Friday, February 13, 2009

7 KIAT JADI PEMIMPIN SEJATI

0 comments
Ada pemimpin yang dilahirkan dan ada pula yang memang terlahir jadi pemimpin. Masalahnya, menjadi pemimpin yang sejati memang tidak mudah. Banyak kriteria yang harus dimilikinya sehingga membuat bawahan merasa aman dan nyaman dalam bekerja. Nah di bawah ini7 tanda yang memisahkan antara seorang pemimpin sejati dan seorang pemimpin yang kebetulan menjadi pemimpin.


1. Pemimpin sejati mampu memimpin dirinya sendiri.
Memberi instruksi adalah sama mudahnya seperti Anda membagikan kartu nama. Tapi seorang pemimpin sejati harus mengetahui bagaimana caranya memimpin dirinya sendiri. Tidak hanya memberikan contoh baik kepada karyawannya, tetapi ikut berperan serta, bekerja, atau terlibat dalam seluruh pekerjaan. Adalah penting bagi seorang pemimpin memiliki kemampuan memfokuskan dan memotivasi dirinya sendiri seperti dia menganjurkan pada seluruh bawahannya untuk memiliki motivasi.

2. Jangan jadikan kerajaan.
Pemimpin yang bijaksana berarti (seakan-akan) Anda telah mempunyai bakat untuk menduduki posisi tersebut. Tapi ingat, jangan ciptakan sebuah kerajaan. Pemimpin yang secara kebetulan jadi bos, sering juga secara kebetulan membentuk suatu sistem aturan yang tidak perlu dan terlalu mengekang. Aturan bagi karyawan memang perlu, tapi tak perlu berlebihan. Buatlah yang perlu-perlu saja. Memang penting untuk memengaruhi orang-orang dengan siapa Anda bekerja. Tapi ingat, jangan memandang kedudukan Anda sebagai suatu hierarki.

3. Selalu terbuka mencari bentuk baru.
Salah satu kunci keberhasilan dari menjalankan bisnis adalah mengulang-ulang sesuatu yang terbukti berhasil. Masalahnya, seorang pemimpin yang secara kebetulan jadi pemimpin, cenderung terus saja mengulang metode tadi dan tak berani melakukan terobosan baru. Sebaliknya, pemimpin sejati mengakui keberhasilannya tetapi juga
menyadari bahwa selalu ada jalan lain untuk membuat sesuatu lebih baik lagi.

4. Kepribadian kuat & tanggung jawab.
Memang benar Anda yang memegang kekuasaan. Tapi itu tak berarti Anda boleh melakukan apa saja tanpa memikirkan tanggung jawabnya. Jangan hanya menuntut bawahan untuk menyelesaikan tugas dengan baik, tapi Anda pun harus memberi contoh yang
baik. Jangan lupa, Anda adalah panutan mereka.

5. Menuntaskan pekerjaan.
Banyak pemimpin berkata, "permainannya" telah selesai. Padahal, seorang pemimpin sejati, tidak akan pernah merasa selesai bekerja. Tiap hari pasti ada masalah baru yang harus segera dituntaskan. Entah komplain dari klien atau bawahan yang membuat ulah. Jadi, jangan pernah bosan membuat suatu tujuan yang pragmatik dengan ukuran yang dapat dihitung kapan harus dimulai dan berakhir. Kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu merupakan tantangan.

6. Beri penghargaan selayaknya.
Pemimpin sejati harus mempunyai tangan yang kuat sepertisi Popeye setiap kali habis makan bayam. Prestasi yang baik menuntut timbal baik yang riil. Pemimpin yang mempunyai mata jauh ke depan sangat dikagumi dan dihargai, tetapi haruslah dengan sesuatu tindakan yang nyata pula, misalnya memberi promosi, bonus, dan bentuk penghargaan yang nyata atas prestasi karyawan. Hal ini akan membuat karyawan terus termotivasi bekerja dengan baik dan bersikap loyal terhadap perusahaan.

7. Tak berhenti belajar.
Jauh sebelum para eksekutif ber-pendapat bahwa keahlian memimpin berasal dari semacam anugerah yang menakjubkan, tetap saja seorang pemimpin yang dapat dipercaya juga berarti harus terus dan banyak belajar. Bacalah buku-buku mengenai menjadi pemimpin yang efektif, ikutilah seminar-seminar, dan ambil contoh-contoh dari teman-teman yang telah berhasil. Hal ini bisa merupakan suatu pelajaran yang panjang, tetapi yang didapat akan berlipat ganda, dan tidak ternilai harganya.



Senirupa Islam

0 comments



Seni Rupa Islam

Seni rupa Islam adalah seni rupa yang berkembang pada masa lahir hingga akhir masa keemasan Islam. Rentang ini bisa didefinisikan meliputi Jazirah Arab, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa sejak mulai munculnya Islam pada 571 M hingga mulai mundurnya kekuasaan Turki Ottoman. Walaupun sebenarnya Islam dan keseniannya tersebar jauh lebih luas daripada itu dan tetap bertahan hingga sekarang.

Seni rupa Islam adalah suatu bahasan yang khas dengan prinsip seni rupa yang memiliki kekhususan jika dibandingkan dengan seni rupa yang dikenal pada masa ini. Tetapi perannya sendiri cukup besar di dalam perkembangan seni rupa modern. Antara lain dalam pemunculan abstraksi dan filsafat keindahan. Seni rupa Islam juga memunculkan inspirasi pengolahan kaligrafi menjadi motif hias.

Dekorasi di seni rupa Islam lebih banyak untuk menutupi sifat asli medium arsitektur daripada yang banyak ditemukan pada masa ini, perabotan. Dekorasi ini dikenal dengan istilah arabesque.

Peninggalan seni rupa Islam banyak berbentuk masjid, istana, ilustrasi buku, dan permadani.

Ciri dan periodisasi

Seni rupa Islam tidak berdiri sendiri seperti Seni rupa Buddha ataupun Barat. Ia merupakan gabungan dari kesenian daerah-daerah taklukan akibat adanya ekspansi oleh kerajaan bercorak Islam di sekitar Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Kecil, dan Eropa dan penakulukan oleh bangsa Mongol. Daerah ini didefinisikan sebagai Persia, Mesir, Moor, Spanyol, Bizantium, India, Mongolia, dan Seljuk. Selain itu ditemukan pula pengaruh akibat hubungan dagang, seperti Tiongkok. Ini disebabkan miskinnya seni rupa asli Arab pada saat itu walaupun dalam bidang sastra dan musik sebenarnya memperlihatkan hal yang menakjubkan. Keberagaman pengaruh inilah yang membuat seni rupa Islam sangat kaya.

Hal ini terutama bisa dilihat dari arsitektur Islam yang memperlihatkan gabungan corak dari berbagai daerah.

Seni rupa asli Jazirah Arab

Seni rupa asli Jazirah Arab bisa terlihat dari arsitektur di sekitar wilayah Makkah dan Madinah. Kedua kota ini merupakan pusat pemerintahan pada masa Nabi Muhammad.

Biasanya arsitektur asli Jazirah Arab berupa bentuk bangunan segi empat sederhana yang difungsikan sebagai tempat ibadah. Bagian tengah merupakan lapangan terbuka dengan dikelilingi pilar, dinding, dan kamar-kamar. Lapangan berfungsi sebagai tempat salat berjamaah dan di bagian depan kiblat terdapat mimbar untuk khatib yang memberikan ceramah keagamaan.

Contoh bangunan yang masih memperlihatkan ciri arsitektur ini adalah Masjid Nabawi.

Seni rupa Umayyah

Seni rupa pada zaman Umayyah banyak dipengaruhi oleh kesenian Bizantium, sebagai akibat dipindahkannya pusat pemerintahan Islam dari Makkah ke Syria. Seni rupa ini banyak memperlihatkan ciri seni rupa kristen awal, yaitu bentuk-bentuk basilika dan menara. Seperti bisa dilihat di Masjid Umayyah yang awalnya adalah Gereja Johannes di Damaskus. Interior masjid ini digarap seniman-seniman Yunani dari Konstantinopel.

Pada masa ini ragam hias mosaik dan stucco yang dipengaruhi oleh pengulangan geometris sebagai tanda berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Selain itu ciri khas lapangan di tengah masjid mulai diganti oleh ruangan besar yang ditutup kubah.

Pada masa ini pula dikenal kalifah yang sangat memperhatikan kelestarian masjid-masjid, yaitu Kalifah Abdul Malik dan Kalifah Al-walid. Kalifah Abdul Malik membangun Kubah Batu Karang (dikenal pula dengan nama Masjid Quber esh Sakhra dan Masjid Umar) sebagai pengingat tempat dinaikkannya Nabi Muhammad ke langit pada peristiwa Isra-Miraj. Selain itu dibangun pula Masjid Al Aqsa.

Dinasti Umayyah juga meninggalkan banyak istana yang memiliki ciri tersendiri, yaitu bangunan di tengah-tengah gurun pasir yang terasing, walaupun kini banyak yang telah rusak. Contohnya adalah Istana Kusair Amra.

Seni rupa Abbasyiah

Perkembangan seni rupa periode ini dimulai sejak tahun 747 M sebagai akibat keruntuhan Dinasti Umayyah akibat revolusi oleh Keluarga Abbasiyah bersama kelompok Syiah. Seni rupa ini terkonsentrasi di pusat pemerintahan baru di daerah Baghdad dan kemudian pindah ke Sammara, Persia (sekarang wilayah Iran dan Irak). Walaupun sebenarnya Baghdad adalah pusat pemerintahan dan kebudayaan, namun penyerangan oleh bangsa Mongol membuat hampir seluruh peninggalan di daerah ini musnah, sehingga bukti karya lebih banyak didapat di daerah-daerah sekitarnya.

Seni rupa pada zaman ini maju akibat lancarnya perdagangan dengan bangsa Syria, Tiongkok, India, dan bahkan Nusantara. Selain itu dimulai banyak penerjemahan tulisan-tulisan kuno Yunani, sehingga seni ilustrasi berkembang.

Peninggalan penting dari masa ini adalah Masjid Mutawakkil, Masjid Abu Delif, dan bekas istana kalifah. Masjid pada zaman ini berciri mirip bangunan kuno mesopotamia, yaitu menara yang semakin mengecil di bagian ujungnya dan motif hias abjad Kufa, yaitu motif hias dari kaligrafi berbentuk tajam dan kaku. Selain itu ditemukan bentuk tiang melengkung.

Pindahnya kekuasaan dari keluarga Abbasyiah ke Fatimiyah dan dipindahkannya ibukota ke Mesir membuat pengaruh seni Afrika Utara menjadi kuat.

Seni rupa Turki

Pengaruh Turki didapat dari penaklukan Iran oleh bangsa Turki pada abad 11 M. Di bawah kekuasaan ini Bizantium, Iran, Mesopotamia, dan Asia Kecil bersatu di bawah kerajaan bercorak Islam.

Pada masa ini seni rupa yang berkembang adalah dekorasi dan tekstil. Antara lain ditemukan teknik hias batu bata. Selain itu ditemukan kaligrafi dengan abjad nashi dan juga banyak pengaruh keramik-keramik Tiongkok dari dinasti Sung.

Seni rupa Kordoba

Dimulai pada tahun 750, Seni rupa Kordoba meliputi daerah Spanyol dan Moor. Contoh peninggalannya adalah Masjid Kordoba. Ia merupakan gabungan kesenian Yunani klasik dan kesenian lokal yang tidak terorganisasi dengan baik menjadi satu kesatuan. Ciri utamanya adalah pelengkung tapal kuda.

Ciri khas seni rupa dari Moor adalah pemakaian motif yang diinspirasi oleh pengulangan ilmu ukur.

.


diposting dari http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_rupa_Islam dengan perubahan seperlunya

Thursday, January 22, 2009

Budaya Saling Memberi Nasehat

0 comments

Sering kita dengar dari keterangan dan penjelasan para ulama, para kiayi, ustazd, dan muballigh bahwa tugas paling penting dari para Rasul adalah menyampaikan risalah Allah swt. kepada ummat manusia. Urgensi isi risalah para rasul itu sama, yaitu “agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan mengingkari semua bentuk sesembahan selain Allah (thaghut).”

Ternyata selain tugas mulia dan suci ini, para nabi banyak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pemberi nasehat. Hal ini disebabkan karena manusia tidak cukup hanya menerima risalah dakwah Islam saja. Akan tetapi juga membutuhkan pemberi nasehat dan peringatan dalam hidupnya, karena manusia adalah mahluk pelupa dan pelalai, bahkan makhluk yang banyak berbuat kesalahan. Oleh karena itu, Allah swt. menyatakan:

Wal ashri, innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish-shabri.

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr)

Semangat surat Al-Asr ini menjelaskan keharusan setiap orang untuk beriman dan beramal sholeh, jika ingin selamat baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan iman dan amal sholeh saja ternyata masih merugi, sebelum menyempurnakannnya dengan semangat saling memberi nasehat dan bersabar dalam mempertahankan iman, meningkatkan amal shaleh, menegakkan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Sedemikian pentingnya prinsip “saling memberi nasehat” dalam ajaran Islam, maka setiap manusia pasti membutuhkannya, siapapun, kapanpun, dan di manapun dia hidup. Layaklah kalau dikatakan bahwa “saling memberi menasihat “ adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harus ada pada setiap muslim.
Namun sangatlah disayangkan jika ada di antara kita yang menganggap sepele soal nasehat ini. Atau merasa dirinya sudah cukup, sudah pintar, sudah berpengalaman sehingga tidak lagi butuh yang namanya nasehat dari orang lain. Padahal dengan menerima nasehat dari orang lain pertanda adanya kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan dan menunjukkan kelebihan pada orang tersebut.

Kalimat “nasaha” yang artinya nasehat, makna dasarnya adalah menjahit atau menambal dari pakaian yang sobek atau berlubang. Maka orang yang menerima nasehat artinya orang tersebut siap untuk ditutupi kekeruangan, kesalahan, dan aib yang ada pada dirinya. Sedangkan orang yang tidak mau menerima nasehat menunjukkan adanya sifat kesombongan, keangkuhan, dan ketertutupan pada orang tersebut.

Saking sedemikian pentingnya nasehat ini, Nabi saw. bersabda:

عن أَبي رُقَيَّةَ تَمِيم بن أوس الداريِّ - رضي الله عنه - : أنَّ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ((2)) )) رواه مسلم

Dari Abi Amer atau Abi Amrah Abdullah, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan orang-orang biasa.” (HR. Muslim)

Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa memberi dan menerima nasehat adalah berlaku untuk manusia, siapapun dia, apapun kedudukan dan jabatannya, tanpa kecuali.

Hadist di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa agama akan tegak manakala tegak pula sendi-sendinya. Sendi-sendi itu adalah saling menasehati dan saling mengingatkan antara sesama muslim dalam keimanan kepada Allah, keimanan kepada Rasul, dan keimanan kepada Kitab-Nya. Artinya, agar kita selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dari Allah dan Kitab-Nya dan mentauladani sunah-sunah Rasul-Nya.

Sedangkan bentuk nasehat kepada para pemimpin adalah ketaatan dan dukungan kita sebagai rakyat kepada para pemimpin Islam dalam menegakkan kebenaran, mengingatkan mereka jika lalai dan menyimpang dengan cara yang bijak dan kelembutan, meluruskan mereka jika menyimpang dan salah. Sedangkan nasehat untuk orang-orang biasa adalah dengan memberi kasih sayang kepada mereka, memperhatikan kepentingan hajat mereka, menjauhkan hal yang merugikan mereka dan sebagainya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Di dalam Al-Qur’an, Allah swt. mengisahkan tentang bagainama Nabi Musa a.s., seorang nabi dan rasul yang ternyata dapat menerima nasehat dari salah seorang kaumnya.

wa jaa-a rajulun min aqshal madinati yas’aa, qaala yaa muusaa innal mala-a ya’tamiruuna bika liyaqtuluuka, fakhruj innii laka minan nashihiin. Fakharaja minhaa khaa-ifan yataraqqabu, qaala rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin.

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim itu.” (QS. Al-Qashash: 20-21)

Lalu bagaimana dengan kita yang orang biasa yang bukan Nabi dan Rasul? Sudah barang tentu sangatlah membutuhkan nasehat. Kita senantiasa membutuhkan nasehat dari orang lain. Demikian juga harus bersedia memberi nasehat kepada orang lain yang memohon nasehat kepada kita.

وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - : أنَّ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : وفي رواية لمسلم : (( حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ )) .

“Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam: jika berjumpa hendaklah memberi salam; jika mengundang dalam sebuah acara, maka datangilah undangannya; bila dimintai nasehat, maka nasehatilah ia; jika memuji Allah dalam bersin, maka doakanlah; jika sakit, jenguklah ia; dan jika meninggal dunia, maka iringilah ke kuburnya.” (HR. Muslim)

Dengan saling menasehati antara kita, maka akan banyak kita peroleh hikmah dan manfaat dalam kehidupan kita. Akan banyak kita temukan solusi dari berbagai persoalan, baik dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat bangsa bahkan Negara.

Karenanya nasehat itu sangatlah diperlukan untuk menutupi kekurangan dan aib yang ada di antara kita. Karena nasehat itu dapat memberi keuntungan dan keselamatan bagi yang ikhlas menerima dan menjalankannya. Karena saling menasehati itu dapat melunakkan hati dan mendekatkan hubungan antara kita. Karena satu sama lain di antara kita saling membutuhkannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Saling menasehati antara sesama muslim terasa semakin kita perlukan, terutama ketika tersebar upaya menfitnah adu domba antara sesama muslim yang datang dari orang-orang kafir, munafik, dan orang-orang fasik yang ingin melemahkan umat Islam sebagai penduduk terbesar negeri ini. Mereka tidak senang terhadap kesatuan dan persatuan umat Islam.

Demikian pula ketika mendekati hari-hari menjelang pesta demokasi seperti pilkada, pilgub, pemilihan umum, dan sebagainya. Terkadang panasnya suhu politik menyulut sikap orang in-rasional (tidak rasional) dan emosi di tengah masa, bahkan dapat mengarah ke sikap anarkhis dan merusak.

Dalam situasi seperti itu, kita sering lupa akan makna ukhuwah Islam. Lupa tugas amar ma’ruf nahi mungkar dan lupa tugas dan kewajiban untuk saling menasehati dengan cara saling kasih sayang antara kita.

Semoga Allah swt. senantiasa memberikan pemahaman kepada kita akan arti pentingnya saling memberi nasehat antara kita. Semoga kita mampu memberi nasehat dan senang menerima nasehat dari siapapun, selama tidak bertentangan dengan nilai kebenaran dan kabaikan, sehingga kita dapat terhindarkan dari bahaya adu domba dan fitnah yang dapat memecah belah umat Islam, masyarakat, bangsa, dan Negara. Barakallu lii walakum….




dakwatuna.com

Monday, December 01, 2008

iwakz Menerima dan Menyalurkan Qurban Anda :: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah & Qurban ::

0 comments


Imam Abdul Wahid Pedersen, salah seorang tokoh Islam di DENMARK menyebut karikatur pelecehan terbaru terhadap Nabi Muhammad SAW yang direncanakan seorang pengarang DENMARK untuk dilauching dalam waktu dekat itu sebagai tindakan dungu. Ia memperingatkan akan adanya reaksi serupa sebagaimana yang terjadi terhadap penayangan karikatur pelecehan oleh surat kabar Jyllands Posten tiga tahun lalu.

Seorang pengarang asal DENMARK berniat menerbitkan buku baru di awal bulan Desember mendatang yang berisi sejumlah karikatur pelecehan terhadap Rasulullah SAW, sejumlah tokoh politik, tokoh agama dan para penguasa buatan kartunis Geertz Estrjard, pembuat karikatur pelecehan terhadap Nabi SAW yang dimuat surat kabar Jyllands Posten DENMARK pada bulan September tahun 2005 lalu di mana ketika itu menimbulkan berbagai bentuk protes dan unjuk rasa di seantero dunia Islam.

Buku yang mengeritik sebagian tokoh sejarah itu berisi komentar-komentar dan artikel-artikel pengarang dan sejarawan Lars Hivkord, di samping 26 karikatur penjelas lainnya karya kartunis Estrjard. Demikian seperti dimuat situs info Denmark.

Pedersen mengatakan, “Karikatur-karikatur baru itu merupakan bagian dari ‘badai’ lainnya yang tengah dihadapi umat Islam di DENMARK sejak beberapa tahun. Ini adalah tindakan dungu. Saya tidak menyangka Geertz kembali membuatnya setelah polemik yang telah ditimbulkan karikaturnya tiga tahun lalu.”

Pedersen menambahkan dengan nada kesal, “Saya tidak melihat ada tujuan atau makna yang jelas dalam pembuatan karikatur-karikatur tersebut, ataupun momentum pemuatannya sekarang. Karikatur-karikatur itu telah menghilangkan optimisme saya untuk melakukan dialog antar agama di DENMARK.”

Pedersen bahkan memperingatkan, bahwa karikatur-karikatur baru itu bisa jadi menimbulkan ancaman bagi keselamatan masyarakat DENMARK. Namun ia tidak langsung menyiratkan bagaimana bentuk ancaman tersebut tepatnya. Ia mengatakan, “Karikatur-karikatur itu merupakan bukti bahwa si kartunis, Geertz belum mau belajar apa pun sepanjang tiga tahun lalu. Saya tidak mengerti, bagaimana cara ia berpikir? Apakah ia memikirkan keselamatan DENMARK dan rakyatnya.?”

Tokoh dan pemimpin Islam DENMARK itu menuduh si pengarang itu telah melakukan provokasi terhadap umat Islam dan menyeret mereka ke kancah konfrontasi di tengah masyarakat DENMARK. Ia mengatakan, “Kita tahun bahwa Istrjart dan Hivkord memiliki agenda khusus yang bertujuan memprovokasi umat Islam. Saya tidak yakin bahwa dapat diterima oleh akal tindakan mereka dan orang-orang seperti mereka yang terus menerus menjadikan masyarakat DENMAR sebagai tawanan bagi pemikiran dan perbuatan meereka.”

Pedersen menolak untuk membicarakna lebih dalam tentang apa reaksi yang paling baik terhadap provokasi-provokasi tersebut. Ia melihat terlalu dini membicarakan hal itu.

Namun ia mengatakan, “Kami tidak akan tinggal diam. Kami akan mengatakan pendapat kami mengenai karikatur-karikatur ini sebagaimana penolakan kami terhadap karikatur-karikatur terdahulu. Bila ada celah untuk menggugat ke pengadilan, maka kami tidak akan membuang-buang waktu untuk memanfaatkannya.”

ISLAM Berkembang Sangat Pesat Di PAPUA NEU GUINEA!

0 comments




Sejumlah sumber media mengungkap adanya peningkatan yang mencengangkan dalam jumlah penduduk yang berpindah dari agama kristen ke agama Islam di negara Papua Neu Guinea.

Menanggapi sebab animo yang demikian besar tersebut, salah seorang imam setempat, yang saat ini mengikuti pelatihan di Malaysia bernama Syaikh Khalid mengatakan, “Sejumlah besar penduduk Papua Neu Guinea memeluk Islam, bukan karena tidak suka terhadap agama lain melainkan karena kepuasan hati yang mereka dapatkan dalam Islam.”

Seperti yang dilansir jaringan ABC, sebuah stasiun TV Amerika, Syaikh Khalid menambahkan, “Penerapan syiar-syiar Islam jauh lebih mudah ketimbang syiar-syiar agama dan kepercayaan lainnya. Demikian pula, anda di dalam Islam adalah pensehat bagi diri anda sendiri. Anda tidak hanya menyembah Rabbmu di masjid saja, tetapi Dia selalu bersama anda di mana pun anda berada. Oleh karena itu, bila anda tidak bisa pergi ke masjid, maka anda dapat melaksanakan shalat di bawah pohon, di rumah atau di tempat mana saja (selain yang dilarang dan najis-red). Ditambah lagi, perasaan kaum Muslimin yang demikian bersemangat dalam mempererat hati.”

Surat kabar itu juga menyebutkan, sejumlah penduduk Papua Neu Guinea mulai beralih ke agama Islam sejak era 80-an, di abad ke-19. Surat kabar itu menyiratkan adanya beberapa perkampungan yang seluruh penduduknya memeluk Islam. Syaikh Khalid memprediksi, dalam jangka 20 hingga 30 tahun dari sekarang, seluruh penduduk Papua Neu Guinea akan memeluk Islam.

Sekalipun terjadi fenomena lari dari gereja menuju ke pangkuan Islam ini di negara yang dikatakan pendeta Joseph Walterz sebagai ‘negara yang memiliki akar kristen yang kuat,’ namun para pemimpin gereja tetap mengatakan, mereka merasa tidak terancam dengan pertumbuhan Islam yang demikian pesat di negara tersebut.

Surat kabar itu juga menyiratkan adanya sebagian rintangan yang harus dilewati Islam seperti sikap rasis dan islamphobia yang berkembang beberapa hari terakhir. Selain itu, juga ada sebagian aksi kekerasan yang dilakukan terhadap umat Islam dan tempat-tempat ibadah seperti kasus bom yang meledak di salah satu masjid di ibukota, Port Morresby. Hingga saat ini, lobang-lobang bekas tembakan masih tersisa di salah satu jendela masjid.

Sekalipun umat Islam yang sebenarnya justeru menjadi sasaran serangan, Perdana Menteri negara itu malah berkampanye dengan memperingatkan apa yang disebutnya ‘bahaya latin Islam.’ Ia mengatakan, Islam merupakan ancaman serius terhadap keamanan dan persatuan negeri itu. Hal ini membuat Syaikh Khalid melihatnya sebagai buah dari ketidakpahaman terhadap Islam dan tercorengnya wajah Islam yang sebenarnya.

Sekalipun begitu, ia tetap mengatakan, “Kondisi ini akan berubah setelah semakin bertambahnya jumlah penduduk yang memeluk Islam setiap harinya. Allahu Akbar!!

Monday, November 10, 2008

Sa’ad bin Abi Waqqash Pahlawan Umat Islam

0 comments
Sa’ad bin Abi Waqqash adalah sebuah nama yang sering kali disebut oleh umat islam, baik masa lalu maupun masa kini. Dialah orang yang pertama kali disiksa karena keislamannya, muslim pertama yang melemparkan panahnya demi berjuang di jalan Allah, pahlawan Islam yang menghancurkan kerajaan persia, dan dialah salah seorang dari sepuluh orang yang langsung masuk syurga.

Pada masa Jahiliah, Sa’ad bekerja sebagai pembuat panah dan menjualnya. Pekerjaannya ini membuat ia pandai memainkan panah dan menunggang kuda. Terdengarlah sebuah kabar mengenai dakwah Rasulullah untuk masuk Islam olehnya. Dengan sopan, ia menemui Rasulullah di sebuah jalanan pengunungan, kemudian segera mengumumkan keislamannya dan berpegang teguh dengan agama barunya itu. Ketika kaum Quraisy menindas umat Islam di Mekah, dan Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habsyi, ia tetap tinggal bersama Rasulullah, mengalami penindasan dan pemaksaan dari para kafir Quraisy, seperti umat Islam lainnya. Ia juga merasakan kelaparan dan kehausan seperti Rasulullah ketika mereka dikepung di daerah pegunungan Mekah oleh Quraisy.

Sa’ad menyaksikan semua pemandangan itu bersama Rasulullah. Ia pun bergabubg dengan tentara dan ikut berperang, bahkan ia menjadi komandan dalam beberapa perang itu. Ia berjuang dengan sangat gigih dalam perang Badar, dan bertempur dengan penuh kepahitan dalam perang Uhud. Setiap kali ia melemparkan panahnya, ia berseru, “Ya Allah, Goncangkanlah kaki mereka, dan gentarkanlah hati mereka!” sementara itu, Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, kabulkanlah apa yang dikatakan oleh Sa’ad!” Sa’ad pun berperang dengan penuh semangat pada perang Uhud yang merupakan ujian yang berat itu, karena setiap satu hari, ia melemparkan lebih dari seribu panah. Sa’ad adalah salah seorang sahabat yang menjaga dan membela Rasulullah. Ia selalu berdiri di depan Rasulullah, menghujani kafir Quraisy dengan panahnya, sedangkan Rasulullahlah yang memberinya panah. Rasulullah pun berseru kepadanya, “Lemparkan panahmu demi membebaskan ayah dan ibumu, sahabat!"

Sa’ad berperilaku baik seperti perilaku Rasulullah. Ia selalu berbicara dengan Rasulullah karena mereka sangat dekat. Sa’ad pun melatih dirinya untuk dapat mengikuti jejak Rasulullah sampai ketika Rsulullah wafat, ia telah menjadi sahabat Rasulullah yang paling taat. Anas bin Malik menceritakan tentang dia, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba beliau berkata, ‘Sekarang ini, telah datang seorang dari penghuni syurga,’ kemudian Sa’ad bin Abi Waqqash muncul di hadapan kami.”

Abu Bakar RA. telah memilihnya sebagai ‘amil di Hawazan. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, kabar yang menggelisahkan mengenai persiapan perang Persia datang kepadanya. Orang-orang Persia itu ingin mengusir umat Islam dari Iraq. Umar pun segera mengutus tentaranya untuk menyerukan jihad. Mereka membawa seluruh rakyat yang mampu berperang ke Madinah, maka berkumpullah suatu pasukan yang besar di kota itu. Jumlah mereka sekitar 6000-7000 tentara. Kemudian, Khalifah menyatakan bahwa dirinya sendiri yang akan memimpin pasukan itu. Tetapi umat Islam berunding dengannya untuk memilih salah seorang sahabat sebagai pemimpin pasukan itu. setelah itu, Umar mengundang Sa’ad. Ketika ia telah sampai di hadapannya, Umar menyerahkan kepemimpinan pasukan itu kepadanya.

Sa’ad, sang komandan, keluar bersama pasukannya ke Rubu’, Iraq, untuk menghancurkan kekaisaran Persia. Meskipun tentaranya sedikit, tetapi mereka beriman kuat dan mereka seperti gunung yang tinggi. Mereka memenuhi hati mereka dengan iman kepada Allah, karena hanya Allahlah yang mampu memberikan kemenangan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Pada saat itu, Allah tidak menghendaki Sa’ad turut serta dalam perang dan dapat melemparkan panahnya. Hal itu sikarenakan ia sakit dan tidak mampu menunggang kudanya. Tetapi ia tetap memimpin perang yang dahsyat itu meskipun ia duduk di atas punggung kuda dan wajahnya ada di atas pelananya. Ia menjadikan salah seorang prajurit sebagai penghubung antara ia dan pasukannya.

Umat Islam berperang dengan dahsyat sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan. Meskipun medan perang telah penuh dengan para tentara Persia dan para mujahid muslim yang telah gugur, Sa’ad tetap tidak merasa puas, bahkan ia segera mengusir orang-orang Persia yang masih tersisa, dan menduduki daerah Babilonia dan beberapa kotanya, serta menyatukan Iraq dan beberapa negara bagian Persia dengan negara Islam. Ia pun menguasai harta rampasan perang yang tak terhitung nilainya.

Khalifah Umar selalu keluar ke kota setiap hari. Hal ini ia lakukan pada sore hari, dan bertujuan untuk mengetahui segala cerita dan pandangan umat Islam. Sementara itu, ia selalu berdo’a memohon kemenangan bagi pasukan Sa’ad. Dari hal ini, ada sebuah cerita yang unik. Pada suatu hari, Umar sedang duduk seperti biasa. Tiba-tiba, seorang laki-laki lewat dengan tergesa-gesa. Pada saat itu, Umar hanay ingin menemui laki-laki itu dan menanyakan tentang Sa’ad, tetapi laki-laki itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju madinah. Umar pun mengikutinya sampai masuk ke Madinah. Kemudian, orang-orang berdiri dan memberi salam kepada khalifah. Ketika laki-laki itu melihat keadaan tesebut, ia lalu menoleh kepada khalifah dan bertanya dengan lirih, “Kenapa Anda tidak memberitahuku, Tuan?” Umar menjawab, “Tidak apa-apa, saudaraku.” Kemudian kahalifah menerima buku Sa’ad dan membacanya di depan mimbar masjid, yang berbunyi, “… Allah telah memenangkan kita atas orang-orang Persia setelah melalui perang yang pahit dan goncangan yang dahsyat…” uamt Islam pun bertahlil dan bertakbir dengan gembira karena berita kemenangan itu.

Sa’ad sangat menyayangi pasukannya, seperti seorang ibu menyayangi anak-anaknya, maka meraka juga membalas kasih sayangnya itu. Mereka pun selalu patuh padanya. Peperangannya di Iraq berpengaruh terhadap ketakjuban para teman seusianya dan umat Islam pada waktu itu. Mereka pun menjulukinya dengan ‘pahlawan Islam’. Ia telah masuk Islam pada usia 19 tahun. Menurut umat Islam perjalanan hidupnya adalah sebagai seorang panglima yang adil dan setia. Ketika maut menjemputnya, ia meminta kepada nak-anaknya untuk membawakan jubah bulu dari domba yang ia buru ketika perang Badar. Mereka pun segera membawakannya jubah itu. Setelah itu, ia meminta anak-anaknya untuk mengkafaninya dengan jubah tersebut. Kemudian, ia berpulang ke hadapan-Nya pada tahun 55 H, pada usia 72 tahun.

Inilah wafatnya sahabat terakhir yang merupakan salah seorang dari sepuluh sahabat yang masuk syurga.

nilai-nilai Al -Qurâan Untuk Persaudaraan Antar umat Beragama

0 comments

Pelbagai upaya dunia untuk memojokkan Islam terus bergulir. Isu terorisme internasional misalnya, kini terarah pada kaum muslimin dan dampaknya sangat terasa oleh umat Islam seluruh dunia. Islam dalam perspektif media massa Barat kini telah dijadikan simbol terorisme. Memang banyak media massa Barat yang berpikir jernih menolak stigmatisasi Islam terorisme itu. Tapi, media massa yang jujur di Barat saat ini kalah pengaruhnya dibanding media massa yang bias dan manipulatif.

Untuk itulah, kita sebagai umat Islam perlu berpikir jauh ke depan, khususnya mengcounter stigmatisasi terorisme itu dengan mengemukakan dalih-dalih yang naqli sekaligus aqli. Benarkah Al-Qurâan seperti dikatakan sejumlah pengamat Barat – ikut memprovokasi terorisme? Jika tidak, kenapa umat Islam – lagi-lagi menurut sejumlah pengamat Barat – banyak mendalangi terorisme? Barangkali, masalah ini perlu mendapat klarifikasi umat Islam sendiri – khususnya yang berkaitan dengan sumber ajaran pokok Islam, yaitu Al-Qur’an.

Tentu saja, semua orang tahu bahwa pandangan Barat terhadap Islam yang dituduh memprovokasi terorisme sangat menyimpang. Pandangan tersebut sebetulnya stereotip Barat yang disetir kalangan-kalangan tertentu yang anti-Islam. Faktanya, terorisme tidak identik sama sekali dengan Islam. Bahkan aksi terorisme terbanyak justru terjadi di daratan benua Amerika – baik Utara maupun Selatan. Sejumlah pengamat Barat yang kritis seperti Prof. Noam Chomsky dari MIT menyatakan, istilah terorisme itu sendiri muncul di Barat. Dan kenapa muncul di Barat. Karena perilaku terorisme memang berasal dari Barat – bukan dari Timur, apalagi Islam.

Namun demikian, karena politik internasional milenium ketiga sudah teragendakan untuk mengutuk terorisme yang kebetulan, konon – pelaku utama terorisme dunia yang diawali peristiwa sangat fantastis, penghancuran gedung WTC New York, 11 September 2001 dengan menabrakkan dua pesawat penumpang Boeing 747 – adalah orang Islam, maka tertuduh utama terorisme adalah umat Islam. Tuduhan terhadap umat Islam sebagai teroris itu makin kuat lagi setelah peledakan bom di Legian, Bali, 12 Oktober 2002 dengan tertuduh Amrozi, Imam Samudra, dan kawan-kawan, yang lagi-lagi, berasal dari kaum muslimin. Kedua fakta tak terbantah tersebut – disamping fakta-fakta lain – menjadikan Islam di mata internasional, khususnya media massa Barat akrab dan mendukung terorisme. Barangkali, inilah bias terbesar sepanjang zaman yang kini tertimpakan pada umat Islam.
Melihat fakta inilah, banyak kalangan mulai mempertanyakan, kenapa "Islam" akrab dengan terorisme. Jika demikian, "keakraban" itu niscaya erat kaitannya dengan sumber pedoman umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Dari sinilah kita perlu mengambil pijakan untuk menunjukkan bahwa terorisme sangat jauh dengan Islam, bahkan bertentangan secara diametral dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an.
Pertama-tama, untuk mengetahui apa itu agama Islam, orang seharusnya mengetahui dulu akar kata Islam dan turunannya (salam, muslim, salim, dan lain-lain) yang semuanya mengandung makna: kedamaian, keselamatan, ketundukan, kepasrahan, keharmonisan, dan kesesuaian dengan hukum-hukum alam. Dilihat dari kata Islam dan turunannya itulah, tak pelak lagi Islam sebetulnya merupakan "kata generik" untuk menunjukkan sifat-sifat mulia manusia yang suka damai, hidup sejalan dengan hukum alam, harmoni, dan tunduk pada peraturan Tuhan. Lawan dari kata Islam adalah kafir, yang menunjukkan sifat-sifat manusia yang sombong, iri hati, merasa paling benar, dan tidak taat kepada Allah. Dengan melihat kata Islam yang generik itu, rasanya sulit sekali orang menemukan terminologi kekerasan dalam Islam, apalagi terorisme.
Apa yang menarik dari kata Islam dan Al-Islam dalam Qur’an? Kalau kita telusuri lebih jauh, kata Islam dalam Qur’an sifatnya sangat umum, tidak hanya dipakai untuk menyebut nama "umat Muhammad" – tapi juga umat Musa (Yahudi) dan umat Kristen (Nashrani). Nabi Ya’kub, misalnya, sebelum meninggal bertanya kepada anak-anaknya, apa yang akan kamu sembah sepeninggalku (QS2:133)?. Anak-anaknya menjawab: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami semua adalah muslimun (tunduk dan patuh pada Tuhan). Dalam ayat-ayat lain juga disebutkan, kaum hawariyyun (murid-murid dan sahabat Isa) adalah muslim (QS3:52). Begitu pula Musa – Rasul orang Yahudi -- menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Dalam surah Yunus ayat 84 dikisahkan tentang Musa yang sedang berkata-kata dengan umatnya. ‘’Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepadaNya saja jika kamu benar-benar orang muslim". Bahkan lebih jauh lagi, dalam ayat lain, disebutkan sesungguhnya seluruh alam ini "berislam" kepada Tuhan. Membaca ayat-ayat tersebut, bisa disimpulkan kata Islam sebetulnya sangat general – mencakup seluruh agama yang Berketuhanan Yang Maha Esa (tauhid).
Dari sinilah sebetulnya, kalau umat beragama dunia mau berlapang hati dan mau memahami Islam dalam konteks yang esensial, tak akan ditemukan setitik pandangan eksklusivisme dalam Islam yang bisa menimbulkan kecurigaan pada umat-umat lain. Dari verikasi kata Islam dalam Alqur’an inilah, kita perlu membedah kembali makna ayat yang sering dijadikan propaganda kalangan tertentu demi kepentingan politiknya dengan mengatasnamakan Islam. Dari perspektif inilah, kita mereinterpretasi kalimat dalam Al-Qur’an: "Innaddina ‘indallahi’il Islam. Sesungguhnya agama di sisi Tuhan adalah Islam. Kalimat seperti ini, lazimnya diterjemahkan seperti ini: sesungguhnya agama di sisi Tuhan adalah ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan (al-Islam) Bila demikian halnya, maka ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan adalah pedoman ajaran untuk semua agama. Ini artinya, ayat tersebut sangat unversal dan bisa menjamin toleransi yang amat luas bagi umat beragama. Itu pula sebabnya, mengapa Allah menyatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta. Kenapa rahmat? Karena Islam mampu mengayomi dan mengakomodasi semua ajaran agama, asal secara prinsip beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara gamblang dalam surah Al-Baqarah ayat 62, Allah menyatakan: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, baik orang Yahudi, Nashrani, dan orang Syabi’in (agama selain Islam, Kristen, dan Yahudi) -- siapa saja yang benar-benar beriman kepada Allah dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.
Ayat inilah yang di zaman Nabi Muhammad dan awal keislaman menjadi pedoman kaum salaf. Dengan dasar ayat-ayat Qur’an tersebut, kemudian Islam menyebar dengan cepat ke seantero dunia – termasuk Eropa yang saat itu masih dikuasai orang-orang Romawi. Sejarawan George Bernard Shaw misalnya mencatat: banyak orang di Eropa saat itu menyambut kedatangan Islam dan mendukung tentara Islam ketimbang tentara Romawi yang notabene merupakan tentara negaranya. Kenapa? Tulis Shaw: Islam datang untuk menegakkan perdamaian dan keadilan. Itulah yang ditunggu umat Nashrani saat itu yang berada dalam cengkerman fasis dan totaliter Kerajaan Romawi.
Sikap Islam yang sangat peduli dengan penegakan kemanusiaan dan keadilan berdasarkan prinsip-prinsip persamaan di hadapan Tuhan inilah yang telah membesarkan Islam di masa kejayaannya. Islam dan Qur’an saat itu benar-benar menjadi petunjuk umat manusia yang ingin membina persaudaraan antarumat beragama. Dan Al-Qur’an menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, beretnis dan berbangsa-bangsa, semata-mata untuk menguji kualitas siapa yang paling bertakwa. Dan yang paling mulia di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa diantara mereka (QS 49:13). Ini artinya, kata taqwa – sebuah ketundukan pada Allah yang terefleksikan dalam penegakan keadilan, kemanusian, persamaan hak, dan persaudaraan – menjadi ukuran keberimanan seseorang di sisi Tuhan. Dari perspekif tersebut, Islam sebetulnya jauh dengan makna terorisme, anarkisme, dan perbuatan keras lain. Islam adalah kedamaian, keselamatan, dan persaudaraan. Dan harap dicatat: kata yang menjadi pusat – titik tengah dalam Al-Qur’an yang tertera pada surah Al-Kahfi adalah kata " Walyatalattaf" yang artinya kelembutan. Allah itu Maha Lembut (Latif). Oleh Syaefudin Simon

(Penulis adalah pengamat sosial keagamaan)

diposting dari berbagai sumber