya seorang wanita yang berpakaian ketat, pada awalnya ada rasa malu yang kemudian lama kelamaan menjadi hilang rasa malunya.

Keutamaan rasa malu:

1. Rasa malu adalah penghalang manusia dari perbuatan dosa

Rasa malu adalah pangkal semua kebaikan dalam kehidupan ini, sehingga kedudukannya dalam seluruh sifat keutamaan adalah bagaikan kepala dengan badan. Maksudnya, tanpa rasa malu maka sifat keutamaan lain akan mati. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Rasa malu tidak mendatangkan selain kebaikan.
Busyair bin Ka’b berkata: Dalam kata-kata bijak tertera :”Sesungguhnya rasa malu memiliki keagungan dan dalam rasa malu terdapat ketenangan” ( HR Bukhori dan Muslim)

2. Rasa malu merupakan salah satu cabang dari iman dan indicator nilai keimanan seseorang

Rasa malu adalah cabang dari iman. Seabagaimana Rasulullah saw menyatakan: “Iman terdiri dari enam puluh cabang lebih dan rasa malu sebagian cabang dari iman ( HR Bukhori)

Rasulullah saw melewati seorang anshor yang sedang menasehati saudaranya tentang rasa malu, maka Rasulullah bersabda: “ Biarkanlah ia memiliki rasa malu karena malu itu termasuk dalam keimanan”
(Bukhori dan Muslim)

Bahkan lebih dari itu, dalam hadits lain dinyatakan: “iman dan rasa malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Bila rasa malu tidak ada maka imanpun akan sirna”( HR Al Hakim)

3. Rasa malu adalah inti akhlak islami

Anas r.a. meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah rasa malu”.

Diriwayatkan dari Ya’la bahwa Rasulullah saw melihat seorang mandi di tanah lapang, maka Rasulullah seketika naik mimbar dan setelah memuji Allah beliau bersabda : “sesungguhnya Allah adalah Maha Malu yang suka menutupi ‘aib yang mencintai rasa malu. Jika salah seorang dari kamu mandi hendaklah ia mandi di tempat tertutup.

4. Rasa malu adalah benteng akhir keislaman seseorang

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa nabi saw telah bersabda: “Sesungguhnya Allah azza Wajalla apabila hendak menghancurkan seorang hamba menarik darinya rasa malu, apabila rasa malu telah dicopot maka tidaklah kau jimpai dia kecuali dlam keadaan tercela dan dibenci, Bila sudah tercela dan dibenci maka akan dicopot darinya sifat amanah. Apabila sifat aamanah telah tercopot maka tidak kau jumpai dia kecuali menjadi seorang yang pengkhianat, bila sudah menjadi pengkhianat maka dicopot darinya sifat kasih sayang. Bila sifat kasih sayang telah dicopot darinya maka tidak kau jumpai dia kecuali dalam keadaan terlaknat dan bila dalam keadaan terlaknat maka akan dicopotlah ikatan islam darinya.

5. Rasa malu merupakan akhlak yang sejalan dengan fitrah manusia

Rasa malu sebagai hiasan semua perbuatan. Dalam hadits yang diriwayatkan Anas r.a. bahwa rasulullah saw telah bersabda: “Tidaklah ada suatu kekejian pada sesuatu perbuatan kecuali akan menjadinya tercela dan tidaklah ada suatu rasa malu pada sesuatu perbuatan kecuali akan menghiasinya.
(Musnad Ahmad)

Diriwayatkan dari Ibnu abbas r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda pada Al Asyaj al ‘Asry ; “Sesungguhnya dalamdirinmu terdapat dua sifat yang dicintai Allah yaitu kesabaran dan rasa malu.
( Musnad ahmad)

Diriwayatkan dari anas r.a. ia berkata: Rasulullah telah bersabda; Orang yang paling kasih sayang dari umatku adalah Abu Bakar r.a, orang yang paling tegas dalam masalah agama dri umatku adalah Umar r.a Orang yang paling merasa malu adalah Utsman r.a. Orang yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Orang yang paling mengerti tentang Al quran adalah Ubay r.a. Orang yang paling mengetahui tentang faroidl adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat memiliki orang keperayaan dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah Ibn al jarroh.
(Musnad Ahmad)

Al Fudleil bin ‘iyadh menyatakan: Ketika manusia sudah tidak memiliki rasa malu lagi maka tidak ada bedanya dengan bianatang.


Karakteristik rasa malu

Diriwayatkan dari abdillah ibni Mas’ud r.a. ia berkata, Rasulullah telah bersabda pada suatu hari : “Milikilah rasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.! Kami (para sahabat) berkata: Wahai rasulullah sesungguhnya kami alhamdulillah telah memiliki rasa malu. Rasulullah bersabda: “ Bukan sekedar itu akan tetapi barangsiapa yang mealu dari allah dengan sesungguhnya, hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya, hendaknya ia menjaga peruta dan aapa yang didalamnya, hendaknya ia mengingat mati dan hari kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat ia akan meninggalkan hiasan dunia . Barangisapa yang mengerjakan itu semua berarti ia telah merasa malu kepada allah dengan sesungguhnya.
(Musnad Ahmad)


Dalam hadits di atas kita dapat menarik empat karakteristik rasa malu yang sebenarnya yaitu:
1. Menjaga kepala dan sekitarnya
2. Menjaga perut dan segala isinya
3. Mengingat mati dan hari kehancuran
4. Menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir.

Berikut ini penjelasan empat karakteristik rasa malu yang sebenarnya:
1. Menjaga kepala dan sekitarnya.

Yang dimaksud dengan menjaga kepala dan sekitaranya adalah sbb.
a. Menjaga indera penglihatannya agar jangan sampai melihat kepada yang haram, mencari-cari kesalahan orang lain dan hal-hal lain yang diharamkan Allah swt. Yang termasuk menjaga indera penglihatan adalah menggunakannya untuk membaca Alquran, mempelajari lmu, merenungi alam semesta dan bersengan-sengan dengan memandang yang halal.
b. Menjaga indera pendengaran dengan menggunakannya untuk mendengarkan bacaan Al Quran, mendengarkan pengajian dan menjauhi mendengarkan ghibah, namimah dsb
c. Menjaga lisan dengan mempergunakannya untuk dzikrullah, memberi nasehat, menyampaikan dakwah dan menjauhi segala ucapa yang diharamkan seperti adudomba, mengumpat, menghina orang lain dsb.
d. Menjaga mulut dengan membiasakan menggunakan siwak, memasukkan makanan yang halal dan menjauhi makanan yang haram. Menjauhi tertawa berlebihan dst.
e. Menjaga muka dengan membiasakan bermuka manis, tersenyum dan ceria setiap ketemu kawan.
f. Menjaga akal dengan menjauhi pemikiran yang sesat seperti pemikiran muktazilah, sekuler, islam liberal dsb.

2. Menjaga perut dan seisinya

Yang dimaksud dengan menjaga perut seisinya adalah:
a. Menjaga hati dengan menanamkan keikhlasan dan melakukan muhasabah serta menjauhi penyakit hati seperti riya’, ujub, sombong, kufur, syirik dsb.
b. Menjaga saluran pernafasan dengan tidak merusak saluran pernafasan seperti meokok dsb.
c. Menjaga kemaluan dengan menjauhi apa-apa yang diharamkan Allah seperti perzinahan dsb.
d. Menjaga saluran pencernaan dengan henya memasukkan makanan dan minuman yang halal saja.

3. Mengingat mati dan hari kiamat.

Mengingat mati akan membawa kita kepada upaya untuk meningkatkan ketakwaan . Kematian cukuplah bagi kita sebagai nasihat agar kita taubat dan kembali kepada Allah. Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa melupakan kebaikan, mengingat dosa, mengingat kematian, melihat orang yang lebih rendah di bidang dunia dan melihat orang yang lebih baik dalam bidang akhirat. Orang yang mengingat kematian akan terdorong untuk menyiapkan bekal menuju akhirat dan melu melanggar larangan Allah

4. Menjadikan akhirat sebagi tujuan akhir.

Assindi mengatakan dalam syarah Sunan Ibni Majah sbb: Pengertian hadits “ Bila kamu tdiak memiliki rasa malu maka berbuatlah semaumu” adalah bahwa rasa malu itu merupakan benteng manusia dari perbuatan buruk. Orang yang memeiliki rasa malu terhadap Allah akan menghalanginya dari pelanggaran agama. Orang yang malu terhadap manusia akan menjauhi semua tardisi jelek manusia. Bila rasa malu ini hilang dari seseorang maka ia tidak peduli lagi terhadap perbuatan dan ucapannya. Perintah dalam hadits ini memiliki makna pemberitahuan yang intinya bahwa setiap orang harus melihat perbuatannya. Bila perbuatan itu tidak menimbulkan rasa malu maka hendaknya ia melakukannya bila sebaliknya ia harus meninggalkannya. (Sunan Ibni Majah syarh Sindi)

Bangsa Indonesia yang sudah tidak lagi memiliki budaya malu, harus kembali melaksanakan empat anjuran Rasulullah secara massif demi menuju kebangkitan menggapai kegemilangan di masa mendatang.


(Prof. Dr. Achmad Satori Ismail)
ikadi.org

Mengundang Kehadiran Malaikat Ke Rumah

0 comments





Tak seorang muslimpun yang tidak menginginkan rumah mereka senantiasa dihadiri oleh para malaikat Allah dan dijauhkan dari syetan. Sebab kehadiran mereka di rumah mereka akan melahirkan aura ketenteraman dan kesejukan dan kedamaian ruhani yang mengalir di rumah itu. Kehadiran mereka akan membuat rumah kita laksana surga.

Diantara para malaikat itu ada yang sengaja keliling untuk menebarkan rahmat dan kedamaian di tengah manusia sebagaiamna syetan berkeliling untuk menebarkan kejahatan di tengah mereka.

Lalu rumah mana saja yang akan dihadiri para malaikat itu?

Diantaranya adalah :
1. Rumah yang diliputi dzikir kepada Allah yang di dalamnya ada ruku dan sujud
2. Rumah yang senantiasa bersih
3. Rumah yang penghuninya adalah orang-orang yang jujur dan menepati janji
4. Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim
5. Rumah yang dihuni oleh orang yang makanannya halal
6. Rumah yang dihuni oleh orang yang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
7. Rumah yang senantiasa ada tilawah Al-Quran
8. Rumah yang dihuni oleh para penuntut ilmu
9. Rumah yang penghuninya ada isteri solehah
10. Rumah yang bersih dari barang-barang haram
11. Rumah yang dihuni oleh orang yang rendah hati, sabar, tawakal, qana’ah, dermawan pemaaf yang
senantiasa bersih lahir batin dan para penghuninya makan tidak terlalu banyak

Di bawah ini akan dipaparkan beberapa dalil yang menunjukkan pada hal di atas.

Mengenai orang-orang yang berada dalam majlis dzikir Rasulullah bersabda : “Jika kalian melewati kebun-kebun surga maka mampirlah di tempat itu! Para sahabat berkata, “Apa yang dimaksud dengan kebun-kebun surga itu wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Kelompok manusia yang berdzikir. Karena sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang senantiasa keliling mencari kelompok manusia yang berdzikir dan jika mereka datang ke tempat mereka malaikat itu dan mengitarinya”, hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam buku Al-Adzkar. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda

“Tidaklah sekali-kali sebuah kaum duduk dengan berdzikir kepada Allah kecuali mereka akan dikelilingi malaikat dan akan disirami rahmat dan akan turun kepada mereka ketenangan. Allah akan menyebutkan tentang mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR. Muslim)

Ini semua menunjukkan bahwa dzikir kepada Allah di rumah kita akan menjadikan malaikat memasuki rumah kita dan akan berada dengan kita. Sebaliknya rumah yang dikosongkan dengan dari dzikir maka malaikat juga akan menjauhinya.

Sementara itu orang yang membcan Al-Quran disebutkan dalam sabdanya : “Sesungguhnya rumah itu akan terasa luas bagi penghuninya, akan didatangi malaikat, dijauhi syetan dan akan membanjir pula kebaikan ke dalamnya, jika dibacakan Al-Quran di dalamnya. Sebaliknya, rumah itu akan terasa sempit bagi penghuninya, akan dijauhi malaikat dan akan didatangi syetan serta tidak akan banyak kebaikan di dalamnya, jika tidak dibacakan Al-Quran” (HR. Ad-Darimi).

Dengan membaca Al-Quran maka akan turun malaikat rahmat, akan datang kebaikan akan muncul ketenangan di dalam rumah kita. Rumah yang tidak ada bacaan Al-Quran maka ketahuilah bahwa rumah itu sebenarnya telah menjadi kuburan walaupun penghuninya masih bernyawa.

Tentang orang yang rajin menjalin silaturahmi, disebutkan dari Abu Hurairah bahwa seorang lelaki pergi untuk mengunjungi saudaranya di sebuah desa yang lain. Maka segera diperintahkan kepada malaikat untuk menemani orang itu. Tatkala malaikat bertemu dengan orang tadi maka dia bertanya : Kemana engkau akan pergi? Lelaki itu menjawab : Aku akan pergi mengunjungi saudara saya di desa itu! Malaikat itu bertanya : Apakah kau memiliki suatu nikmat yang akan kau berikan padanya? Orang itu berkata : Tidak, saya mengunjunginya semata karena saya mencintainya karena Allah! Malaikat itu berkata : “Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu. Allah telah mencintaimu sebagaimana kau mencintai orang itu” (HR. Muslim)

Mengenai penuntut ilmu yang dinaungi sayap malaikat Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya untuk para penuntut ilmu karena suka dengan apa yang sedang dia tuntut” (HR. Tirmidzi).

Tentang rumah orang dermawan yang akan dimasuki malaikat disebutkan dalam sebuah hadits bahwa malaikat akan senantiasa mendoakan mereka : Rasulullah Saw bersabda, “Tiap-tiap pagi malaikat turun, yang satu mendo’akan, “Ya Allah beri gantilah untuk yang menderma, dan yang lain berdo’a, Ya Allah Musnahkan harta si bakhil.”

Rumah-rumah yang di dalamnya ada kejujuran, ada kasih sayang, amanah, ada syukur dan sabar ada taubat dan istighfar akan senantiasa terbuka untuk dimasuki para malaikat sedangkan rumah-rumah yang selain itu maka maka malaikat akan menjauhi rumah tadi.

Rumah-rumah yang akan dijauhi malaikat misalnya, rumah yang di dalamnya ada anjing, ada patung-patung dan gambar-gambar, dan ada bau busuk di rumah itu.

Islam adalah agama yang cinta kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang. Rasulullah bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)" [HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah]

Ibnu Hajar berkata : "Ungkapan malaikat tidak akan memasuki...." menunjukkan malaikat secara umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya)". Tetapi, pendapat lain mengatakan : "Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat tinggal seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan anjing pada hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata : "Telah terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena anjing itu najis, yang lain mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan, sedangkan yang lainnya mengatakan karena di tubuh anjing menempel najis.” Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?" Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. "Kapan anjing ini masuk ?" tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : "Entahlah". Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. "Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab: "Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)" [HR. Muslim].

Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing". [HR Muslim]

Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : "Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci dan malaikat tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan malaikat adalah malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat hafazhah yang mencatat amal manusia. [Lihat Syarah Shahih Muslim 14/94]

Malaikat juga tidak suka masuk rumah yang berbau tidak sedap. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, dan makanan tidak sedap lainnya, maka jangan sekali-kali ia mendekati (memasuki) masjid kami, oleh karena sesungguhnya para malaikat terganggu dari apa-apa yang mengganggu manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juga adanya penghuni rumah yang mengancam saudaranya (muslim) dengan senjata. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa mengarahkan (mengancam) saudaranya (muslim) dengan benda besi (pisau misalnya), maka orang itu dilaknat oleh malaikat, sekalipun orang itu adalah saudara kandungnya sendiri.” (HR Muslim).

Kita semua berharap rumah kita akan senantiasa dikelilingi malaikat dan dijauhkan dari syetan laknat. Maka tidak ada cara lain bagi kita kecuali senantiasa meningkatkan bobot dan kapasitas keimanan, keislaman dan keihsanan kita, setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Peningkatan ini kita butuhkan karena hidup ini tidak pernah henti berputar. Waktu kita terus bergulir dan kita tidak bisa menghentikannya. Umur kita terus mengkerut dan kita tidak bisa lagi merentangnya. Hanya ada satu kata dalam kehidupan kita : beramal saleh dengan segera, tanpa ditunda!!

(Sumber : Samson Rahman, MA , http://swaramuslim.net)