Tuesday, October 08, 2013
Wednesday, September 25, 2013
AGENDA-AGENDA SKI FSSR UNS
DUSUN BINAAN SONO, SRAGEN
Asyiknya berpetualang bersama anak kecil.
Belajar dan mengajarkan Al-Qur'an.
FORKAT 2012
Alhamdulillah, akhirnya forum angkatan 2012 terbentuk atas kerja keras kita semua, terutama bidang Kaderisasi.
SEMANGAT! ^_^
KUNJUNGAN KMIB UGM
Semoga nambah ukhuwah dan saudara.
KUNJUNGAN PANTI JOMPO
Bersama embah-embah akhwat yang energik
RHL
Masa Tak Tergantikan!
Novitasari
Mustaqimatul Haliyah
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta
saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Marilah sejenak merenungi ayat demi ayat
yang tersaji indah dalam untaian kata surat cinta-Nya, Al-‘Asr.
Ketika kita tidak mampu mengatur waktu
dengan baik, maka akan sangat dekat dengan kebinasaan. Waktu ibarat samurai,
yang dapat menjadi senjata namun terkadang juga ia bisa melukai diri kita
sendiri. Tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Manusia telah dikaruniai Allah SWT waktu 24
jam per hari. Akan tetapi betapa sia-sianya ketika waktu itu tidak digunakan
untuk hal-hal yang positif. Justru kita terlena ketika memiliki waktu luang,
kita seenaknya berleha-leha, berpangku tangan. Waktu luang merupakan sebuah
kenikmatan, namun sering dilupakan. Benar yang dikatakan Rasulullah ratusan
tahun yang lalu, “Dua macam kenikmatan dari nikmat-nikmat Allah, kebanyakan
umat manusia merugi padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).
Waktu luang harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, jangan sampai kosong
selamanya. Barangsiapa tidak menyibukkan dirinya dalam kebenaran, tentulah ia
akan disibukkan dalam kebatilan.
Kata Imam Al-Ghozali'
Yang Singkat Itu "WAKTU". Yang Menipu Itu
"DUNIA". Yang Dekat Itu "KEMATIAN". Yang Besar Itu
"HAWA NAFSU". Yang Berat Itu "AMANAH"Yang Sulit Itu
"IKHLAS". Yang Mudah Itu "BERBUAT DOSA". Yang Susah Itu
"SABAR". Yang Sering Lupa Itu "BERSYUKUR".Yang Membakar
Amal Itu "GHIBAH". Yang Mendorong Ke Neraka Itu
"LIDAH". Yang Berharga Itu
"IMAN". Yang Menenteramkan Hati Itu "TEMAN SEJATI". Yang
Ditunggu Allah SWT. Itu "TAUBAT".
Renungan:
Berapa waktu yang kita gunakan untuk
mengingat Allah? Semenit, dua menit, sejam dua jam? Atau tidak sama sekali?
Atau mengingat Allah hanya ketika ada panggilan untuk sholat? Sedangkan berapa
lama waktu untuk mengingat yang lain, berangan-angan yang tidak menentu? Lebih
banyakkah? Padahal ketika kita mengingat Allah di waktu luang, maka Allah akan
mengingat kita di waktu sempit.
Seberapa banyak intensitas kita dalam
membaca atau menghafalkan Al-Qur’an dibanding membuka dan membaca situs
jejaring sosial? Seberapa sering kita mengadu pada Allah atas apa yang menimpa
diri kita? Lebih suka mencurahkan semuanya pada Allah ataukah curhat di status
jejaring sosial? Update status galau, dan menebarkan virus-virus negatif kepada
para muslim yang lain. Niatnya berdakwah aktif, namun tak disangka yang
tercetus dan tertulis hanyalah status melankolis. Harusnya kita jadi muslim
inspiratif yang memanfaatkan waktu dan segala anugerah Allah dengan lebih
positif, kreatif dan inovatif, bukan malah menginspirasi dalam hal
negatif-provokatif.
Waktu begitu cepat berlalu, berputar bak
roda yang melaju kencang, menerjang segala halang-rintang. Waktu adalah
anugerah Allah yang Mahakuasa, yang akan sia-sia jika tak dipergunakan dengan
hal-hal yang penuh manfaat. Waktu kencang melaju, tak kan pernah kembali ke
masa lalu. Waktu melenakan qalbu, mampu membuat semuanya tersipu malu, enggan
memutar semua memori kelabu masa dulu. Ia terus melaju, melaju, dan melaju
tanpa mau menengok ke belakang dahulu. Jika saatnya ia berada pada garis finis,
maka pemiliknya akan merasakan manis atau pahitnya perbuatan dulu ketika waktu
masih berada pada peraduannya.
“Ya Allah,
jadikanlah akhir umurku sebaik-baik umur, akhir amal perbuatanku sebaik-baik
amal dan sebaik-baik hariku hari pertemuanku kepada-Mu.”
Akhwat Keren VS Akhwat Keren
(Novitasari Mustaqimatul Haliyah)
Sebelum membahas mengenai akhwat keren dan akhwat keren (baca: tertinggal), mari kita menilik sejenak perkembangan wanita di zaman globalisasi ini. Tentunya kalian pernah lihat televisi atau mungkin bahkan sering. Di Indonesia televisi merupakan sumber hiburan utama bagi masyarakat Indonesia. Namun, apa yang ditampilkan dalam televisi-televisi tersebut? Kebanyakan media televisi tersebut mengeksploitasi wanita, seolah wanita merupakan barang dagangan dan umpan sebagai pelaris produk barang yang akan dipromosikan.
Wanita merupakan sebuah kunci. Ada pepatah yang mengatakan bahwa di samping lelaki yang perkasa, ada wanita yang perkasa pula. Adapun di sampang laki-laki yang keji, ada wanita yang keji. Hal seperti ini telah dikabarkan dalam surat cinta-Nya QS. An-Nuur: 26, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…”
Mungkin ini yang menyebabkan mengapa wanita bisa disebut sebagai sebuah kunci. Ya, sebuah kunci. Kunci keberhasilan atau pun sebagai kunci perusak.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Imraan: 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Dalam firman Allah tersebut, wanita disebutkan pada urutan pertama. Ini membuktikan bahwa wanita adalah perhiasan dan pengendali. Ayat tersebut juga diperjelas dengan sebuah hadits riwayat Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun setelahku yang lebih membahayakan kaum lelaki daripada kaum wanita (Imam Muslim).
Saatnya kita merenung bahwa sejatinya kita adalah seorang wanita atau seorang akhwat yang mempunyai peranan yang sangat besar untuk mengubah segalanya. Maka, ketika kita telah ditakdirkan menjadi seorang akhwat di zaman globalisasi ini tantangan dan ujian pun menjadi lebih besar. Pengaruh feminisme bertebaran di mana-mana, hanya akhwat-akhwat yang keren saja yang mampu memegang teguh syariat Islam yang dibawa oleh Rasul kita tercinta.
Akhwat keren tidak terpengaruh oleh zaman yang mengikis moral, ia selalu berupaya menjaga izzah atau kehormatan dirinya, akhwat keren adalah akhwat yang berkontribusi aktif untuk dakwah Islamiyah, akhwat keren adalah akhwat yang istiqomah menuntut ilmu agama dan mengamalkannya, serta akhwat keren akan senantiasa menjadi sumber perubahan ke arah yang lebih cerah. Sebaliknya, akhwat keren (baca: tertinggal) adalah akhwat yang terombang-ambing oleh zaman, yang rela menggadaikan izzahnya demi terpenuhi hawa nafsunya, akhwat yang hanya diam dalam menegakkan syariat Islam, rajin menuntut ilmu tetapi malas untuk mengamalkan.
Sebagaimana mestinya, kita adalah makhluk yang diciptakan oleh-Nya dan mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi. Maka semestinya kita harus menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya, menjadi akhwat yang keren dan bukan menjadi akhwat yang keren (baca: tertinggal), menjadi partner sejati ikhwan keren pula dalam mengemban dakwah ini.
Ad-dunya mata’, khoirul mata’ al mar’atus sholihah. Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah wanita sholihah. Akhwat keren, akan selalu mengingat hadits ini dan berusaha menjadi wanita shalihah. Tidak terpedaya oleh dunia tetapi hatinya senantiasa mencintai-Nya. Bibirnya basah dengan dzikir, wajahnya cerah dengan basuhan air wudhu, matanya berkilau karena airmata yang mengalir di setiap sujudnya, tangannya ia gunakan untuk sedekah, kakinya ia gunakan untuk melangkah dalam dakwah, jiwa dan raganya ia serahkan hanya pada-Nya semata. Itulah akhwat keren yang senantiasa dicari sampai ke ujung dunia sekalipun.
Tuesday, August 06, 2013
Romadhon Tanpa Bidadari
Oleh : Nisa Asy-Syifa
(Pemenang Lomba Mading ESR)
Bakda sholat Isya malam ini terasa lebih indah. Langit
begitu anggun dengan hiasan bintang. Seolah ingin menyampaikan isyarat lafadz
tasbih, takbir dan tahmid atas segala keagungan sang pencipta semesta yang
bertahta dalam singgasana arsy. Ayah sedang menata dagangan sisa jualan di
pasar tadi pagi. Kedua adikku yang tengah duduk di TK dan kelas 3 SD tengah bermain di ruang
tamu. Sedang aku sendiri masih termenung memandang kalender mini yang bersandar
di dinding kamarku. Malam ini adalah malam pertama bulan romadhon di tahun ini.
Esok hari semua umat muslim wajib menunaikan puasa. Malam ini juga tepat empat
bulan yang lalu Ibu memenuhi panggilan sang Khaliq. Allah lebih menyayangi
beliau melalui penyakit radang paru-paru. Inilah bulan romadhon pertama yang
dilalui oleh keluargaku tanpa kehadiran Ibu. Rumah ini pun terasa begitu dingin
tanpa kehangatan senyum dan teh manis nan hangat yang selalu tersaji di meja
menemani belajarku, adik-adik serta Ayah. Saat malam hari di bulan romadhon
seperti ini, setelah sholat Isya, Ibu sibuk didapur menyiapkan bahan makanan
yang akan di masak esok hari untuk makan sahur keluarga. Namun, malam ini dapur
pun terasa hampa, tiada lagi harumnya adonan tepung ketan yang di pan, karena
Ibu tahu adik-adiku sangat susah jika makan sahur langsung makan nasi, maka
dengan segala kelihaiannya beliau membuatkan kue-kue yang bisa mengawali makan
sahur keluarga. Allah, betapa kerinduan mengelayuti hati ini akan kehadiran
sosok wanita itu. Jadikan ia bidadari surga-Mu dan pertemukan keluarga kami kembali
di jannah-Mu kelak. Lambat laun ingataku tentang Ibu mulai terasa samar.
Kepalaku mulai terkulai di meja belajar. Rasa kantuk yang begitu nyaman mulai
membawaku ke alam bawah sadar.
Saat aku mulai kembali sadar, kukejap-kejapkan mataku.
Pendengaranku mulai mengawali aliran respon ke seluruh saraf otak. Lantunan
ayat suci Al-Qur’an terdengar dari masjid yang jaraknya 100
meter dari rumah. Segera kulihat jam. Allahu Akbar! Pukul empat lebih lima
menit. Dengan segera kubangunkan Ayah dan adik-adik. Syukur nasi kemarin sore
ternyata masih sisa, cukup untuk makan sahur. Telur ceplok dengan bumbu garam
dapur cukuplah untuk menemani nasi putih yang dingin. Ayah membuat teh hangat.
Meski airnya dari termos dan tidak begitu panas karena tidak ada waktu lagi
untuk merebus air, tapi bisalah untuk melarutkan gula sehingga airnya terasa
manis. Nasi, telur ceplok, dan teh hangat telah siap di meja. Namun, adikku
yang paling bungsu hanya diam memandangi meja makan tanpa sepatah katapun.
“Dik, ayo segera makan sahur, apa perlu mas Hamdan
ambilkan. Nanti kalau tidak segera makan keburu adzan subuh loh.”
“Mas, kok sahur kita tidak seperti dulu lagi ya. Andai Ibu
masih menemani kita, belum menjadi bidadarinya Allah, pasti sahur kita tidak seperti
ini. Mas, Allah pasti sangat senang ya, saat ini ditemani oleh Ibu.
Air mata yang siap mengalir di pelupuk mataku tidak dapat
terbendung lagi. Meski selama ini aku selalu ingin terlihat tegar dan berusaha
untuk tidak menangis di hadapan Ayah dan adik-adik saat Ibu telah tiada, namun
kata-kata polos dari adik bungsuku telah membuncahkan kerinduanku kepada Ibu.
Aku selalu mengatakan bahwa Ibu sekarang telah menjadi bidadari Allah kepada
adik bungsuku, saat ia mulai merenggek ingin bertemu Ibu. Ia masih kecil,
begitu polos, dan belum mengerti apa hakikat kematian. Aku peluk adik bungsuku
erat-erat. Ayah, kulihat tampak tertunduk mencoba menyembunyikan air matanya
meski bagiku itu sia-sia. Inilah romadhon pertamaku tanpa Ibu. Allah, di bulan
mulia ini kukirimkan doa terindah untuknya. Di bulan romadhon pertama tanpa
kehadirannya ini pula, jadikan aku dan adik-adik sebagai simpanan amalan sholeh
untuknya.
Wednesday, July 24, 2013
Aku Pilih Nama Hari Ahad, kalau Kamu?
Oleh : Abdul
Wahid
Dalam menentukan nama-nama hari, bangsa Indonesia mengikuti
penamaan hari menurut bahasa Arab selain nama hari ahad, sehingga menjadi
Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Dalam artikel singkat ini
penulis ingin mengupas tentang perbedaan penamaan pada hari pertama dalam satu
pekan. Berikut ulasan singkat mengenai hal tersebut.
Sejarah penamaan hari Minggu,
Penamaan
Minggu berasal dari bahasa Portugis, (Dominggo)
yang berarti hari Tuhan. Dalam bahasa Melayu kata Domingo dieja
menjadi Dominggu. Lalu sekitar abad 19-20, kata ini dieja lagi menjadi Minggu. Berdasarkan
kepercayaan umat Kristen bahwa pada hari Minggu Yesus bangkit. Maka, umat
kristiani menyebut hari Ahad sebagai hari Minggu. Akan tetapi, umat Islam tidak
memercayai hal tersebut. Sehingga umat Islam lebih memilih pemakaian nama “Ahad” ketimbang “Minggu.”
Sejarah Penamaan hari Ahad,
Ahad
dalam bahasa
Arab (Islam) yang berarti satu. Nama-nama hari dalam bahasa Arab (Islam)
disebut berdasarkan urutan angka yaitu : ahad
(satu), itsnain (dua), tsalatsah (tiga), arba ‘ah (empat), khamsah (lima), sittah
(enam), dan sab’ah (tujuh). Khusus
untuk hari yang keenam bukan disebut sebagai hari Sittah melainkan disebut secara khusus sebagai hari Jumat. Karena
penamaan tentang hari itu sudah diberikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an,
yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jumat secara berjamaah di masjid.
Mengapa tiap akhir pekan harus libur?
Begini
sejarahnya, tradisi libur di hari Ahad itu berasal dari tradisi Romawi Kuno di
Italia. Pada saat itu orang Romawi Kuno beribadah di hari Ahad. Oleh karena
itu, orang Romawi libur di hari Ahad. Selain itu, orang Romawi selalu menandai
hari libur dan hari penting lainnya dengan warna merah. Ketika Kekuasaan Romawi
sampai Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan lain- lain. Maka, tradisi libur
di hari Ahad kemudian diterapkan di Negara-negara jajahan Romawi. Termasuk
Belanda yang kemudian menjajah bangsa Indonesia selama 350 tahun.
Setiap
bangsa mempunyai tradisi libur yang berbeda. Bangsa Arab menganggap hari Jumat
adalah hari untuk Ibadah sehingga bangsa Arab libur. Lain lagi bangsa Yahudi
yang menganggap hari Sabtu adalah hari ibadah, sehingga mereka libur pada hari
Sabtu.
Alasan
lain mengapa tiap hari ahad libur adalah ketika orang sudah bekerja keras selama
6 hari maka butuh waktu untuk bersantai bersama keluarga. Pemerintah Indonesia
menetapkan hari Ahad sebagai libur Nasional. Kalender Negara Kesatuan Republik
Indonesia juga mewarnai hari libur nasional lainnya dengan warna merah. Tradisi
libur di hari Ahad tetap dipakai di banyak negara sampai sekarang. Termasuk
juga menandai tanggal- tanggal penting dengan warna merah.
Namun,
mengapa orang Islam di Indonesia lebih cenderung menyebut hari pertama dalam
satu pekan ini sebagai hari Minggu ketimbang hari Ahad. Mengapa demikian?
Jawabannya
hanya satu. Yaitu umat Islam belum mengetahui tentang arti kata Minggu itu
sendiri. Maka, setelah membaca tulisan ini dan berawal dari diri kita sendiri.
Marilah kita memulai untuk menggunakan kata hari Ahad ketimbang kata hari
Minggu.





